Jelajahi Yahoo! Bersama Teman-Teman Anda

Jelajahi berita, video, dan banyak lagi berdasarkan apa yang dibaca dan ditonton teman-teman Anda. Publikasikan aktivitas Anda sendiri dan dapatkan kendali penuh.

Pertama-tama,

AKTIVITAS TEMAN DI YAHOO!

    ‘Think Like an Entrepreneur’

    Sandiaga Salahuddin Uno. Foto: Tempo/Mazmur A SembiringSandiaga Salahuddin Uno. Foto: Tempo/Mazmur A Sembiring















    Salah satu pengusaha muda paling kaya di Indonesia Sandiaga Salahuddin Uno bercerita soal jatuh bangun membangun usaha dan pendapatnya mengenai peluang usaha yang masih terbuka di Indonesia. Ditemui Yahoo! Indonesia di kantornya di Jakarta Selatan, Sandiaga mengaku sempat mendapatkan cobaan yang membuatnya berpikir untuk menyerah.

    T: Apa kesibukan Anda sekarang?

    J: Aku fokus di Kadin, tapi tahun ini lebih banyak ke pengembangan bisnis. Banyak waktuku habis di Saratoga tapi di Recapital juga masih menduduki jabatan. Juga sebagai komisaris di beberapa anak usaha, ikut membantu tapi nggak day to day, hanya big picture dan strategy, dan memantau sebagai pemegang saham.

    T: Anda kan terpilih sebagai salah satu orang terkaya dan termuda di Indonesia versi majalah Forbes, bagaimana sih kisah suksesnya?

    J: Memulai usaha itu, hampir semua orang termasuk saya tak pernah terpikir bahwa 10 atau 14 tahun ke depan akan mencapai pencapaian seperti ini. Bagi saya bisnis itu adalah survival mode. Betul-betul terpaksa karena di-PHK. Ada krisis tahun 1997-1998 yang memaksa banyak perusahaan melakukan PHK dan saya salah satunya. Tapi itu ternyata membuka satu peluang di tengah-tengah krisis tersebut. Kalau dilihat potretnya sekarang memang sukses tapi ketika dilihat sejarahnya, banyak jatuh bangun. Ini yang saya alami, kesulitan membangun usaha sangat terasa dalam tahun-tahun pertama sampai tiga tahun pertama.

    T: Apa perubahan yang terbesar dari karyawan menjadi pengusaha?

    J: Sebagai pengusaha, kita harus mengubah paradigma dari seorang karyawan yang biasanya-- walaupun memberi yang terbaik-- pada akhir bulan sudah dijamin dengan segala tunjangan dan gaji yang bakal ada di rekening koran. Itu membentuk sifat karyawan yang tidak suka mengambil risiko. Seorang pengusaha jatuh bangun karena bisnis penuh risiko. Kami melihat bagaimana tanggung jawab membesarkan perusahaan dan menciptakan lapangan kerja itu tidak mudah. (Baca juga: Rahasia Sikap Mental Pengusaha)

    Pada tahun-tahun pertama itu --Recapital maupun Saratoga-- saya mengalami susahnya menjalin usaha. Sulitnya mendapatkan kepercayaan dari klien dan investor. Ada suatu periode yang cukup lama, enam bulan kami sama sekali tidak mendapat order. Sampai terpikir apakah benar langkah kami menjadi pengusaha? Apakah memang mental kami lebih cocok jadi karyawan?

    Tapi dengan kerja keras dan pantang menyerah, alhamdulillah. Itu nasihat orang tua selalu, ketika kita kerja keras tanpa pamrih dan ikhlas, rejeki yang akan menghampiri. Itu yang kami percaya terus.

    Walaupun awalnya kami susah, jatuh bangun, hampir beberapa kali tak bisa bayar gaji pegawai. Kami jalani terus dan alhamdulillah sekarang sudah bisa membiayai 2 grup, Recapital dan Saratoga. Kami sekarang punya pondasi yang kuat dan bisa memberikan pekerjaan kepada 20 ribu karyawan.

    T: Apa titik balik dari saat jatuh bangun tersebut menjadi usaha yang pondasinya kuat?

    J: Titik baliknya saya rasa sekitar 4-5 tahun setelah mulai menapak jadi pengusaha. Saya melihat bahwa ternyata kalau kita berikan 100 persen dan full comitment terhadap usaha hasilnya akan baik. Para pelanggan, klien, nasabah maupun investor yang mempercayai kami untuk mengelola dana maupun perusahaan yang kami beri advice untuk melakukan restrukturisasi bisa memberikan kepercayaan.

