Atasi Krisis, Bea Masuk Kedelai 5% Dihapus

Liputan6.com, Jakarta: Kenaikan harga kedelai tak terlepas dari melonjaknya harga kedelai dunua. Pasalnya selama ini Indonesia sangat bergantung pada impor. Saat ini harga kedelai dunia melambung dari US$ 280 menjadi US$ 750 per ton. Sementara harga di pasar Indonesia mencapai Rp 8.000 per kilogram.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengatakan pemerintah tengah menyiapkan sejumlah langkah dalam penanganan krisis kedelai. Di antaranya dengan menghapuskan harga bea masuk kedelai yang berjumlah lima persen untuk menjaga stabilisasi harga. Peningkatan produksi dalam negeri juga menjadi keharusan.

"Kita harus meningkatkan produksi dalam negeri, netnya belum bersih 2,2 juta ton kedelai, sedangkan produksi kita hanya berkisar 800-850 ribu ton kedelai, sehingga kekurangannya besar 1,1 juta ton kedelai," kata SBY dalam pembukaan Sidang Kabinet Paripurna di Kantor Presiden, Kamis (26/7).

Sementara itu untuk langkah jangka panjang, Presiden SBY meminta Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) untuk menyediakan lahan perkebunan kedelai. "Sudah saatnya BUMN pangan, lahan yang cukup untuk bisa memproduksi. Kalau lihat pertumbuhan penduduk, demand akan terus naik," kata Kepala Negara.

Kenaikan harga kedelai membuat perajin tempe dan tahu di berbagai daerah kelimpungan. Seperti para perajin tempe rumahan di Desa Debong Tengah, Tegal, Jawa Tengah. Para perajin terpaksa mengurangi ukuran tempe agar tidak merugi. Sejumlah perajin tempe lainnya memilih untuk menaikkan harga jual.(JUM)