Baghdad (AFP/ANTARA) - Gelombang kekerasan melanda di seluruh Irak pada Senin, dengan menewaskan 111 orang pada hari paling mematikan di negara itu dalam dua setengah tahun, setelah Al-Qaeda memperingatkan akan berusaha untuk merebut kembali wilayah dan meningkatkan serangan baru.
Para pejabat mengatakan bahwa setidaknya 235 orang juga terluka dalam 28 serangan berbeda yang terjadi di 19 kota, merusak situasi yang relatif tenang dengan dimulainya bulan suci Ramadhan.
Kekerasan itu telah memancing kecaman dari utusan khusus PBB untuk Irak, juru bicara parlemen negara itu, dan negara tetangga Iran, sementara Washington mengecam serangan itu sebagai tindakan "pengecut.”
Dalam insiden yang paling mematikan itu, serangkaian bom pinggir jalan dan bom mobil yang diikuti dengan serangan bunuh diri menargetkan tempat penting di kota Taji, setidaknya menewaskan 42 orang dan 40 orang terluka.
"Saya mendengar ledakan di kejauhan jadi saya keluar rumah dan di luar saya melihat sebuah mobil," kata penduduk Taji, Abu Mohammed (40), yang menambahkan bahwa inspektur polisi menyimpulkan kendaraan itu adalah bom mobil.
"Kami meminta tetangga untuk meninggalkan rumah mereka, tetapi ketika mereka hendak pergi, bom meledak."
Di Baghdad sebuah bom mobil di luar kantor pemerintah yang bertanggung jawab untuk membuat surat-surat identitas di basis Syiah, Sadr City, menewaskan sedikitnya 12 orang dan melukai 33 orang lainnya.
Dua ledakan di pemukiman Baghdad, Husseiniyah dan Yarmuk, menewaskan sedikitnya empat orang dan melukai 27 orang lainnya, sementara sebuah bom mobil di kota Tarmiyah, di sebelah utara ibu kota, menewaskan satu orang dan melukai sembilan orang.
Di tempat lain di Irak, penembakan dan ledakan bom pos pemeriksaan di provinsi Diyala menewaskan 14 orang dan melukai 47 lainnya, kata para pejabat keamanan dan dokter Ahmed Ibrahim dari rumah sakit utama di ibu kota provinsi Baquba itu.
Pemberontak juga meluncurkan serangan terhadap pangkalan militer dekat kota Dhuluiyah, menewaskan sedikitnya 15 tentara dan membuat dua lainnya luka-luka.
Dua serangan lain di provinsi sama yang ditempati etnis campuran, penembakan pos pemeriksaan dan bom mobil dekat sebuah masjid Syiah, menyebabkan tiga orang tewas dan enam lainnya terluka.
Juga ada laporan ledakan bom mematikan di kota Kirkuk, dan kota-kota di provinsi Kirkuk, Dibis dan Tuz Khurmatu serta Diwaniyah, di selatan Baghdad, kota utara Mosul dan kota terdekat Baaj.
Di Heet, sebuah bom mobil meledak di dekat patroli tentara, menewaskan seorang tentara dan melukai 10 lainnya, menurut seorang kapten tentara dan dokter Abdulwahab Al-Shammari dari rumah sakit itu.
Serangan itu terjadi satu hari setelah serentetan pemboman di seluruh negara itu yang menewaskan sedikitnya 17 orang dan melukai hampir 100 orang. Jumlah korban pada Senin, merupakan yang tertinggi sejak 8 Desember 2009 ketika 127 orang tewas.
Kekerasan terbaru itu terjadi setelah negara itu mengalami lonjakan kerusuhan pada Juni ketika sedikitnya 282 orang tewas, menurut perhitungan data AFP berdasarkan angka yang diberikan pejabat dan petugas medis.
Meskipun angka-angka tersebut semakin menurun daripada saat puncak pertumpahan darah komunal di Irak dari 2006 hingga 2008, serangan masih umum ditemukan. (jk/ik)


