Jelajahi Yahoo! Bersama Teman-Teman Anda

Jelajahi berita, video, dan banyak lagi berdasarkan apa yang dibaca dan ditonton teman-teman Anda. Publikasikan aktivitas Anda sendiri dan dapatkan kendali penuh.

Pertama-tama,

AKTIVITAS TEMAN DI YAHOO!

    Analog Atau Digital, Monopoli Penyiaran Dilarang

    Laporan Wartawan Tribunnews.com Ferdinand Waskita

    TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Rencana pemerintah melakukan migrasi dari televisi analog ke digital tetap harus mengikuti prinsip penyiaran, termasuk masalah monopoli penyiaran.

    "Apapun itu, apakah penyiaran seperti sekarang atau digitalisasi. Monopoli tetap dilarang," kata anggota komisi I DPR RI Effendy Choiri yang akrab dipanggil Gus Choi dalam diskusi "Aturan TV Digital: Keanekaragaman atau Monopoli?" di Warung Daun, Jakarta, Kamis (2/2/2012)

    Ia pun mengatakan agar rencana migrasi ke digitalisasi tidak memberatkan publik sehingga mereka dapat menikmatinya. Pasalnya, masyarakat yang ingin mendapatkan siaran digital harus memiliki alat set top box pada setiap televisi.

    "Ketika terjadi digitalisasi, publik kan harus membeli alat decodernya, itu bagaimana tidak merasa memberatkan," imbuhnya.

    Set top box diketahui harganya berkisar Rp 300ribu. Menurut Henry Subiakto, staf ahli Kementrian Komunikasi dan Informasi bidang komunikasi dan media massa, lembaga penyiaran swasta dapat melaksanakan program CSR (Corporate Social Responsibility) melalui pembagian set top box. Ia juga mengatakan pemerintah sedang mengkaji usulan mengenai subsidi kepada masyarakat untuk membeli set top box. "KPI dapat memiliki kewenangan untuk set top box," katanya.

    Hal senada juga dikatakan Gus Choi, ia mendukung usulan pemerintah dan lembaga penyiaran swasta membantu pengadaan set top box. "Publik jangan sampai merasa diberatkan untuk membeli alat-alatnya guna menikmati keberagaman konten televisi ini ke depannya. Jangan beri beban kepada publik, karena mereka tidak salah," katanya.

    Gus Choi menambahkan digital maupun analag, lembaga penyiaran harus mengedepankan diversity of owner dan diversity of content. "Karena itu prinsip. Jadi itu keberagamaan isi dan pemilik," tukasnya.

    PEDOMAN KOMENTAR

    Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


    Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar nuansa kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


    Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.

     

    7 komentar

    • Ende  •  3 bulan yang lalu
      ah bagus....biar tdk nnton berita koropsi terus d TV..pening kepala
    • Partai damai Sejahtera  •  3 bulan yang lalu
      MEMANG TELEVISI DIGITAL SIARANNYA JAUH LEBIH BAIK DARIPADA TELEVISI ANALOG DAN SIARAN ITU TIDAK GAMPANG TERGANGGU, KALAU SEDANG TERGANGGU MAKA GAMBARNYA BISA BERHENTI SEJENAK, BUKAN HILANG, ITU MEMANG BAIK, TAPI KALAU TETAP MEMBEBANTI RAKYAT KECIL YA JANGAN DONG.
    • T 1 W  •  3 bulan yang lalu
      halahh.. tiap ujan siaran mati. lom bisa indonesia. yg lama aj diberesin lahh
    • Ayam  •  3 bulan yang lalu
      Makin Monopoli seenak ny aj dah ntar tv swasta....apalagi MeNCret grup...
    • hris permana  •  3 bulan yang lalu
      sekalian aja ngehirup udara juga bayar..........
    • hris permana  •  3 bulan yang lalu
      cari keuntungan terus, padahal masih banyak yang belum bisa makan......
      keterlaluan pemerintah klo acc rencana ini.......
    • Ayam  •  3 bulan yang lalu
      Dijamin semua dimonopoli.....bernafas aj ntar dimonopoli jg....