TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyatakan produksi minyak nasional terus turun dari tahun ke tahun. Wakil Menteri ESDM, Susilo Siswoutomo, menjelaskan hal itu disebabkan banyak sumur yang sudah tua.
Susilo mengatakan, setiap tahun penurunan produksi minyak diperkirakan sekitar 13-15 persen. Untuk menahan laju penurunan, cara yang dilakukan antara lain enhance oil recovery (EOR) yang memakan banyak biaya. Akibatnya, cost recovery yang harus dikeluarkan pemerintah pun meningkat.
"Karena itu, perlu dilakukan sosialisasi yang lebih banyak kepada masyarakat mengenai hal tersebut," ujarnya, Senin (18/2/2013).
Dia mengibaratkan, mengelola industri migas seperti biaya pemeliharaan kesehatan orang tua. Artinya, ketika usia merangkak naik, maka biaya kesehatan yang harus dikeluarkan jauh lebih besar dibanding ketika masih berusia muda.
Untuk mendongkrak produksi minyak, pemerintah juga mendorong eksplorasi migas. Hasil eksplorasi yang dilakukan saat ini, baru dapat dirasakan 10 tahun mendatang. Padahal, tidak semua kegiatan eksplorasi tersebut dapat berlanjut menjadi produksi migas.
"Sejak 2001 hingga 2012, ada sekitar 175 KKKS migas baru. Namun hanya 10 KKKS saja yang bisa berlanjut ke plan of development. Penemuan yang terbesar hanya di Cepu. Lainnya kecil-kecil," ungkap Susilo.


