Arena
  • Daud Jordan, Chris John (kiri). (ANTARA/Dhoni Setiawan)


    Dunia tinju profesional Indonesia belum bisa berpisah dengan Chris John. Petinju fenomenal berusia 33 tahun itu masih menjadi satu-satunya nama yang dimiliki Indonesia untuk bisa bergaung sampai ke dunia. Lalu, bagaimana jika Chris John pensiun?

    Sulit rasanya bisa melihat banyak nama selain Chris John bermunculan di kancah tinju profesional. Hanya sedikit pihak yang peduli dan menaruh perhatian mengenai pencarian orang yang dapat meneruskan Sang Naga di kemudian hari.

    Salah satu perhatian itu datang dari Raja Sapta Oktohari, salah satu pengusaha yang memang menggemari olahraga adu jotos ini. Okto, begitu dia akrab disapa, bermimpi mengembangkan bisnis tinju agar lebih banyak petinju profesional asal Asia bisa bersaing di tingkat dunia.

    Putra salah satu taipan Indonesia Oesman Sapta Odang itu mulai merintis bisnis olahraga ini sejak memutuskan menjadi promotor Chris John pada Oktober 2010. Dia menjadi salah satu pihak yang berperan menciptakan salah satu laga bagi Sang Naga. Dalam

    Selengkapnya »dari Mimpi Mencari Penerus Chris John
  • Perebutan bola antara Montolivo (kiri) dan Xavi. (Getty Images/David Ramos)

    Ditulis oleh: Aditya Nugroho


    Raksasa itu telah kembali, menyingkirkan raksasa lainnya dengan meyakinkan, dan lolos dengan penuh gaya. Kemenangan empat gol tanpa balas menjawab segalanya. Begitulah gambaran singkat partai leg kedua Barcelona melawan AC Milan Rabu (13/3) dinihari WIB. Barcelona sukses membalikkan keadaan.

    Sukses Barca tidak lepas dari taktik Jordi Roura yang sedikit memodifikasi lini depannya. Messi digeser ke sisi kanan, David Villa menjadi penyerang tengah dan Pedro menempati sisi kiri. Hal ini ternyata efektif karena David Villa mampu membuka ruang bagi rekan-rekannya.

    Pertanda keberhasilan sudah terlihat sejak menit ke-5 saat Lionel Messi mampu melepas tendangan keras meski dikerumuni pemain-pemain belakang Milan dan mengubah kedudukan menjadi 1-0. Gol yang melipatgandakan semangat Blaugrana ini mengingatkan kita saat Deportivo La Coruna mengalahkan Milan dengan skor identik tahun 2004 lalu. Saat itu, Walter Pandiani membuka skor juga di menit ke-5.

    Gol cepat itu juga

    Selengkapnya »dari Kegagalan Taktik AC Milan
  • Laurie Cunningham saat berkostum Wimbledon pada 1988 silam. (Getty Images)

    Ditulis oleh: Yoga Cholandha


    Suatu kali, Franz Beckenbauer, libero legendaris Jerman itu pernah berkata, “Sepak bola adalah cerminan sebuah bangsa.” Meminjam dan memodifikasi kata-kata Der Kaizer, sepak bola sejatinya adalah cerminan dari peradaban itu sendiri.

    Apa yang terjadi di sepak bola mampu menunjukkan tentang apa yang sebenarnya terjadi pada dunia. Baik atau buruk, benar atau salah, semua bisa disaksikan di sana. 

    Rasialisme adalah salah satu borok dunia yang tak kunjung dapat disembuhkan meskipun berbagai upaya telah coba dilakukan oleh pihak-pihak berwenang. Berbagai kampanye sudah digalakkan, namun tendensi yang satu ini tak juga hilang dari dunia. Seakan-akan potensi untuk melakukan tindakan berbau rasial ini sudah tertanam dalam DNA umat manusia. Sepak bola pun tak lepas dari rasialisme.

    Laurence Paul Cunningham, atau akrab disapa Laurie Cunningham barangkali bukan nama paling tenar yang ada di sepak bola. Nama Cunningham jelas kalah dibanding bintang-bintang seangkatannya

    Selengkapnya »dari Mengenang Laurie Cunningham
  • Subhan Aksa (ANTARA/Yusran Uccang)


    Subhan Aksa adalah sosok pereli muda Indonesia yang memiliki jam terbang dan prestasi yang bagus saat ini. Di usianya yang baru 26 tahun, Subhan sudah menjadi juara reli nasional sebanyak tiga kali berturut-turut, pada 2009, 2010 dan 2012.

    Pembalap kelahiran 11 Oktober 1986 itu sudah mengenal dunia balap di usia 8 tahun. “Waktu itu masih main gokart, tapi dipangku karena kekecilan,” ujarnya tertawa ketika diwawancarai Yahoo! Indonesia di sebuah kafe di Jakarta Pusat, Rabu (13/3).

