19 Nelayan Terbawa Arus Sampai Perbatasan Filipina

TRIBUNNEWS.COM,AIRMADIDI--19 nelayan asal Desa Kema, Kecamatan Kema, Minahasa Utara (Minut) terbawa arus di perairan Marore, Kepulaun Talaud. Kabar tersebut diungkapkan kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kabupaten Minahasa Utara (Minut) Ir Ronny Siwi, Rabu (27/6).

Menurut Siwi, informasi diperoleh, para nelayan telah melaut sejak dua hari lalu. Di tengah laut baling-baling mesin dan alat komunikasi kapal mengalami kerusakan. Komunikasi kemudian melalui ponsel. Sembari menunggu bala bantuan, dikabarkan persedian makanan para nelayan pun kian menipis.

Pemkab Minut, kata Siwi, telah berkoordinasi dengan tim SAR di pos pengawas kapal di Bitung dan DKP Sangihe serta Talaud untuk menemukan para nelayan. "Hingga saat ini kami terus berusaha menemukan para nelayan," ujar Siwi.

Berdasarkan informasi awal yang ia peroleh, posisi kapal nelayan terakhir berada di koordinat 03-16 N 123-04 E. Koordinat itu, mendekati perbatasan Filipina. Siwi mengakui kondisi cuaca di perairan Sulut tak menentu. "Kami berupaya maksimal agar mereka ditemukan," ujarnya.

Sementara itu, Prakirawan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Samrat Manado, Ratih Prasetya mengatakan cuaca beberapa hari ke depan di wilayah Sulawesi Utara (Sulut) dipengaruhi badai tropis di timur Filipina dengan kecepatan 35 knot atau sekitar 70 kilometer per jam. "Selain itu, wilayah Sulut terdapat belokan angin, sehingga mempengaruhi cuaca," ujarnya, Rabu (27/6).

Prasetya menambahkan, badai yang bergerak ke Perairan China Selatan tersebut dampaknya secara tidak langsung melanda wilayah Sulut. Sehingga peluang hujan ringan hingga sedang terjadi pada siang hingga malam hari.

Untuk angin di Sulut rata-rata bertiup ke selatan dengan kecepatan berkisar 10-25 kilometer per jam. Sedangkan di sekitar perairan Sangihe Talaud kecepatannya mencapai 30 kilometer per jam.

Sedangkan tinggi gelombang menurut situs bmkg.co.id untuk perairan Sangihe Talaud mencapai 2-3 meter dan perairan Sulawesi mencapai 0,2-2 meter.

Adanya awan gelap (cumulonimbus) di perairan tersebut dapat menimbulkan angin kencang dan gelombang tinggi. Tinggi gelombang 3- 4 meter terjadi di Samudera Pasifik, timur Filipina.

Sulawesi
  • Kadisbudpar Makassar Dikabarkan Jadi Kadispora
  • Unismuh Lahirkan 36 Sarjana Kedokteran Pertama
  • Hino Kumpul Ratusan Pelanggan di Hotel Aston Makassar
  • Oknum LMP Pukul Aparat Kelurahan
  • Kejati Penjarakan Pejabat Pegadaian di Lapas
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.

POLL

Apakah Anda percaya pengerjaan proyek MRT yang sudah resmi dimulai akan berjalan tepat waktu sesuai rencana?

Memuat...
Opsi Pilihan Jajak Pendapat