    Melihat sosok pengusaha muda, rupanya mereka tidak serta merta menilai pengusaha muda minim pengalaman. Ternyata mereka akan memberikan kepercayaan kalau pengusaha mudanya bisa menyerap begitu banyak pengalaman, bisa menghasilkan solusi dari permasalahan keuangan dan bisnis yang mereka hadapi.

    T: Apakah Anda sempat berpikir untuk menyerah?

    J: Tahun ketiga itu memang sempat terpikir untuk meneruskan atau mundur. Waktu itu sedang susah-susahnya melihat ada klien yang tak bayar tagihan, susah memotivasi karyawan. Ada seribu pertanyaan di kepala kami, teruskan atau mundur.

    Di situlah keteguhan dan loyalitas entrepreneur diuji. Apakah dia loyal terhadap tujuan menjadi entrepreneur. Tujuan saya waktu itu adalah sukses dan memberi manfaat yang lebih untuk sekitar dengan menciptakan lapangan kerja. Kalau kita fokus dan loyal di tujuan kita, insya allah kita akan mendapatkan titik balik di tujuan tersebut.

    T:  Saat Anda dipecat tahun 1997, apa ketakutan terbesar saat itu?

    J:  Waktu itu saya baru punya keluarga. Saya berpikir bagaimana kasih makan anak saya. Anak saya waktu itu baru berumur beberapa bulan. Saya sudah dibiasakan selama 8 tahun bekerja dan menerima income rutin dan nggak pusing terhadap uang belanjaan. Tiba-tiba saya mendapati kenyataan ini. Dunia betul betul gelap, pekat. Seperti nggak ada solusi.Akhirnya saya putuskan, survival insting saja, kembali ke Indonesia. Saya kembali ke rumah orang tua, karena rumah saya ludes. Harta saya habis dijaminkan ke bank untuk investasi di pasar saham. Waktu itu semua saham kan jebol.

    Saya putus asa, tak percaya diri, teman-teman saya memandang saya lain. Di kultur kita kegagalan dianggap sebagai akhir dari segalanya. Padahal di dunia entrepreneur, kegagalan adalah akhir dari suatu chapter yang baru. Chapter yang akan dimulai adalah dimana seseorang bisa belajar dari kegagalan dan menjadikannya sebagai anak tangga menuju kesuksesan.

    T: Siapa yang paling berjasa dalam momen kebangkitan Anda?

    J:  Keluarga pastinya. Momen kebangkitan ini kalau saya nggak punya istri dan orang tua yang memberi kesempatan dan memberi dukungan, doa. Saya beruntung ketemu teman SMA saya Rosan (Rosan Perkasa Roeslani, Direktur Utama PT Recapital Advisors) dan kami memulai Recapital. Saya juga beruntung dipertemukan lagi dengan pak Edwin Suryajaya yang sudah saya kenal 5 tahun sebelumnya. Kami mulai menata bisnis apa yang menurut saya akan bisa berkembang. Bisnis yang bukan hanya survival tapi juga usaha yang akan memberi penghidupan pada orang banyak. Saya selain berhutang budi kepada ibu saya juga pada pak William Suryajaya yang memberikan mentorship selama 2 tahun intensif, tentang bagaimana pengusaha tidak hanya mencari keuntungan tapi juga menjadi aset bangsa, saya belajar banyak soal itu.

    T: Apakah peluang industri ekstraktif di Indonesia masih terbuka?

    J: Masih terbuka luas, lihat saja kita nomor satu pengekspor batubara thermal di dunia, emas mungkin nomor dua. Kakao kita nomor dua, kelapa sawit nomor satu, tembaga juga sangat potensial. Semua sumber mineral penting yang akan dipakai oleh produk industri dapat ditemui di Indonesia, semua itu belum digarap. Jadi peluangnya masih terbuka lebar. Tapi saya ingin mengajak pengusaha yang bergerak di bidang sumber daya alam untuk melihat bagaimana meng-capture nilai tambahnya di Indonesia. Selain memberikan pajak lebih besar, tapi juga memberi yang lebih besar kepada rakyat.

    T: Kemiskinan di Indonesia masih tinggi, bagaimana cara mengatasinya?

