Jakarta (ANTARA) - Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sofjan Wanandi mengatakan, iklim berusaha di Indonesia saat ini membutuhkan kepastian hukum dan sarana infrastruktur untuk mendorong peningkatan industri dalam negeri.
"Sebenarnya bukan karena tax holiday, tapi listrik, infrastruktur dan birokrasi yang baik," ujarnya saat ditemui di Jakarta, Selasa.
Tax holiday adalah pengurangan atau penghilangan pajak secara sementara.
Menurut Sofjan, keberadaan listrik dan jalan sangat penting bagi keberlangsungan industri dalam negeri, dan itu merupakan hal yang terpenting bahkan dibandingkan dengan pemberian insentif berupa keringanan pajak sekalipun.
Ia menambahkan apabila masalah mendasar tersebut dapat terselesaikan, para pengusaha tidak akan segan untuk menaikkan upah buruh sesuai dengan kesepakatan terbaik.
"Kita bisa menaikkan (upah) lebih tinggi, jauh lebih tinggi dari keputusan sekarang," katanya.
Sofjan mengatakan bentuk insentif yang diberikan pemerintah untuk mendorong peningkatan investasi belum memuaskan para pengusaha dan persyaratan untuk mendapatkan keringanan pajak tersebut sangat menyulitkan.
"(tax holiday) tidak banyak beda dengan tax allowance, tapi saya merasa memang ada miskomunikasi antara keinginan pengusaha, seolah-olah dijanjikan (pembebasan pajak) dengan statement menteri, yang keluar di lapangan itu berbeda," ujarnya.
Menurut dia, dengan banyaknya permasalahan yang melanda dunia usaha saat ini, termasuk permasalahan upah buruh, industri garmen dan sepatu yang berlokasi di Banten bersiap untuk memindahkan pabrik mereka ke Myanmar.
"Mereka ingin pergi karena masalah upah buruh, karena mereka tak tahan naik dari Rp1,2 juta menjadi Rp1,7 juta, mereka mau naik Rp1,5 juta saja. Ini masalahnya lebih berat dari tax holiday," kata Sofjan.
Sofjan mengharapkan industri tersebut tidak akan memindahkan basis produksinya dari Indonesia, karena akan berdampak kepada 500 ribu tenaga kerja yang bernaung dalam sektor peralatan rumah tangga tersebut.
"Kalau ini terus, mereka keluar ke Myanmar. Investasinya tidak besar, cuma tenaga kerja yang akan menganggur dari Banten sudah 500 ribu saja, untuk (industri) garmen dan sepatu," ujarnya.


Belum ada komentar