Jakarta (ANTARA) - Walaupun sempat mogok sebanyak dua kali, mobil listrik yang digunakan Menteri BUMN Dahlan Iskan tetap mengutamakan keamanan.
Pencipta mobil listrik, Dasep Ahmadi, mengungkapkan faktor keamanan menjadi fokus utamanya.
"Yang penting itu `safety`. Masalah sempat berhenti dapat diperbaiki," kata Dasep saat ditemui di pelataran gedung BPPT, Jakarta, Senin.
Dasep menceritakan berhentinya mobil listrik ini dikarenakan baterai mobil listrik hanya 40 persen. Padahal, untuk menempuh Jakarta dibutuhkan baterai 100 persen.
"Saya tidak mengecasnya sampai 100 persen karena sudah malam. Saya pun ragu apakah mau dibawa ke Jakarta atau tidak," tuturnya.
Kendati demikian, Dasep mengungkapkan berhentinya mobil listrik itu masih ditelusuri. Ada dua penyebab berhentinya mobil, yakni sistem manajemen baterai dan "power" baterai itu sendiri.
"Nanti, kita lihat apakah `setting`-annya yang belum optimal atau bagaimana. Yang pasti, baterainya terisi hanya 40 persen," tuturnya.
Ia menambahkan, "limit" baterai mobil listrik ini sekitar 20 persen. Bila sudah di bawah "limit", maka ia menyarankan pengguna mobil listrik untuk segera melakukan pengisian baterai. Biaya perawatan mobil listrik ini tergolong murah, karena setiap 50.000 kilometer, mobil baru masuk ke bengkel.
"Jadi akan lebih ekonomis dan tidak menguras biaya. Pengecasannya juga pasti ada di mana-mana," urainya.
Setelah dilakukan pengecekan, tim teknisi mobil listrik menegaskan mobil listrik tidak bermasalah. Tim teknisi melakukan pengecekan "motor controller" serta aki, dan hasilnya bagus. (tp)



Yahoo! OMG