Liputan6.com, Washington DC: Protes anti-Amerika Serikat atas beredarnya film yang melecehkan Nabi Muhammad SAW, "Innocence of Muslims" terus berlanjut di beberapa negara. Akibatnya, Pemerintahan AS dibayang-bayangi akan insiden meninggalnya Duta Besar AS di Libia Chris Stevens kembali terjadi [baca:Protes Film Innocence of Muslims, Dubes AS Tewas]. Untuk mencegah hal tersebut, AS mengancam akan memburu pengunjuk rasa yang anarkis.
"Kami tidak akan tinggal diam sampai pelaku penyerangan Kedutaan Besar AS ditangkap," kata Menteri Luar Negeri AS Hillary Clinton di hadapan media, Rabu (19/9).
Hillary tengah bekerja sama dengan pemerintahan di seluruh dunia untuk melindungi kedutaan besar dan staffnya. Ia meminta negara-negara dengan aksi massa terbesar, termasuk Pakistan dan Indonesia, untuk memberikan keamanan lebih kepada aset AS.
Hingga kini, protes terhadap film "Innocence of Muslims" masih terjadi di Pakistan. Sekitar dua ribu pengunjuk rasa memadati Karachi dan meneriaki yel-yel anti-AS. Mereka juga melakukan aksi dengan membakar bendera AS. (FRD/RT-News)

