Bekas Polisi Jadi Polisi Gadungan  

TEMPO.CO, Malang - Ulah Bambang Sriono, 50 tahun, tergolong lihai. Warga Pacitan, Jawa Timur, yang dipecat sebagai anggota kepolisian itu malah melakukan aksinya sebagai polisi gadungan. Mengaku berpangkat letnan kolonel atau ajun komisaris besar polisi, Bambang melakukan penipuan di Malang dan Jawa Barat. "Tersangka membawa pistol mainan dan senjata angin kaliber 4,5 milimeter," kata Kepala Kepolisian Sektor Blimbing, Komisaris Polisi Gatot Suseno, Selasa, 5 Juni 2012.

Bambang mengantongi enam kartu tanda penduduk (KTP) dengan alamat yang berbeda. Bambang juga membawa buku cek palsu senilai Rp 1,7 miliar. Barang-barang tersebut telah disita sebagai barang bukti. Polisi juga menyita barang bukti lainnya berupa baju seragam polisi, tujuh telepon seluler, jaket, mobil Isuzu Panther, dan topi polisi.

Dalam melakukan aksinya Bambang mengaku sebagai perwira menengah di Kepolisian Daerah Jawa Timur. Tak hanya itu, Bambang juga membawa seorang perempuan yang diakuinya sebagai istrinya. "Padahal perempuan tersebut juga menjadi korbannya. Keduanya baru dikenal," ujar Gatot.

Kepada para korbannya Bambang mengaku memiliki sejumlah usaha, mulai dari hotel berbintang lima hingga berbagai jenis industri.

Bambang ditangkap anggota Polsek Blimbing, Senin, 4 Juni 2012, saat berada di Kantor Pengadilan Agama Malang atas laporan sejumlah korban. Bambang tak berkutik saat dirinya ditangkap dan dijebloskan ke dalam sel tahanan Polsek.

Bambang pernah menjadi anggota Kepolisian Wilayah Madura, bertugas selama enam tahun dengan pangkat terakhir kopral dua. Bambang dipecat karena disersi, tak masuk kerja selama tiga bulan berturut-turut. "Menipu karena ingin menjadi polisi lagi," ucap Bambang di hadapan polisi yang memeriksanya.

Bambang mengaku sehari-hari berprofesi sebagai sopir, tapi merangkap pekerjaan sebagai penipu sejak tiga tahun terakhir. Bambang terbilang gesit karena sempat beberapa kali lolos pemeriksaan petugas patroli jalan raya.

EKO WIDIANTO

PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.