Medan (ANTARA) - Asosiasi Pengusaha Indonesia Sumatera Utara berharap peringatan Hari Buruh dilakukan pekerja dengan aktivitas yang lebih bersifat membangun kebersamaan antara pekerja dan perusahaan termasuk pemerintah, bukan turun ke jalan atau demonstrasi
"Aksi peringatan Hari Buruh 1 Mei yang dilakukan pekerja dengan turun ke jalan, bukan saja mengkhawatirkan pengusaha khususnya asing tetapi juga masyarakat.Jadi aksi turun ke jalan sudah harus diganti dengan kegiatan yang lebih sama-sama menguntungkan," kata Sekretaris Apindo Sumut, Laksamana Adiyaksa, di Medan, Rabu.
Aksi peringatan Hari Buruh akan menarik simpatik kalau dilakukan pekerja dengan melakukan kegiatan yang lebih bermakna termasuk ke masyarakat.
Pekerja bisa melakukan kegiatan dialog atau bakti sosial dengan tetap menyampaikan keinginan-keinginan pekerja .
Menurut dia, antara pengusaha dan pekerja sama-sama saling membutuhkan sehingga seharusnya bisa semakin memiliki kedekatan hubungan.
Adanya komunikasi yang baik dan lancar diyakini bisa semakin mendekatkan hubungan yang berdampak pada kelancaran usaha dan akhirnya sama-sama dinikmati pekerja dan perusahaan bahkan pemerintah.
Mengenai penilaian pekerja tentang upah yang masih belum memadai, menurut Laksamana, kenaikan upah itu merupakan kesepakatan serikat pekerja, asosiasi pengusaha dan pemerintah.
Tiap tahun upah juga naik dengan persentase tergolong tinggi dibandingkan daerah lain.
"Upah tentunya juga harus disesuaikan dengan kondisi perusahaan dimana dewasa ini harus diakui masih terganggu dengan dampak krisis di AS dan Eropa," katanya.
Besaran upah yang tidak bisa dipenuhi pengusaha bisa berdampak negatif juga kepada pekerja.
"Jadi memang harus ada kesepahaman antara pekerja, perusahaan dan pemerintah," katanya.
Ketua Konfederasi Serikat Buruh Sejahtera Indonesia (K-SBSI) Sumut, Edward Pakpahan, mengatakan, aksi turun ke jalan dalam peringatan Hari Buruh tidak dimaksudkan untuk membuat keonaran.
"Pekerja melakukan aksi itu hanya untuk kembali mengingatkan pengusaha dan pemerintah bahwa pekerja masih merasa belum mendapatkan haknya secara penuh," katanya.
Mei tahun ini, K-SBSI sendiri sudah menetapkan empat titik untuk aksi demonstrasi yakni di Medan, Siantar, Tanjung Balai dan Tebing Tinggi.
"Tetapi pekerja sudah diwanti-wanti untuk tidak membuat tindakan anarkis, jadi tidak ada yang perlu ditakutkan pengusaha, masyarakat dan pemerintah," katanya. (ar)