    J:  Kemiskinan hanya bisa disolusikan dengan memberdayakan rakyat yang masih on the bottom of the pyramids, mereka dengan pendapatan di bawah 2 dolar sehari. Bagaimana memberdayakan mereka? Dengan memberikan peluang. Bagaimana berikan peluang? Menurut saya masalah kelompok bottom of the pyramids adalah peluang. Kita harus bisa menghadirkan peluang dalam bentuk akses pada microfinance. Tiba-tiba teman-teman di bottom of the pyramids ini punya alat untuk menangkap peluang tersebut.

    Makanya kita sebut sekarang lebih dari 42 juta unit usaha mikro kecil menegah yang telah lahir di Indonesia. 60 persen pendapatan domestik bruto disumbang UMKM, yang disebut bottom itu. Nah dengan memberi microfinance maka tiba-tiba hadir semua peluang pada mereka. Di situ adalah cikal bakal mereka melahirkan suatu usaha yang bisa mengangkat harkat martabat mereka dan menaikkan derajat mereka dari bottom of the pyramids ke kelas menengah.

    T: Kuncinya wiraswasta?

    J: Kuncinya entrepreneurship. dan ini saya sudah bicara di kampus, SMA-SMA. Think like an entrepreneur. memang nggak semua orang harus jadi entrepreneur, tapi berpikirlah sebagai seorang wirausaha untuk mengatasi berbagai masalah dalam keseharian kita. Bagaimana kita melihat peluang yang terus ada di balik setiap krisis. Bagaimana kita menghadapi hidup dengan penuh komitmen dan tak mudah putus asa. itu kan sifat-sifat dari seorang pengusaha.

    Kalau punya kemampuan hadirkan pola pikir itu kepada akademisi, birokrat, pegawai pemerintah, pegawai swasta, maka akan terbentuk culture kewirausahaan, maka inovasi bangsa akan meningkat dan perekonomian pada ujungnya akan menghasilkan nilai growth rate yang lebih tinggi untuk bangsa tersebut. Indonesia hanya punya 0,18 persen populasi yang menjadi enterpreneur, kalau tak salah kurang dari 500 ribu. Tugas kita untuk pada 2020 mencetak setidaknya 5 juta entrepreneur yang sanggup mengisi pembangunan dan menciptakan lapangan kerja.

    T: Jika masyarakat sudah menjadi entrepreneur dan sejahtera, lalu di mana peran pemerintah?

    J: Pemerintah posisinya tak seperti zaman sebelum krisis, di mana ada keterbatasan sumber daya, keterbatasan dana. Tugas pemerintah adalah menghadirkan iklim dunia usaha yang paling kondusif di mana perizinan dipermudah, anak-anak muda yang punya ide dalam hitungan 3 hari dapat meregistrasi ide tersebut dan memulai usahanya atau mendirikan perusahaannya. Kalau mendirikan perusahaan sudah dibuat begitu mudah, juga bagaimana memberikan akses permodalan yang paling baik terhadap perusahaan-perusahaan ini.

    Terakhir kemampuan pengusaha untuk berinovasi, bagaimana human capacity pengusaha ini. Kalau tiga aspek ini bisa diberikan, pemerintah tak perlu terlalu repot memberi budget besar pada setiap sektor usaha. Cukup diberi insentif, cukup diberi iklim yang sangat ramah terhadap kegiatan dunia usaha, akan tumbuh dengan sendirinya.

    T: Apa masalah terbesar pemerintah dalam memberi iklim yang kondusif buat dunia usaha?

    J: Pemerintah juga harus menyelesaikan masalah infrastruktur yang dihadapi karena indonesia adalah negara yang infrastrukturnya sangat lemah. Mengirim barang dari Surabaya ke Jakarta lebih mahal daripada dari Surabaya ke Hongkong, padahal jaraknya sangat berbeda. Tapi karena infrastruktur lemah ini menggerus daya saing dunia usaha. Saya yakin kalau pengusaha bahu membahu dan pemerintah maka ekonomi kita bisa tumbuh 8-10 persen dan indonesia bisa menjadi bukan hanya Macan Asia tapi juara dunia dan ada beberapa pandangan bahwa Indonesia akan jadi ekonomi terbesar di Asia tahun 2050

     

