45 Hari Jabar Kekurangan 3.800 Ton Daging Sapi

Bandung (ANTARA) - Dinas Peternakan (Disnak) Jawa Barat menuturkan selama 45 hari yakni terhitung dari satu minggu sebelum bulan puasa, selama bulan puasa dan seminggu setelah Idul Fitri atau Lebaran, Provinsi Jabar kekurangan 3.800 ton daging sapi.

"Dan sekarang ini sebetulnya berdasarkan keterangan kawan-kawan di lapangan, ada sekitar 50 ribu ekor sapi, tapi mereka harus ada di dalam satu tahun atau tidak bisa dipotong untuk Lebaran semua. Karena perusahaan itu dalam satu tahun harus hidup diperkirakan 16 ribu ekor," kata Kepala Dinas Peternakan Jawa Barat Koesmayadi, di Kota Bandung, Jumat.

Pihaknya menyatakan salah satu upaya untuk mengurangi stok daging sapi di Provinsi Jawa Barat ialah memperbaiki distribusi pengirimannya karena stok sapi yang didatangkan ke Jabar berasal dari luar seperti Jatim dan Jateng.

"Sekarang yang memegang ternak itu di luar Jawa Barat, bandar atau pedagang sapi dari Bandung mengambil dari sana. Tinggal kekuatan dia ialah posisi tawar mereka," ujarnya.

Ketika ditanyakan apakah pemerintah daerah tidak bisa mengatasi kenaikan harga daging sapi dengan cara menurunkan harga, Koesmayadi mengakui hal tersebut sulit dilakukan.

"Menangani dengan menurunkan (harga daging sapi) oh ngak bisa karena mereka yang pegang ternak itu mereka. Tapi pemerintah harus dihargai pembelinya. Jadi kita mengawasi kualitas segala macam," kata dia.

Sementara itu, khusus untuk persedian daging ayam di Jawa Barat, Koesmayadi menuturkan tidak ada masalah karena dalam satu tahun bisa surplus hingga 341 ton.

"Kalau daging ayam kita surplus, masalahnya di harga penjualannya saja. Khusus untuk daging ayam itu, satu tahun Jabar lebih 341 ribu ton," kata dia.

Namun, kata dia, salah satu cara untuk menekan harga daging ayam yang terpantau mengalami kenaikan memasuki awal bulan puasa ini adalah dengan cara memangkas jalur distribusi karena banyaknya jalur pendistribusian daging ayam telah membuat harga daging ayam melonjak.

"Jadi solusi untuk bisa menurunkan harga daging ayam adalah dengan memotongh jalur distribusi yang saat ini sangat panjang," ujarnya.

Ia menjelaskan saat ini jalur pendistribusian daging ayam mencapai lima tahap mulai dari peternak hingga pedagang.

Oleh karena itu, pihaknya akan memangkas agar pendistribusian dagingh ayam hanya memiliki tiga tahap saja.

"Kalau kita bisa dipotong dua tahap saja maka bisa memangkas harga sekitar Rp1.500 per kilogram. Walaupun terlihat kecil, namun nilai itu sangat besar bagi dilihat dari mekanisme pendistribusian daging ayam," katanya. (tp)


PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.