Berburu Harta Luthfi

Balthasar: Kerusakan Lingkungan Disebabkan Kurangnya Tenaga Pengawas

Jakarta (ANTARA) - Menteri Lingkungan Hidup Balthasar Kambuaya mengatakan salah satu penyebab kerusakan lingkungan adalah kurangnya tenaga pengawas lingkungan hidup.

"Kerusakan lingkungan disebabkan antara lain kurangnya tenaga pengawas di lapangan," kata Balthasar Kambuaya di Jakarta, Kamis.

Menurut dia, Kementerian Lingkungan Hidup pada 2012 mendidik 1.500 tenaga pengawas lingkungan dari 1.600 tenaga pengawas yang diperlukan untuk ditempatkan di seluruh Indonesia.

Balthasar mengatakan, selama ini tenaga pengawas lingkungan bekerja tanpa payung hukum yang jelas sehingga mereka bekerja rangkap sebagai Pegawai Negeri Sipil dan tenaga pengawas.

Bahkan di beberapa provinsi terntentu tenaga pengawas lingkungan hidup hanya ada satu atau dua orang sehingga cukup sulit melakukan tugas pengawasan.

Di samping itu, faktor penempatan oleh daerah yang tidak tepat dimana mereka yang dididik sebagai tenaga pengawas ditempatkan pada posisi yang lain, hal tersebut menyebabkan Kementerian Lingkungan Hidup kekurangan tenaga pengawas lingkungan.

"Hal ini salah satunya yang menyebabkan banyak kerusakan lingkungan di lapangan yang tidak kita ketahui," tambah Balthasar.

Untuk memberikan kepastian hukum kepada tenaga pengawas lingkungan hidup, Kementerian Lingkungan Hidup dan Badan Kepegawaian Negara menandatangani peraturan bersama tentang jabatan fungsional pengawas lingkungan hidup dan angka kreditnya.

Lebih lanjut Balthasar mengatakan, Kementerian Lingkungan Hidup terus mendorong agar kebutuhan tenaga pengawas lingkungan terpenuhi dengan mendidik tenaga-tenaga teknis tertentu.

"Jelas dalam Undang-Undnag 32 tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup memerintahkan adanya tenaga pengawas lingkungan, dan kita terus mendorong ini terpenuhi," ujar Balthasar. (tp)




PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.