Apakah Para Pemain Muda Baik-baik Saja?

Apakah para pemain muda yang berada di pucuk turnamen Masters memiliki cukup kemampuan untuk bertahan?

Jika ditanyakan kepada Rory McIlroy (21) dan Jason Day (23) — yang melakukan tee off di putaran ketiga hari Sabtu — pertanyaannya akan sedikit berbeda. Mampukah dua anak muda ini menangani tekanan yang menyesakkan dada, terutama setelah seseorang yang suka mengenakan baju merah pada hari Minggu semakin mendekat?

Hari Jumat pukul 6 sore waktu setempat, cerita yang paling banyak diperbincangkan orang adalah ketika McIlroy, Day, dan Rickie Fowler (22) mengubah Augusta National menjadi taman bermain mereka. Berpadu untuk memukul 23 under pada dua hari bersama, mereka membuat penyiar CBS  terheran-heran apakah inilah momen golf berpindah ke generasi selanjutnya.

Kurang dari 90 menit kemudian, cerita itu berkembang makin serius. Tiger Woods beraksi, menghasilkan sembilan birdie untuk memukul 66 dan menempatkan dirinya di posisi seri untuk peringkat tiga. Juara Masters empat kali itu tiba-tiba menjelma sebagai orangtua bertanggungjawab yang mencoba memanjakan anaknya di pesta.

Ini tidak lantas berarti Tiger sendiri peduli nama siapa yang terletak di atasnya di papan juara. Ketika ditanya soal dua anak muda berusia 20-an yang ada di depannya, Woods mengangkat bahu. “Saya hanya berusaha supaya bisa bermain hari Minggu,” katanya. “Yang ada di sana tidak relevan.”

Dia memang tidak menekankan kata “tidak relevan” tetapi Anda jadi bertanya-tanya apakah itu bagian dari sportivitasnya. Akankah McIlroy dan Day mendengar kutipan tadi dan mulai bertanya-tanya soal relevansi mereka pada akhir pekan itu?

Mungkin tidak.

Meski masih muda, McIlroy bersikap yakin dan nyaman dalam menjalani dua putaran pertama di 10 under, menghasilkan satu bogey. Berumur 21 tahun, dia adalah pemain termuda nomor dua yang memegang gelar pemimpin 36-lubang di Turnamen Masters. Tiger Woods berusia beberapa bulan lebih muda sewaktu menaklukkan lapangan pada 1997.

Jika Tiger menakutinya, pemuda Irlandia Utara itu tidak menampakkannya. Dia bahkan seperti menantang ketika diberitahu bahwa Woods sedang beranjak naik papan juara. “Turnamen ini akan bagus sekali jika dia ada di papan,” kata McIlroy. “Tetapi saya dua pukulan di depannya, posisi saya lebih baik.”

Ketika ditanya apakah dia siap memenangi turnamen pada usia 21, McIlroy menjawab, dia telah melihat semua nama di lapangan minggu ini “dan pada satu titik, saya pernah mengalahkan mereka. Jadi tak ada alasan saya tak bisa mengalahkan mereka lagi.”

Day, sementara itu, bermain di Masters pertamanya (turnamen besar ketiga). Tetapi dia cukup cermat mengikuti permainan McIlroy dalam memukul 65 di putaran pertama. Pemuda Australia itu lalu menerapkan pengetahuannya pada permainan hari Jumat.

Hasilnya? Skor 64 yang 8-under, putaran terendah pada minggu ini dan menyamai putaran terendah yang pernah diciptakan pemain yang bermain pertama kali di Masters. Dia bermain dua pukulan di bawah McIlroy pada Sabtu.

Saya telah bermain dua putaran dengan baik untuk bisa sampai di sini,” kata Day, yang memenangkan Kejuaraan HP Byron Nelson tahun lalu. “Jelas sekali saya tidak akan mundur hanya karena saya kurang pengalaman.”

McIlroy, Day dan Fowler adalah pemain termuda yang berada di daftar 10 pemain teratas. Tetapi anak muda lainnya, Alvaro Quiros, juga ada di sana. Pekan ini, keempatnya total memulai delapan Masters, sementara Tiger bermain untuk kali ke-17.

Memang, Woods menang Masters setelah bermain tiga kali di Augusta National. Bagi pemain hebat sejati, akan ada masa ketika mereka harus menjawab panggilan. Ketika bakat mereka menanjak, sementara kurangnya pengalaman mereka jadi renungan belaka.

Bagi Mcllroy, yang sepertinya ditakdirkan jadi pemain hebat, apakah ini masanya?

“Selalu ada masa ketika orang bertambah tua dan mengubah perilaku,” kata Quiros, yang berada empat pukulan di belakang. “Saya kira dalam kasus Rory, masa itu bisa terjadi pekan ini.”

McIlroy dan Day dan Fowler, tiga pemain muda, berbincang-bincang soal betapa senangnya mereka di awal turnamen. McIlroy juga menceritakan cara barunya bersantai — dengan main lempar bola bersama teman-temannya. Fowler, tentu saja, dapat pertanyaan soal pakaiannya yang menarik perhatian.

Ketika mereka beranjak ke tee mereka hari Jumat, Day bergurau ke dua rekannya: dia hendak membayar penonton supaya mau bersorak untuknya (sebab nama McIlroy dan Fowler sudah lebih terkenal).

Pada akhirnya Day tak perlu mengeluarkan uang. Dia hanya perlu memukul 64.

“Suasananya hebat,” kata Day. “Kami bertiga bermain bagus semua.”

Tetapi waktu bersenang-senang telah habis. Kita telah sampai di akhir pekan di Augusta. Sekarang semuanya jadi serius. Tiger dan pemain veteran lainnya berada di hadapan. Mampukah para pemain muda mengatasi mereka?

“Jika pikiran dibiarkan melayang-layang,” kata McIlroy, “bisa membuat kita memukul jelek.”

Day menambahkan: “Anda membutuhkan pengalaman pada Sabtu dan Minggu. Dua hari itu merupakan dua putaran besar yang harus dimainkan dengan baik.”

Pengalaman — sebuah kata sandi untuk kemampuan mengatasi tekanan. Anak muda ini harus cepat beranjak besar dalam dua hari ke depan.

PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.