    326 komentar

    • Amir Yakob  •  9 bulan yang lalu
      hebat pantang menyerah contoh tuk kita semua
    • Davied Koomeng  •  1 tahun 0 bulan lalu
      Inspiratif sekali, setiap manusia selalu dihadapkan pada suatu pilihan... untuk itu jangan sampai salah dalam melangkah... Berdoalah...
      Indonesia keep move on and Going concern,,,
      Koomeng
      • Netty 1 tahun 0 bulan lalu
        setuju...ayo majuuu...walau beratnyaaa perjuanagn udah kebayang,tapi kayanya itu emang harus diusahakan...bismillah :)
    • upin  •  1 tahun 0 bulan lalu
      pemerintah memegang kendali untuk menciptakan iklim berwirausaha yang kondusif.
      akhirnya, semua kembali ke diri kita masing2, apakah kita memang mau menjadi pengusaha dengan segala pahit getir dan manisnya.
      alasan akan selalu ada. dan alasan itu akan selalu logis.
      menjadi pengusaha atau karyawan itu pilihan. konsekuensi akan selal mengikuti di setiap pilihan yang kita ambil.
      • patty 1 tahun 0 bulan lalu
        memang menjadi entrepeneur atau karyawan adalah pilihan, tapi untuk membantu penunjangan ekenomi sangat tepat jika memilih menjadi entrepeneurship.
    • lina  •  1 tahun 0 bulan lalu
      bagaimana yah mengatasi kendala modal? pinjam bank, bunga kreditnya besar. saudara, tidak ada yang bisa dipinjami.
      • NOHERO 1 tahun 0 bulan lalu
        Coba bangun kepercayaan dengan klien.....
      • Ervian 1 tahun 0 bulan lalu
        satu hal yang terlewatkan, untuk akses modal, coba untuk saling share dengan teman, siap tau ada yang memiliki ide yang sama, trus patungan deh.. :)
      • Indarto 1 tahun 0 bulan lalu
        Networking marketing mungkin perlu dipertimbangkan. Modal kecil potensi penghasilan besar. Kalau berminat silakan hubungi saya Indarto 0817825626. Serius...!!!!
    • Jaka Sampoerna  •  1 tahun 0 bulan lalu
      Ini sama ceritanya sama saya, usaha jatuh bangun jatuh bangun,.......terahir jatuh tapi ngga bangun-bangun,............ya sdh wasalam,...............
      • upin 1 tahun 0 bulan lalu
        coba sekali lagi.
        bisa jadi batu yang besar tidak akan pecah dipukul 99 kali. dan bisa jadi pukulan terakhir yang ke-100 akan memecahkan batu itu...
      • ahmad 1 tahun 0 bulan lalu
        oeeee.....bangun, bangun, jangan menyerah dong, gitu aja menyerah. Bangun kembali kepercayaan diri, mantapkan niat untuk memulai, lakukan dengan enjoy n jangan lupa doa. Sesuatu yang dimulai dengan niatan yang baik, telaten, dan sabar, apalagi untuk mengibadahi, insya allah rejeki dan jalan akan terbuka dan datang kembali. Aq ACC dengan mas upin, batu yang besar tidak akan pecah dipukul 99 kali, dan bisa jadi yang ke 100 bisa pecah, dan itu menjadi jalan kita untuk berhasil.
      • Azwar 1 tahun 0 bulan lalu
        wkwkwkwkwkwk......cm bisa ketawa...lutcu
    • Nur  •  1 tahun 0 bulan lalu
      "Kesuksesan itu hanya diraih oleh mereka yang berani mencoba.." IB,
      Sandiaga Salahuddin Uno ....top...!!!
      • Hommy 1 tahun 0 bulan lalu
        Saya tidak menyalahi bagi yang bernegatif thinking, karena itu memang habitatnya, fakta membuktikan kalau anda sudah meginjakkan kaki anda ke dunia pengusaha maka anda akan berbicara dan berpendapat lain lagi. dan itu membuat kamus bahasa kita mempunyai kata "munafik"
    • Ali Eliasak  •  1 tahun 0 bulan lalu
      h e b a t. . .
      pondasi kesuksesan adalah banyak sedekah
      sepele tapi sulit, kalau terbiasa pasti terasa ringan
      sedekah sudah, sekarang action
      salam sukses..
    • Komang  •  1 tahun 0 bulan lalu
      Salam Hormat pak, saya juga korban PHK tahun 1998, cuma saya bedanya jadi Civil Servis (PNS) mengenai gaji jauh lah pak waktu saya jadi karyawan swasta, sudah hampir 4 tahun saya coba mencari tambahan penghasilan menjadi mediator/ ritel divisi batu bara tetapi kebanyakan gagalnya sampai - sampai saya putus asa juga, ........bagaimana cara membangkitkan rasa malas dan putus asa saya yg sudah akut, karena di pemikiran kami bahwa bisnis sampingan ini tidak ada mendatangkan apa - apa, ...mohon solusinya , trims
    • Rickvan  •  1 tahun 0 bulan lalu
      Bagus artikel yg memberi semangat entrepreneur...Tapi sayang di Indonesia menjadi seorang PNS masih menjadi Idola terbukti setiap ada tes PNS jmlh pesertanya bnyk sekali.Dan Bank pun kadang susah memberi pinjaman,yg punya jaminan juga gak diberi dengan alasan harus punya pengalaman usaha min 2 tahun apalagi org yg tdk punya jaminan butuh pinjaman untuk memulai usaha jualan bakso yg butuh dana 2Jtan.Memang biaya operasional di kita terlalu tinggi dng adanya pungli&jalan bnyk yg rusak juga kemacetan yg memakan bnyk waktu...Negara yang Maju adalah Negara yg Masyarakatnya bnyk yg menjadi ENTREPRENEUR..
    • Anuari Lebon  •  1 tahun 0 bulan lalu
      satu pertanyaan pak Sandiaga Uno.... dalam berbisnis pernahkah anda menyogok aparat pemerintah..?
    • Putune Ranggawarsita  •  11 bulan yang lalu
      Ada yang bisa kasih info alamat email atau yang lain untuk bisa contact Pak Sandiaga Uno?
    • sesil  •  1 tahun 0 bulan lalu
      Exellente kepada Sandiago Uno, kita butuh orang indonesia yang memiliki visi ke depan dan bisa memajukan bisnis di indonesia....keberhasilan tidak pernah terjadi tanpa pengorbanan dan usaha yang keras, presistent dan sabar...semoga masih banyak lagi yang berhasil...bagi yang belum berhasil jgn iri.........banyak anak pejabat, anak konglomerat atau orang kaya ....saya lihat tidak bisa mempertahankan usaha orang tuanya.....tp pak Sandiago Uno...bisa membagung usaha sendiri....itu luar biasa......di tambah lagi dukungan jaringan yang kondisif...lebih memudahkan...lagi....bravo pak
    • TETUKO  •  1 tahun 0 bulan lalu
      Sungguh LUAR BIASA.....
      Cerita SERUPA TAPI TAK SAMA
      Saya juga di PHK tahun 1997....... Mo ngeLAMAR kesana kemari sudah terkena faktor "U"
      Mencoba berusaha kecil-kecilan karena gak ada modal, selalu bubar... jalan.... bubar lagi.... jalan lagi..... capek deh... !
      Di ilhami oleh kisah Thomas A Edison yg berhasil setelah ribuan kali gagal.
      Juga Kisah Kolonel Sander yg sukses dg KFC di usia 65an, Saya kesampingkan faktor "U" dan rasa Capek.... Saya satroni hampir semua Komunitas Enterpreneur dg segala aktifitasnya.

