Perang Lawan Geng Motor

Angkutan Umum Harus Jadi Tempat Aman

Setelah kontroversi komentar Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo soal rok mini mereda, kita pun mendengar berita agak melegakan. Pelaku pemerkosaan dalam angkot tertangkap di Sumatera Barat, Selasa (20/9) malam.

Ternyata korps polisi Indonesia masih memiliki kemampuan untuk menangkap buron pelaku pemerkosaan. Meski pada awalnya, korban pemerkosaanlah yang terpaksa menangkap sendiri salah satu pelaku setelah frustrasi akan polisi yang tak kunjung bergerak memproses laporannya.

Sebelumnya, lewat artikel Bukan Salah Rok Mini, kami sengaja meminta komentar dari pembaca tentang komentar yang dilontarkan oleh Fauzi Bowo pada perempuan agar tidak mengenakan rok mini guna mencegah menjadi korban tindak asusila.

Banyak yang berpihak dan membenarkan pernyataan Foke tersebut. Tapi ada juga yang memberi perspektif lain. Seperti yang dituliskan oleh Vera, "Sebagai perempuan gue cukup tahu masalah ini. Memang lebih baik dari awal kita menjaga diri, tapi memang sekarang penjahat itu nggak pandang bulu. Gue yang pakai kerudung saja masih suka ketemu sama cowok-cowok yang nggak tahu diri. Pegang sana pegang sini."

Apple Linda pun menyampaikan curhatnya untuk Bang Foke lewat forum komentar. "Waktu saya hamil besar, sumpah bang, kagak ada seksi-seksinya, btw, gue pakai jilbab kok....eeeh kena juga tuh diusilin. Gue nggak pernah pakai rok mini, celana pendek atau berpenampilan seksi, tapi kadang suka dipepet cowok entah sengaja entah tidak sengaja. Ada saja cowok yang duduk dengan kaki melebar (seperti ada yg ganjal di pangkal pahanya) atau sedang berdiri di bus, ada saja yg menyender."

Ia melanjutkan, "Biasanya reaksi saya dengan ekspresi wajah tidak senang. Tanpa basa-basi atau sopan santun, laki-laki tersebut langsung saya dorong menjauh. Konyolnya mereka malah berkata, "Mbak, kalau tidak mau kesenggol, berdirinya sono jauhan" atau "Naik taksi saja kalau mau lega". Dasar barbar!"

Dua cerita ini hanyalah sedikit contoh dari banyak cerita lain soal betapa tidak nyamannya angkutan umum di Jakarta untuk perempuan. Dan dari cerita mereka kita tahu, imbauan Foke soal tidak memakai rok mini atau celana pendek saat menaiki angkutan umum demi mencegah pelecehan tidak efektif. Atau, dalam kata-kata Bang Joned, "Menutupi kelemahan tidak bisa bikin aman warga, maka warga yang disalahkan, dan (semata) cari cari alasan."

Heru Oceano juga menyatakan, "Bukan masalah rok mini atau celana pendek, tapi tingkat keamanan dan kenyamanan di angkutan umum itu sendiri sudah rapuh."

Selain itu, logika bahwa demi mencari aman, kita harus menaiki taksi juga tidak tepat. Perlindungan keamanan bagi warga suatu kota atau negara adalah hak mendasar, bukan bagi siapa yang mampu membayar. Itu kan sebenarnya pengejawantahan dari sila kelima Pancasila, Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia? Ingat, 'seluruh rakyat Indonesia', bukan 'mereka yang mampu membayar'.

Komentar-komentar yang masuk ke kami juga memberikan berbagai tips dan kiat buat Fauzi Bowo untuk mencegah terjadinya perkosaan, pelecehan atau berbagai tindak kejahatan lainnya di angkutan umum. Masih menurut Heru Oceano, "Saran saya, kalau bisa tiap angkutan ditempatkan polisi. Karena kalau di atas angkot ada polisinya, mungkin manusia bejat yang sering mengintimidasi penumpang akan takut melaksanakan tindakan kejahatan di atas angkot."

Saran serupa juga disampaikan oleh I Gusti. "Kalau menurut aku, mending pihak keamanan lebih dioptimalkan kerjanya, bergabung dengan penumpang di kendaraan umum ato tempat-tempat rawan. CCTV lebih diperbanyak di bagian tempat-tempat rawan kota."

Saripudin juga tampaknya punya kiat sama. "Di mana lokasi rawan harus diidentifikasi, setiap keamanan harus ada di setiap angkot, sopir angkot harus berizin resmi (jangan supir tembak)." Lalu, "Satu hal lagi yang paling penting, jangan saling tuding tapi saling bantu."

Windy Angreany juga menekankan perlunya disiplin pada sopir angkot. "Kalau bisa para sopir-sopir kendaraan umum lebih diperhatikan kedisiplinannya dan ditingkatkan sistem penggajiannya yang lebih baik. Aku yakin para sopir-sopir itu pasti akan lebih tertib dan menjaga keselamatan penumpangnya, seperti seorang pilot.

Selain pencegahan dari sisi penegakan hukum, pengguna Coca Cola pun melihat perlunya hukuman yang diperberat untuk pelaku pelecehan untuk memberikan efek jera. Menurut dia, "Melihat dengan tatapan kurang ajar, melakukan perbuatan tidak senonoh atau memberikan komentar bernada pelecehan dan merendahkan martabat perempuan harus dikategorikan sebagai pelecehan." Bukankah perlakuan-perlakuan seperti ini yang dikeluhkan oleh Apple Linda di atas?

Ia juga merasa perlu diperbanyak kuota perempuan di legislatif agar perlindungan terhadap perempuan dapat dipandang dari sudut perempuan dan bukan sebaliknya. "Sehingga perempuan tidak lagi dianggap 'penyebab'," kata dia.

Sudut pandang perempuan dalam penanganan kasus pemerkosaan tampaknya memang penting, terutama dari sisi kepolisian. Seperti yang terjadi pada korban perkosaan di angkot, ia terpaksa menangkap sendiri pelaku yang memerkosa dia karena polisi tidak tanggap menangani laporannya.

Pengguna Revicang berbagi pengalamannya yang hampir serupa, "Tolong juga pak gubernur, pihak keamanan, dalam hal ini polisi, bersikap betul-betul mengayomi masyarakatnya. Ada teman nyaris diperkosa, sudah lapor, kemudian pelaku ditangkap tapi tidak sampai seminggu ditahan, sudah dilepas. Memang pelapor orang biasa dan tidak punya duit. Sekarang pelaku bertingkah dengan hal yang sama lagi di daerah lain."

Daripada berkomentar soal pakaian (yang ternyata tidak tepat juga dalam mengatasi pelecehan), pembaca kami memberikan masukan-masukan yang lebih tepat sasaran buat Gubernur DKI Jakarta. Kini masalahnya adalah, apakah Bang Foke mau memberi jaminan keamanan buat para perempuan di kota ini dan pengguna angkutan umum secara keseluruhan?

PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.