Jakarta (ANTARA) - Level 1.618 dolar AS menyediakan resisten yang cukup kuat bagi penguatan harga emas. Terlebih level ini sudah bertahan selama tiga hari.
"Penguatan lanjutan ke 1.625 dolar membutuhkan konfirmasi penembusan level 1.618 ini," kata Head of Research and Analysis PT Monex Investindo Futures, Ariston Tjendra, dalam risetnya di Jakarta, Jumat.
Namun, bila harga emas menembus "support" di 1.609, menurut Ariston, terbuka peluang pelemahan lanjutan ke area 1.600 kemudian ke ke 1.590.
Sementara itu di New York, emas berjangka menutup perdagangan Kamis (9/8) dengan penguatan setelah data ekonomi China memberikan harapan akan diluncurkannya stimulus lanjutan di perekonomian terbesar kedua dunia itu, yang juga membuka asa untuk hal yang sama di seluruh dunia.
Untuk pengiriman Desember, harga emas menguat 4,20 dolar AS, atau 0,3 persen, menjadi 1.620,20 dolar AS per troy ons di Comex, divisi dari New York Mercantile Exchange.
Berlanjutnya harapan terhadap kemungkinan pelonggaran kuantitatif (QE) di sejumlah negara penting di dunia dan kekhawatiran akan terjadinya inflasi telah mendorong penguatan harga emas, kata Charles Nedoss, analis dari Kingsview Financial di Chicago.
Namun penguatan dolar AS membuat kenaikan harga emas dan komoditas lainnya menjadi tidak terlalu tajam.
Penguatan dolar AS cenderung menekan harga komoditas berdenominasi dolar, karena akan lebih mahal bagi pemegang mata uang lainnya.
Indeks dolar menguat menjadi 82,639 dari 82,366 pada sesi sebelumnya di Amerika Utara.(rr)


