AFP: Pemimpin Sudan-Sudan Selatan Berunding di Ethiopia

Addis Ababa (AFP/ANTARA) - Para pemimpin Sudan dan Sudan Selatan, yang negara mereka telah di ambang perang skala penuh, bertemu di Addis Ababa Sabtu untuk pembicaraan pribadi pertama sejak pertempuran, kata seorang wartawan AFP.

Pemimpin Sudan Omar al-Bashir dan timpalannya Salva Kiir dari Sudan Selatan bertemu Sabtu malam di satu hotel mewah dan berjabat tangan saat mereka meninggalkan ruangan.

Seorang anggota delegasi Sudan mengatakan, kedua pemimpin telah mengadakan pembicaraan selama satu jam.

Pembicaraan terakhir antara kedua pemimpin, yang berada di ibu kota Ethiopia untuk menghadiri pertemuan puncak Uni Afrika, terjadi di KTT Uni Afrika sebelumnya pada Januari lalu.

Pada Sabtu pagi, kedua presiden sama-sama hadir di gedung pertemuan yang sama untuk konferensi Perdamaian Uni Afrika dan Dewan Keamanan.

Delegasi konferensi mengatakan bahwa pada saat kedua pemimpin menghadiri pertemuan, mereka tidak berbicara satu sama lain secara langsung.

Mereka meninggalkan pertemuan Uni Afrika, di mana ketegangan antara kedua negara menjadi agenda utama, secara terpisah, namun dalam beberapa menit satu sama lain.

Dewan Keamanan dan Perdamaian Sabtu mendesak Khartoum dan Juba untuk menyelesaikan perbedaan mereka mengenai minyak dan demarkasi perbatasan sebelum batas waktu 2 Agustus yang ditetapkan oleh PBB.

Pembicaraan antara Khartoum dan Juba mengenai isu-isu yang belum terselesaikan dalam kesepakatan perdamaian 2005 dilanjutkan pada Kamis di Dar Bahar, di utara-barat Ethiopia, kata Komisioner Perdamaian dan Keamanan Uni Afrika Ramtane Lamamra kepada wartawan.

"(Kami) mendesak semua pihak untuk menggunakan kesempatan ini untuk membuat persetujuan mengenai seluruh sisa masalah termasuk keamanan, minyak dan kaitan pembayaran (dan) status warga negara," katanya.

Pembicaraan antara dua mantan musuh perang saudara itu telah tersendat sejak Sudan Selatan resmi menjadi negara merdeka dari Sudan pada Juli tahun lalu.

Kekerasan meningkat antara kedua negara pada April, mendorong Uni Afrika dan PBB untuk menetapkan batas waktu tiga bulan bagi mereka untuk menyelesaikan sengketa. (ar)

PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.