TEMPO.CO, Jakarta - Satuan Tugas Perlindungan Anak menilai tawuran merupakan ekspresi kekerasan pelajar. Ekspresi ini dapat disebabkan beberapa faktor seperti lemahnya pengasuhan dan ketahanan keluarga, seperti pendidikan yang tidak ramah anak seperti tak berorientasi pada pengetahuan. Dan lingkungan yang anarkis dan mempertontonkan kekerasan.
"Seperti premanisme elit dan jalanan, sinetron, game online," Ketua Satgas Anak M Ihsan, dalam siaran persnya, Rabu 26 September 2012.
Tawuran juga dapat dipicu oleh ketidakmampuan orang dewasa memahami dunia anak, energi yang tidak tersalurkan dengan baik dan fasilitas yang terbatas. Kemudian tekanan sistem pendidikan yang membuat anak stres, pengaruh kelompok atau pergaulan, pendapat dan suara anak yang tidak didengarkan. "Serta kurangnya penghargaan terhadap anak dan pemanfaatan waktu luang," Ihsan berujar.
Untuk menurangi ekspresi kekerasan ini, kata Ihsan, semestinya pemerintah dan masyarakat segera berbenah dengan melibatkan anak. "Libatkan anak dalam semua proses, bukan menggabungkan sekolah," kata dia.
Wacana penggabungan SMA 6 dan SMA 70 muncul setelah terjadinya tawuran yang mengakibatkan tewasnya pelajar SMA 6. Akibat tawuran itu, dua sekolah tersebut untuk sementara diliburkan.
Tawuran antara SMA 6 dan SMA 70 terjadi pada Senin 24 September 2012. Beberapa murid SMA 6 tiba-tiba diserang puluhan siswa SMA 70. Kelima murid yang diserang kocar-kacir di kawasan bundaran Bulungan. Ada dua guru SMA 6 yang melihat kejadian tersebut dan membubarkan mereka.
Tawuran berlangsung singkat, sekitar 15 menit. Namun, tawuran ini menyebabkan dua korban terluka dan satu korban terkena luka bacok di bagian dada. Dia adalah Alawi, siswa kelas X SMA 6, yang kemudian sempat dilarikan ke rumah sakit. Tapi nyawanya tak tertolong.
NUR ALFIYAH
Berita Lainnya:
Sebelum Meninggal, Alawy Tak Sempat Cium Sang Ibu
Jika Terbukti Menusuk, Siswa SMA 70 Dikeluarkan
Posko Anti-tawuran di Bulungan Dinilai Tak Efektif
KPAI: Tawuran Menampar Dunia Pendidikan



Yahoo! OMG