Singapura (ANTARA) - Mantan Anggota DPR, Ade Daud Nasution mengatakan, kalau memang Pertamina Energy Trading Limited (Petral) melakukan tender untuk pengadaan impor minyaknya, maka berarti perusahaan tersebut tidak melibatkan mafia.
"Kalau ada mafia, tentunya penawar yang paling rendah akan protes," katanya di Singapura, Jumat.
Ia juga mengakui, data-data yang dimilikinya belum tentu benar.Sebelumnya, Ade dan politikus lainnya melaporkan dugaan penyimpangan dalam proses tender impor yang dilakukan Petral ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).
Pada Kamis (23/2), Ade datang secara tiba-tiba ke Petral bersama mantan Anggota DPR lainnya, Boy Saul dan juga pengacara, Jhonson Panjaitan.
Saat datang, Presdir Petral Nawazier tengah memberikan penjelasan ke sejumlah wartawan asal Indonesia yang diundang khusus mengikuti proses tender. Menurut Ade, mafia sudah menjadi isu di Indonesia.
"Tadi kami memperoleh penjelasan dari Presdir Nawazier, ternyata Petral melakukan tender dengan mengundang puluhan perusahaan. Hal ini yang kami ingin tahu," katanya.
Ade juga mengatakan, dirinya baru mengetahui penawaran perusahaan nasional asal Azerbaijan, Socar untuk minyak mentah jenis Azeri lebih tinggi dibandingkan PTT Thailand.
"Socar tidak jadi G to G, karena harga yang ditawarkan Socar lebih mahal dari PTT," katanya.
Sementara, Nawazier mengatakan, pada awal 2010, bersama Direktur Pengolahan Pertamina waktu itu, Rukmi Hadihartini, dirinya datang ke Azerbaijan menemui manajemen Socar untuk mengupayakan pembelian secara "G to G".
Ternyata, lanjutnya, Socar tidak langsung menjual minyaknya, namun melalui anak usaha yang berkedudukan di Jenewa, Swiss.
Untuk wilayah Asia Pasifik telah ditunjuk Socar Trading Singapore.
"Apalagi, Socar tidak murni NOC (national oil company), Pemerintah Azerbaijan hanya memiliki 25 persen sahamnya. Socar tidak menjadi prioritas untuk rekanan NOC. Pertamina menetapkan minimal 95 persen," ujarnya.
Head of Trading Petral Bambang Irianto menambahkan, pada Januari 2010, Socar Trading Singapura menawarkan delta 4,42 per barel, namun PTT Thailand hanya 2,75 per barel.
"Bedanya hampir 1,67 dolar per barel, kalau impornya sampai 900.000 barel, maka bisa rugi jutaan dolar," katanya.
Pada tender Azeri lainnya, Socar menawarkan delta 4,88 dolar per barel dan PTT hanya 3,95 dolar per barel.
"Jadi, kami mengambil Azeri dari PTT sepenuhnya karena harga lebih bagus," ujarnya. (tp)


Belum ada komentar