Jakarta (ANTARA) - Harga emas berhasil menyentuh level 1.625 dolar AS akhir pekan lalu dan momentum penguatan tampaknya bisa berlanjut berpotensi mengejar level 1.630-40 dolar AS per troy ons.
Resisten terdekat berada di level 1.625 dolar AS dan "support" terdekat kini di 1.618 dolar AS. Koreksi ke area 1.612-09 dolar AS bisa terjadi bila "support" tersebut tembus.
"Secara keseluruhan, harga emas masih bergerak `sideways`," kata Head of Research and Analysis PT Monex Investindo Futures, Ariston Tjendra, dalam risetnya di Jakarta, Senin.
Para pelaku pasar, menurut Ariston, mendapatkan sentimen positif dari ekspektasi akan dikeluarkannya stimulus dari beberapa bank sentral seperti Amerika Serikat, Eropa dan China.
Ariston berpendapat bahwa yang patut diwaspadai adalah berita-berita negatif yang sewaktu-waktu bisa muncul dari Eropa yang bisa melemahkan kembali harga emas.
Sementara itu, emas berjangka ditutup menguat Jumat (10/8) setelah dolar kehilangan daya tariknya sebagai "safe-haven" dan investor tetap berharap diluncurkannya stimulus.
Namun, harga logam lainnya justru melemah menyusul data perdagangan China selama Juli yang melamban. Emas untuk pengiriman Desember menguat 2,60 dolar AS, atau 0,2 persen, menjadi 1.623,70 dolar AS per troy ons di Comex, divisi dari New York Mercantile Exchange. Dalam sepekan harga emas menguat 0,8 persen.
Dengan dolar melemah, emas bertahan dengan posisi teknis yang bagus dan penutupan di atas 1.620 dolar AS per troy ons dapat memberikan jalan untuk penguatan berikutnya dalam jangka pendek.
Untuk level resisten bagi emas berikutnya berada di kisaran 1.640-1.645 dolar AS per troy ons.(rr)


