Akses Publik ke Pers Sedikit Naik

TEMPO.CO , Washington : Sebuah organisasi hak asasi manusia, Freedom House, menyatakan kebebasan pers mengalami tren yang semakin baik di beberapa negara. Survei lembaga ini mencatat, angka akses publik ke pers sebesar 14,5 persen. "Untuk pertama kalinya dalam delapan tahun, tren negatif yang kami lihat mengalami perbaikan setelah ada perubahan politik di Timur Tengah," kata Manajer Kampanye Kebebasan Freedom House Courtney Radsch.

Ia mencontohkan pers di Libya, Tunisia, dan Mesir, yang selama ini dikekang oleh penguasa, menjadi »sebagian bebas”. Perubahan politik di Timur Tengah telah memberi dampak bagi perkembangan pers. Di Asia, aturan pers di Myanmar, yang keluar dari kekuasaan junta militer yang sangat menekan, kini sudah melonggar.

Radsch mengatakan, dari 197 negara yang disurvei pada 2011, termasuk negara terbaru Sudan Selatan, 66 negara atau 33,5 persen persnya dinilai bebas, 72 negara atau 36,5 persen dinilai »sebagian bebas”, dan 59 negara atau 30 persen dinilai tidak bebas. Tapi akses kebebasan bagi penduduk dunia lebih rendah.

"Kami menemukan hanya 14,5 persen dari penduduk dunia tinggal di negara dengan pers bebas, di mana mereka dapat mengekspresikan diri mereka, independensi pers secara ekonomi dan bebas dari campur tangan politik, dan ini sangat mengganggu," katanya kemarin.

Organisasi jurnalis internasional, Reporters Without Borders, menyatakan lebih dari 280 jurnalis dan narablog telah dipenjara tahun ini, termasuk 32 di Eritrea, 30 di Cina, 27 di Iran, dan 14 di Suriah. Lima wartawan telah ditahan di Azerbaijan, yang merupakan presiden Dewan Keamanan PBB pada Mei.

Kekerasan juga terjadi terhadap wartawan. Sekitar 22 wartawan dan enam narablog tewas pada awal 2012. Tahun lalu, tercatat 60 wartawan tewas. Kasus terakhir, wartawan Marie Colvin dari Amerika Serikat dan Remi Ochlik dari Prancis tewas di Kota Homs, Suriah, Maret lalu.

Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki-Moon mengatakan semua pemerintah bisa menghormati tugas wartawan dan media. Meski demikian, ia mengakui media menjadi pembuka borok negara. »Tapi serangan untuk wartawan itu sudah keterlaluan,” kata Ban.

VOA | CAPITAL NEWS | EKO ARI

PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.

POLL

Apakah Anda percaya pengerjaan proyek MRT yang sudah resmi dimulai akan berjalan tepat waktu sesuai rencana?

Memuat...
Opsi Pilihan Jajak Pendapat