INILAH.COM, Jakarta - Bank Dunia menyatakan, gejolak aliran modal portofolio dan pasar saham di Indonesia menunjukan bahwa perekonomian negeri ini tidak kebal dari ketidakpastian di zona euro.
Kepala Perwakilan Bank Dunia untuk Indonesia, Stefan Koeberle, mengatakan meski Indonesia masih menikmati pertumbuhan kuat dibandingkan dengan negara-negara ekonomi berkembang lainnya, berkat kuatnya konsumsi domestik dan investasi, namun Indonesia tidak dapat menghindar dari dampak penurunan ekonomi global.
"Terutama jika harga komoditas dunia dan permintaan seperti China terkena dampaknya," tuturnya di Jakarta, Kamis (12/7/2012).
Harga-harga komoditas utama Indonesia, seperti batu bara, karet, minyak sawit, dan tembaga telah menurun, hampir mencapai 20%. Ia mengatakan, hal ini menyumbang terhadap melemahnya ekspor dan bergeraknya neraca berjalan ke arah defisit. Sementara nilai tukar rupiah terus melemah, turun sekitar 10% terhadap dolar AS sejak Agustus 2011.
Menurut Bank Dunia, Indonesia mampu melewati gejolak perekonomian global saat ini dengan pertumbuhan tahun 2012 diproyeksikan mencapai 6%. "Menuju 2013, proyeksi baseline untuk pertumbuhan adalah 6,4 persen. Namun, krisis ekonomi global yang parah dapat menekan pertumbuhan turun ke sekitar 4 persen," ungkapnya.
Berdasarkan laporan Perkembangan Triwulanan Perekonomian Indonesia edisi Juli 2012, pemerintah Indonesia harus memprioritaskan kebijakan dalam menghadapi krisis. Pasalnya, gejolak pasar keuangan internasional diperkirakan akan terus berlanjut dalam jangka pendek.
"Persiapan rencana kebijakan fiskal, sebagai contoh, belanja untuk mendukung ekonomi dan melindungi masyarakat miskin, harus dimulai sekarang, sehingga mereka dapat dilaksanakan secara cepat ketika krisis terjadi," ungkapnya.
Sedangkan Ekonom Utama Bank Dunia untuk Indonesia, Subham Chaudhuri mengatakan, Indonesia menghadapi tantangan ganda yaitu meningkatkan kesiapan menghadapi krisis untuk menghadapi goncangan jangka pendek, dan pada saat bersamaan mendukung pertumbuhan jangka menengah.
Hal tersebut akan membutuhkan kelanjutan reformasi struktural dan investasi, yang dapat meningkatkan rasa percaya diri investor di saat yang mungkin paling dibutuhkan. "Tidak ada ruang untuk rasa puas diri di lingkungan pasar yang rentan saat ini,' ungkap Subham Chaudhuri.
Peluncuran laporan Perkembangan Triwulanan Perekonomian Indonesia edisi Juli 2012 ini disertai diskusi panel dengan tema "Indonesia tumbuh dalam lingkungan global yang lebih rentan", yang dihadiri Direktur Pelaksana Ban Dunia Sri Mulyani Indrawati, Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal M.Chatib Basri, Wakil Menteri Keuangan Indonesia Mahendra Siregar, dan Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sofjan Wanandi. [rus]


