TEMPO.CO, Jakarta -Bank Dunia memberikan pinjaman sebesar US$ 300 juta kepada PT Pertamina Geothermal Energy (PGE) untuk mengembangkan panas bumi di Indonesia. Pertamina berencana menggunakan dana tersebut untuk mengejar target produksi listrik panas bumi sebesar 2000 Megawatt.
Presiden Direktur PT PGE, Slamet Riyadhi menjabarkan secara rinci uang sebesar US$ 300 juta tersebut akan digunakan untuk pembangunan PLTP Ulubelu 3 & 4 senilai US$ 175 juta dan PLTP Lahendong 5 & 6 US$ 125 juta. "Ulubelu kapasitasya 2 x 25 Mw dan Lahendong 2 x 20 Mw," kata dia saat penyerahan dokumen dengan Bank Dunia, Senin, 18/06.
Bank dunia, katanya, memberikan tenor pinjaman tersebut selama 30 tahun ditambah masa tenggang 10 tahun. Bunganya sendiri dinilai lunak, tidak seperti bunga bank komersial, yaitu hanya dbawah tiga persen per tahun.
Ia memaparkan, saat ini PGE telah mengoptimalkan penggunaan listrik panas bumi sebesar 292 Megawatt. Ia berniat menaikkannya dua kali lipat menjadi 517 Megawatt pada 2014, dan percepatan target 2000 Megawatt pada 2017."Semula kan targetnya 2000 Mw pada 2020, tapi ini akan kita percepat." Untuk mengejar target, akan ditambah kapasitas listrik panas bumi sebesar 110 Megawatt dari Ulebelu 1 dan 2 yang diperkirakan mulai beroperasi pada 2013.
Selain Bank Dunia, Pertamina juga mendapatkan hibah dari Selandia Baru senilai US$ 6,95 juta."Cuma hibahnya tidak langsung, melalui Bank Dunia," katanya. Uang tersebut diantaranya digunakan untuk design rinci kedua proyek yang didanai dari pinjaman Bank Dunia. Selain dana, pihak Selandia Baru juga memberikan bantuan berupa teknis dan pengiriman tenaga ahli pada proyek-proyek Pertamina Geothermal.
Duta Besar Selandia Baru untuk Indonesia David Taylor memaparkan bantuan proyek ini sekaligus menguatkan ikatan kerjasama di bidang panas bumi yang telah lama dijalin oleh kedua negara. Selandia Baru, katanya, sudah terlibat dengan Indonesia sejak pembangunan PLTP Kamojang yang beroperasi pada 1983,"Kami membangun pembangkit Kamojang yang merupakan pembangkit listrik panas bumi pertama di Indonesia."
Sejak saat itu, Selandia Baru telah melatih banyak insiyur dan ahli di bidang panas bumi dan terus melakukannya. Ia menyatakan, memang masih terdapat beberapa kendala dalam pengembangan panas bumi di Indonesia. Tetapi, para pihak tetap harus mencari jalan keluar hadapi kendala tersebut dan terus memfasilitasi agar bisnis ini terus berkembang."Kami mencoba untuk menolong dan bekerjasama dengan pemerintah Indonesia agar lebih baik dalam pengembangan panas bumi."
GUSTIDHA BUDIARTIE