      Akhirnya Saya simak betul pesan Mr ROBERT T KIYOSAKI : "Orang-orang Kaya di dunia karena mencari dan membangun JARINGAN, sementara yg lain mencari PEKERJAAN"
      Dan mendapat Rumus Kaya dari Mr TUNG DESEM WARINGIN : "bahwa KAYA itu sama dengan NILAI TAMBAH dikalikan dengan FAKTOR KALI" serta beberapa Jurus dari Pendekar "CARA GILA JADI PENGUSAHA" PURDIE CANDRA, bahwa jangan biasakan dirimu berada dalam area COMFORT ZONE (situasi nyaman), karena itu tidak akan membuatmu berUSAHA.
      *******************************************************************************************************
      Ketemulah Saya dg jenis usaha "Personal Franchise" yg dikomandani oleh Perusahaan Nasional dan digawangi oleh Perusahaan Multi Nasional, yg mempunyai Program yg LUAR BIASA yg namanya Tabungan ROLL OVER.
      Saya katakan LUAR BIASA karena Tabungan ROOL OVER mampu menyelesaikan Masalah FINANCIAL Saya

      Tadinya sih Saya SKEPTIS dan APRIORI dengan iming-imingnya
      Tapi yang namanya USAHA, ya Saya jalani aja dan........... Perhatikan apa yang terjadi.......

      Ternyata semua itu bukanlah MIMPI atau FATAMORGANA..
      Tetapi kalau boleh Saya bilang, ini adalah sebuah OPTIMISME......
      Ya...... OPTIMISME yang harus dikawal bersama untuk sampai pada tercapainya tujuan.

