Jakarta (ANTARA) - Bank Dunia mendorong negara-negara berkembang mempersiapkan diri dalam menghadapi gejolak ekonomi dunia dengan memperkuat fundamental dalam negeri masing-masing dan menekankan kembali strategi pembangunan jangka menengah.
"Dalam jangka menengah, sentimen investor dan pasar modal dunia tampaknya tetap bergejolak," kata Direktur Prospek Pembangunan Bank Dunia, Hans Timmer, seperti dikutip dari laporan Bank Dunia berjudul Global Economic Prospects/GEP, di Washington, Jumat.
Dalam situasi seperti itu, kata Hans Timmer, negara-negara berkembang harus menekankan pada reformasi yang meningkatkan produktivitas dan investasi infrastruktur.
Menurut Hans Timmer, kembalinya ketegangan di negara-negara Eropa yang berpenghasilan tinggi telah mengikis kemajuan yang dicatatkan selama empat bulan pertama 2012, yang menunjukkan peningkatan kegiatan ekonomi di negara-negara berkembang dan maju dan penurunan penghindaran risiko di kalangan investor.
Ia mengemukakan bahwa meluasnya ketidakpastian terlihat pada pasar saham negara-negara berkembang dan maju yang mencatatkan kerugian sebesar 7 persen, serta menghapus dua pertiga peningkatan yang telah terbangun selama empat bulan sebelumnya.
Sebagian besar harga komoditas industri menurun dengan harga minyak mentah dan tembaga masing-masing turun sebesar 19 persen dan 14 persen.
Kurs valuta negara berkembang terhadap dolar AS juga mengalami penurunan seiring dengan meningkatnya pelarian modal internasional kepada aset-aset yang aman, seperti obligasi negara Jerman dan AS.
"Peningkatan ketidakpastian memicu pemangkasan anggaran, memperlemah sektor perbankan dan terbatasnya kapasitas negara berkembang," ujarnya.
Untuk itu, Bank Dunia memproyeksikan bahwa pertumbuhan ekonomi negara berkembang akan melambat ke angka yang relatif rendah sebesar 5,3 persen pada tahun 2012 sebelum sedikit meningkat ke 5,9 persen pada tahun 2013 dan 6,0 persen pada tahun 2014.
Pertumbuhan di negara-negara maju juga akan melemah, masing-masing sebesar 1,4, 1,9, dan 2,3 persen untuk tahun 2012, 2013, dan 2014, dengan PDB di zona Euro menurun sebesar 0,3 persen pada tahun 2012.
Menurut Hans Timmer, bila keadaan di Eropa memburuk dengan tajam, seluruh wilayah negara berkembang akan turut terpengaruh.
Negara-negara berkembang di Eropa dan Asia Tengah khususnya sangat rentan karena hubungan finansial dan perdagangan yang erat dengan negara-negara maju Eropa.
Sama halnya dengan negara-negara miskin juga akan merasakan dampak penurunan terutama yang bergantung kepada pengiriman dana dari pekerja di luar negeri (remittance), pariwisata atau komoditas ekspor, atau yang memiliki tingkat utang jangka pendek dalam jumlah besar.
Sementara itu, Manajer Ekonomi Global Bank Dunia, Adrew Burns, mengatakan bahwa negara-negara berkembang harus berupaya menurunkan kerentanan dengan memperkecil tingkat utang jangka pendek, memotong defisit anggaran, dan kembali ke posisi kebijakan moneter yang lebih netral.
"Upaya tersebut akan memberikan lebih banyak ruang untuk melonggarkan kebijakan bila kondisi global menurun dengan tajam," ujar Andrew. (tp)

