Yangon (AFP/ANTARA) - Sedikitnya 20 pemimpin pelajar ditahan di Myanmar, Sabtu, menjelang aksi untuk memperingati penindasan pergerakan pelajar pada 1962, kata seorang aktivis, tentang sikap disipliner terbesar sejak pembubaran junta.
Penahanan itu menimbulkan pertanyaan pada tingkat perubahan yang sesungguhnya terjadi di Myanmar sejak jatuhnya pemerintahan militer tahun lalu untuk digantikan oleh pemerintahan sipil dibawah pimpinan Presiden penganut perubahan Thein Sein.
Lima pemimpin pelajar ditangkap di Yangon dan yang lainnya ditangkap untuk diperiksa oleh polisi di tiga wilayah lain di seluruh penjuru negeri, menurut seorang aktivis.
"Selain dari lima orang yang ditangkap di Yangon... lima aktivis mahasiswa (ditangkap) di Shwebo, enam di Mandalay, empat di Lashio," kata Thet Zaw, satu dari pemimpin pergerakan pelajar pada 1988 yang dengan brutal ditindas.
Kyo Kyo Gyi, veteran lain dari pergerakan itu -- yang dikenal sebagai Generasi `88 -- mengatakan bahwa lima orang yang ditangkap di Yangon "ditangkap tanpa alasan". Ia menambahkan bahwa "penguasa mengatakan ingin berbicara dengan mereka".
Peringatan penindasan berdarah aksi unjuk rasa pelajar 1962 pada pemerintahan militer Yangon diharapkan akan diikuti oleh para aktivis veteran juga selain oleh para aktivis pro-demokrasi yang lebih muda.
Sehari setelah penindakan keras (8 Juli) gedung organisasi pelajar dihancurkan dengan bahan peledak oleh junta di saat beberapa pelajar yang terluka masih bersembunyi di dalam.
Myanmar telah mengalami serangkaian perubahan sejak Thein Sein mengambil alih kepemimpinan dari pemerintah militer, termasuk melepas ratusan tahanan politik dan menggelar pemilihan umum yang mendorong lusinan anggota partai oposisi di parlemen.
Komunitas internasional telah merespon dengan menurunkan beberapa sanksi dan menjanjikan dukungan untuk demokrasi di Myanmar.
Pimpinan oposisi Aung San Suu Kyi telah mengingatkan untuk berhati-hati terhadap perubahan yang terjadi, sekalipun sangat cepat, juga menyeru pemerintahan yang reformis untuk membebaskan mereka yang masih dalam tahanan di era junta.
Para anggota parlemen dari Partai Liga Nasional untuk Demokrasi saat ini berada di Naypyidaw, ibukota negara, untuk menghadiri sidang parlemen.
Pemenang Nobel itu, yang kembali pekan lalu dari melakukan perjalanan kemenangan ke Eropa, dijadwalkan untuk bergabung pada sesi hari Senin.
Thein Sein telah berkali-kali memperingatkan hambatan-hambatan untuk kemajuan demokrasi, tetapi lebih memfokuskannya pada konflik etnis dan aksi kekerasan komunal berdarahdi wilayah Rakhine barat.(rr)