      Akhirnya TERBUKTI juga bahwa belum genap 3 bulan,
      Saya sudah mendapat HASIL yang menurut ukuran Saya LUAR BIASA

      Karenanya disini Saya ingin mengajak siapapun untuk melirik... mencari tahu...
      dan meYAKINkan diri untuk segera menabung di Tabungan ROLL OVER...

      Ikuti prosesnya dan jadilah lebih KAYA dan sejahtera.....

      SUKSES itu memang tidak mudah, tapi TIDAK SUKSES itu jauh lebih SULIT

      KAYA itu BELUM tentu SENANG.
      Tetapi yang perlu disimak adalah, bahwa kalau MISKIN itu sudah PASTI serba SUSAH.

      HADAPI dan JALAN-lah menuju SINAR yang ada.....
      niscaya tak akan KAU temukan BAYANGAN HITAM didepanmu.

      Ketahuilah bahwa PERUBAHAN tak pernah mudah, kecuali hanya pura2 berubah.
      Karenanya jadilah orang yang LUAR BIASA, dg tdk memperhatikan HASIL, kecuali hanya mengerjakan PROSESnya.
      Mengenai HASIL itu adalah Hak Prerogatif ALLAH.
      Kita tidak bisa HIDUP dg baik, jika Kita tidak meLUPAkan keGAGALan dan sakit hati dimasa lalu.

      Jika KAU ber-SEDIA dan ber-SEMANGAT me-LAKUKAN sesuatu......
      maka ALLAH... TUHAN yang MAHA KUASA akan juga ber-SEDIA untuk ber-GABUNG dan mem-BANTU.

      Info lebih lanjut, email : feira.leosmajs@yahoo.com
    • Maya  •  1 tahun 0 bulan lalu
      iya ulasan yang bagus.....
      tapi dikenyataannya hal tersebut amat sangat susah....saya dan suami telah memulai bisnis di bidang jasa konstruksi kurang lebih 2 tahun....dengan modal yang sangat minim dan dengan loyalitas yng tinggi berharap skill kita dapat berguna secara maksimal....ada beberapa klien dari proyek yg kita kerjakan sangat susah dalam hal membayaran ...padahal dipembayaran mereka itulah kita berharap bisa memenuhi kewajiban kita dari gaji karyawan, bunga bank yang sangat tinggi ...dan buat dapur keluarga kita sendiri.....
      terkadang klien hanya memfokuskan dipekerjaan dan giliran hal pembayaran ....susah.....
      dari mengemis...merayu dan mengancampun pernah kita lakukan....hasilnya tetap susah....
      jadi kesimpulannya untuk jadi seorang pengusaha disamping otak dan skill yang tinggi juga diperlukan keberuntungan ..... dikala kita tidak beruntung ..modal sebesar apapun bisa amblesssss.....
    • Ester  •  1 tahun 0 bulan lalu
      itu kn bagi yang punya modal, bgaimana dengan yg tidak punya modal??
      mw pinjam ke bank aja ga bakal ada yg terima..
    • Fajar  •  11 bulan yang lalu
      dahsyat!!
    • sugar baby  •  1 tahun 0 bulan lalu
      sangat inspiratif dan sangat memotivasi, walaupun cewek saya juga punya mimpi besar. hope i will be a success person. always work hard and have strong a spirit life.
    • Anonymous  •  1 tahun 0 bulan lalu
      Mungkin saya berpikir negatif, tapi saya selalu agak skeptical menilai anak pengusaha, yang ortunya dekat dengan orang2 pemerintah, yang menjadi enterprenuer. Buat saya mereka punya modal lebih dari mereka yang benar2 modal dengkul, paling tidak network orangtuanya dengan para penguasa atau regulator. Saya akan memberikan apresiasi lebih kepada Johny Andrean atau Nila Chandra, atau pengusaha2 yang mungkin hanya skala menengah tapi benar2 mulai dari bawah. Mohon maaf jika pernyataan saya ini tidak berkenan.
    • Jellyssaa  •  1 tahun 0 bulan lalu
      Pak Sandiaga Salahuddin Uno,, ganteng euy.... hehhehee
    • Achamad muidz  •  11 bulan yang lalu
      Saya salut dengan kepribadian anda ,saya juga salut dengan orang2 Indonesia yang bisa sebagai PEMENANG...Semoga d negara kita banyak tercipta motivator2,inspirator2 juga enterpreneur2 seperti anda2 dan yang lain.Semoga kesuksesan selalu menyertai anda.......amin.Suatu hari nanti saya bisa bertemu dg anda