Berlin ke Kopenhagen Dengan Bus dan Kapal Feri

Sarana transportasi favorit saya, sesuai prioritas, adalah kereta api, bus, pesawat terbang, dan kapal/feri. Jika sarana transportasi ini bisa berhenti di suatu tempat di tengah-tengah perjalanan, maka akan jauh lebih baik. Saya tidak keberatan membayar lebih mahal untuk bepergian lewat darat atau air daripada udara, sebab menurut saya ada bagian dari perjalanan yang hilang jika terus naik pesawat.

Ketika melancong menuju Kopenhagen, Denmark, dari Berlin, Jerman dua tahun silam, saya memilih jalan darat. Dilihat di peta, tentu saja, tanah Jerman dan Denmark tersambung. Tapi dilihat dari jaraknya terlihat memutar jauh. Bagaimana jika dikombinasikan dengan kapal feri?

Setelah mencari informasi, saya dapat informasi jasa bus dan feri yang dikombinasikan. Jalurnya adalah Berlin ke Rostock, sebuah kota pelabuhan di utara Jerman. Dari Rostock, saya akan naik feri ke Gedser, kota kecil di pesisir selatan Denmark. Dari Gedser, saya akan melanjutkan dengan bus lain ke tujuan akhir saya, Kopenhagen.

Total biayanya € 40 sekali jalan. Tarif pesawat terbang sekali jalan? Sekitar € 65 dengan Scandinavian Airlines System (SAS). Tidak buruk. Hanya saja, lama perjalanannya hampir satu hari, dari pagi sampai sore. Berangkat dari Berlin ZOB ("Zentraler Omnibusbahnhof am Funkturm", sebuah terminal bus di barat Berlin yang bisa diakses dari stasiun S-bahn "Messe Nord/ICC") pukul 09:30, sampai di Rostock pukul 12:00 siang. Menunggu kapal merapat dan naik ke kapal sekitar pukul 13:00. Sampai di Gedser sekitar pukul 14:45. Melanjutkan dengan bus ke Kopenhagendan sampai pada pukul 17:20. Lama, ya?

Pagi-pagi saya berangkat dari hostel di bilangan Senefelderplatz menuju Berlin ZOB dengan kombinasi U-bahn dan S-bahn (kereta bawah dan atas tanah). Berlin ZOB masih sepi karena saya datang sangat pagi-pagi sekali, takut jika terjadi kebingungan dan tersesat. Suhu dingin bulan Oktober menusuk.

Uang tunai senilai €40 saya bayarkan ketika naik. Bus yang dinamakan Berolina-Berlin ini ternyata bertingkat. Cepat-cepat saya naik ke dek atas di depan dengan harapan dapat menikmati pemandangan!
Bus Berolina-Berlin yang bertingkat. (Sigit Adinugroho)
Bus berangkat tepat pukul 09:30. Sepanjang perjalanan terlihat hamparan rumput dan pepohonan luas dengan jalan-jalan yang mulus. Kami berhenti di tempat peristirahatan untuk meluruskan kaki dan ke toilet. Sinar matahari menyinari apik dan suhu sangat bersahabat, di sekitar 18°C.
Hamparan rumput dan pepohonan luas di jalan yang mulus. (Sigit Adinugroho)
Perjalanan tiga jam yang biasanya terasa lama jika antara Jakarta dan Bandung itu menjadi seperti persinggahan singkat saja. Tiba-tiba kami melihat dari kejauhan pelabuhan Rostock yang ditunggu-tunggu. Bus merapat ke dermaga. Burung-burung Albatros melintas di atas menandakan kami sudah berada di dekat laut. Di kota-kota Indonesia, saya jarang melihat langit dan laut sebiru ini, paling-paling harus ke daerah terlebih dahulu.

Kami diinstruksikan turun membawa semua barang bawaan dan naik ke anjungan yang akan mengantarkan kami ke kapal. Ketika kapal feri merapat dan membuka pintu, kami masuk dengan tertib.
Kapal bersandar di dermaga. (Sigit Adinugroho)
Kapal ini berukuran sedang dan interiornya sangat bersih. Kami bebas memilih tempat duduk yang tersebar baik di dalam maupun di luar. Jika lapar, ada kafetaria, walau harganya mahal sekali, satu set makanan dan minuman bisa di atas Rp 100.000.
Interior kapal yang bersih. (Sigit Adinugroho)
Bahasa-bahasa di kapal ini sudah beralih ke Denmark. Ketika kapal meraih perbatasan, sinyal ponsel saya mulai mencari-cari lagi, dan menemukan penyedia layanan seluler dari Denmark. Akhirnya, saya sudah di Denmark!

Sigit Adinugroho mengisi blog perjalanan di www.ranselkecil.com

Baca juga:

Monumen "Bergerak" di San Fransisco
10 Tujuan Wisata di Eropa bagi Turis Berdana Cekak
High Line, Taman Gantung Kota New York
[GALERI] Rumah Terbalik di Austria
[GALERI] 10 Kota dengan Makanan Pinggir Jalan Terbaik

PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.