Jakarta (ANTARA) - Sebanyak 16 bank di Indonesia bergabung dalam Konsorsium Data Kerugian Eksternal di Jakarta, Jumat, untuk mengantisipasi dan meminimalkan kerugian operasional yang dialami bank-bank di Indonesia.
"Dalam KDKE ini, institusi perbankan bisa berbagi data mengenai kerugian operasional masing-masing, dengan mekanisme ini diharapkan mereka bisa belajar satu sama lain," kata Direktur Penelitian dan Pengaturan Perbankan Bank Indonesia Mulya Siregar usai peluncuran KDKE.
Mulya mengatakan bahwa dunia perbankan di Indonesia akan semakin kuat jika lembaga keuangan tersebut saling membagi informasi mengenai resiko operasional yang dihadapi.
Dia mencohtohkan kasus penggelapan uang Melinda Dee di Citibank tidak akan terulang karena bank yang lain dapat meminta data mengenai kasus terebut untuk dipelajari dan diantisipasi.
Direktur Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) Muljana Soekarni sebagai pihak yang membentuk konsorsium mengatakan bahwa tujuan utama KDKE adalah untuk mengantisipasi dan memitigasi risiko secara akurat dan menyeluruh.
"Untuk antisipasi dan mitigasi itulah sebuah bank harus mempunyai data kerugian yang lengkap baik dari internal maupun eksternal," kata Muljana.
Muljana menjelaskan bahwa bank semala ini hanya memperoleh data kerugian eksternal yang tidak terstruktur dari media massa. Hal tersebut mengakibatkan resiko yang dihadapi perbankan tidak terpetakan dan kemudian menyebabkan tidak optimalnya pengelolaan risiko operasional.
"Dengan konsorsium ini, data eksternal yang disediakan sudah terstruktur dan diolah," kata Muljana.
Bank yang telah bergabung dalam konsorsium ini adalah BCA, Bank DKI, BPD Jateng, BPD DIY, BTPN, Bank Sahabat Sampoerna, Bank Nagari, BPD Jambi, BTN, Bank Sulselbar! BPD Kalteng, BNI, Bank Mandiri, Bank Jabar Banten, Bank Permata, dan Bank Bukopin.
Muljana sendiri mengatakan bahwa LPPI sudah melakukan pendekatan kepada 120 bank di seluruh Indonesia.
Menurut dia, semua bank besar sudah masuk konsorsium kecuali Bank Rakyat Indonesia. (tp)

