Jakarta (ANTARA) - Bank Indonesia menilai rasio likuiditas utang rumah tangga masyarakat Indonesia masih dalam batas aman, karena hutang jangka pendek maupun total hutang rumah tangga masih dapat dibayar oleh aset lancar.
"Dari sisi kesinambungan rumah tangga Indonesia masih aman, tetapi kita juga mengantisipasi adanya kelebihan hutang akibat spekulasi yang cenderung dilakukan untuk meraih keuntungan investasi," kata Deputi Direktur Departemen Penelitian dan Pengaturan Perbankan Bank Indonesia, Yuanita Resmi Sari, di Jakarta, Kamis.
Penilaian Yuanita itu didasari oleh hasil survei Neraca Rumah Tangga 2011 yang dimaksudkan untuk melakukan analisis mikro terhadap faktor spesifik rumah tangga, seperti konsumsi, tabungan dan neraca rumah tangga yang dapat mempengaruhi dinamika ekonomi secara agregat dan ketahanan sistem finansial suatu negara.
Berdasarkan hasil survei, tercatat Debt Service Ratio (DSR) rumah tangga Indonesia saat ini berada di angka 9,96 persen, relatif lebih rendah bila dibandingkan "treshold" yang dikeluarkan Bank of Canada (40 persen) dan Devaney, 2004 (30 persen), bahkan jumlah itu masih lebih rendah jika dibandingkan dengan DSR rumah tangga Amerika Serikat menjeleng terjadinya krisis "subprime mortgage" pada akhir 2007 lalu yang sebesar 13,9 persen.
"Memang masing-masing negara berbeda, ada yang ekstrim seperti Amerika Serikat sebesar 13,9 persen, kita tidak mau kondisi rumah tangga Indonesia seperti itu," kata Yuanita.
Menurut Yuanita, dengan peningkatan pendapatan rumah tangga sebesar 12,39 persen pada tahun 2011, maka diprediksi akan semakin banyak masyarakat yang melakukan simpanan dana di bank.
"Sebetulnya pertumbuhan rumah tangga dan pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan akan saling mempengaruhi, karena peningkatan jumlah dana yang terhimpun dari masyarakat dapat digunakan untuk pembangunan, sehingga roda perekonomian berjalan ke arah yang positif," katanya.
Namun, Yuanita juga mengingatkan ada kalangan masyarakat yang mulai berspekulasi dengan aset lancar yang mereka miliki karena tergoda untuk berinvestasi.
"Bagus kalau pertumbuhan utangnya didorong oleh kebutuhan seperti kredit pemilikan rumah (KPR), kredit kendaraan bermotor, atau untuk usaha, tetapi kalau untuk investasi yang yang agresif tentunya lebih beresiko terhadap likuiditas rumah tangga," katanya.
Komposisi total utang dibandingkan dengan "disposable income" rumah tangga Indonesia sebesar 18,03 persen pada tahun 2011 tercatat mengalami penurunan dari 19,53 persen pada tahun sebelumnya, yang mencerminkan peningkatan kemampuan rumah tangga untuk membayar cicilan utangnya.
Data tersebut juga secara tidak langsung menunjukkan potensi pembiayaan yang masih tinggi terhadap rumah tangga Indonesia, seiring potensi peningkatan kredit rumah tangga yang juga akan terus berlanjut. (tp)

