Perang Lawan Geng Motor

Balok Legit dari Bandung

TEMPO.CO, Bandung-Bagi sebagian orang, makanan untuk berbuka puasa tak cukup hanya manis, tapi juga harus mengenyangkan. Apalagi, jika terjebak macet dan berada cukup jauh dari rumah atau restoran. Perlu sepotong kudapan legit dan padat kalori untuk mengganti energi setelah seharian berpuasa. Orang Bandung punya satu camilan yang memenuhi kriteria itu: kue balok.

Kue berbahan dasar terigu, mentega, gula pasir, dan telur ayam ini cukup untuk mengganjal perut selepas berpuasa. Ukurannya yang kecil membuat kue balok cocok sebagai bekal di perjalanan. Meski sederhana—cuma berbentuk balok sepanjang 7 sentimeter—kue ini menawarkan sensasi rasa yang beragam. Renyah dan gurih di luar, tapi lembut dan manis di bagian dalam.

Tak begitu jelas dari mana kue balok berasal. Ada yang mengatakan kue ini berasal dari Garut, kota kecil yang berjarak 60 kilometer dari Bandung. Namun sebagian warga Bandung percaya kue ini merupakan produk orisinal Kota Kembang yang terkenal sejak dekade 1960-an. Kudapan ini biasanya dijajakan di kios-kios atau jongko yang terletak berdekatan dengan pasar tradisional.

Menurut Enjang Sutisna, pedagang kue balok di kawasan Pasar Astana Anyar, kue ini dulu dijadikan menu sarapan para pedagang dan penarik becak. Kue ini cocok untuk konsumsi para pekerja keras karena adonannya terasa manis, padat, liat, dan berkalori tinggi. "Makan satu atau dua saja cukup kenyang," kata dia, yang sudah berjualan kue balok sejak 1980. Kini jumlah penikmat kue balok semakin banyak. Selain pedagang atau penarik becak, jongko kue balok kini dipadati oleh konsumen yang berpenampilan necis dan bermobil.

Pada bulan puasa, pembeli elit ini biasa memadati penjaja kue balok pada sore hari menjelang waktu berbuka. Salah satu kios kue balok yang kerap disambangi "pembeli elite" adalah Warung Kue Balok Mang Udju di Jalan Cihapit. Kios yang berlokasi di dekat kawasan factory outlet di Jalan Riau ini menyajikan kue balok dengan aneka topping dan rasa. Menurut Fahmi Adam, pemilik kios tersebut, selain kue balok polos, ada enam topping yang tersedia, yakni keju, kismis, almond, cokelat, nanas, dan stroberi. "Variasi rasa itu mampu menarik pembeli berusia muda," katanya.

Meski menawarkan rasa baru untuk produknya, Fahmi tetap menggunakan teknik khas pembakaran dua arah untuk membuat kue balok. Adonan yang kental dimasukkan ke dalam cetakan logam dan dipanggang di atas bara arang. Setelah separuh matang dan diisi dengan topping, bagian atas kue itu ditindih dengan bejana yang juga berisi arang panas. Teknik ini, kata Fahmi, bisa membuat kue matang dengan sempurna. "Bagian atasnya pun jadi lebih garing," ujarnya. Meski diisi aneka dengan topping, kue balok besutan Fahmi cukup murah, yakni Rp 900-Rp 1.500 per buah. Harga jual di warung ini sama dengan harga belasan jongko lain yang tersebar di beberapa pelosok Kota Bandung. Cukup untuk dijadikan alternatif menu berbuka puasa yang murah meriah.

FERY FIRMANSYAH

PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.

POLL

Yakinkah Anda, wanita-wanita yang terlibat dengan Ahmad Fathanah akan dikenakan sanksi hukum?

Memuat...
Opsi Pilihan Jajak Pendapat