    Barulah di usia 17 tahun ia menjajal trek reli dan mengikuti berbagai seri balap hingga akhirnya mampu mencetak hat-trick juara di usia muda.

    Pria berdarah Sulawesi Selatan itu kemudian mulai menguji kemampuannya dengan pereli dari berbagai negara di balap Asia Pacific Rally Championship pada 2006 lalu. Enam tahun berselang, Subhan naik podium pertama kalinya di reli internasional, tepatnya pada Mei 2012. Saat itu ia finis di urutan kedua di seri Production World Rally Championship (PWRC) di Yunani dan Selandia

    Selengkapnya »dari Ritual Subhan Aksa Sebelum Balapan

  • Pasangan Tontowi, Liliyana (Getty Images/Ben Hoskins)



    Dengan kemenangan Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir di All England 2013, kejayaan bulutangkis Indonesia kini semakin tergambar nyata.

    Namun, lebih dari itu, pasukan Pelatnas Cipayung membuktikan, Indonesia bukan lagi negara kelas dua di persaingan bulutangkis dunia. Indonesia tidak lagi bisa diremehkan seperti dua tahun lalu.
     
    Prestasi Indonesia di ajang turnamen tertua di dunia ini menunjukkan persiapan matang disertai motivasi yang luar biasa tinggi. Sektor ganda campuran bisa melangkah lebih baik dengan bekal prestasi yang sebelumnya juga telah mumpuni. Inilah satu-satunya sektor yang sempat begitu diandalkan untuk mendulang prestasi di tahun 2012.
     
    Yang lebih mantap, Tontowi/Liliyana tak perlu berjuang sendiri karena ada pasangan ganda lain yang bisa bertahan. Selain itu, kehadiran pasangan non-pelatnas Markis Kido/Pia Zebadiah Bernadet sebagai lawan tangguh Tontowi/Liliyana di babak semifinal All England juga bisa menjadi contoh baik bahwa Indonesia masih yang terbaik di bulutangkis.
     

    Selengkapnya »dari Sinar Kejayaan Bulutangkis Indonesia Makin Terang
  • Persegres (ANTARA/Herka Yanis Pangaribowo)

    Ditulis oleh: Sirajudin Hasbi


    Dua liga yang berlangsung di Indonesia musim 2011/2012 sama-sama menyisakan masalah sama, yakni gaji pemain yang tertunggak. Banyak pemain tak punya pilihan selain mengikhlaskan diri menunggu hak mereka dibayarkan manajemen. Tak pelak, kisruhnya tata kelola keuangan klub sering jadi kambing hitam buruknya prestasi.

    Padahal sebenarnya tidak mutlak. Mengelola sebuah klub sepak bola bukan hanya soal uang.

    Mari kita tengok klub Persegres asal gresik. Sejak awal musim, mereka menunjukkan tidak akan mengalami masalah keuangan yang berarti. Mereka cepat membangun tim dengan target juara. Mereka berbekal pelatih bintang. Mereka serius memperbaiki keterpurukan musim lalu.

    Dengan ambisi besar itu, anggaran Persegres pun tidak main-main, menyentuh angka Rp30 miliar. Keberanian itu muncul berkat dukungan kuat PT Hidup Makmur Sejahtera Sentosa Holding Grup (HMSSHG), perusahaan induk pengelola Persegres yang bergerak di bidang hasil bumi dan perikanan.

    Selain itu, Persegres

    Selengkapnya »dari Mengelola Sebuah Klub Bukan Hanya Soal Uang
  • Ilustrasi (Getty Images/Massimo Bettiol)


    “Winning is an Attitude”.
    Ungkapan ini mungkin paling terasa pas untuk Yudith Thesia Rani, Shanti Radianti, Edwina Kharisma Utamidewi Mononutu, dan Feri Susanti. Mereka berempat bisa lolos seleksi dan bakal berkelana di ajang Rallye Aicha des Gazelles 2013 — sebuah kompetisi reli khusus perempuan.
     
    Kesempatan sekali seumur hidup itu datang dari perusahaan tempat mereka bekerja, Total E&P Indonesie. Lewat proses seleksi terhadap 19 karyawati yang berminat ikut, akhirnya terpilih empat terbaik yang bisa membawa nama perusahaan dalam kompetisi tahunan yang sudah berlangsung dalam 23 tahun ini.
     
    Yudith dkk, yang bakal terbagi dalam dua tim, menjadi bagian dari para perempuan pegawai Total S.A. yang juga ikut bersaing pada kompetisi yang diikuti 150 tim dari 22 negara itu. Secara keseluruhan, perusahaan mereka mengikutsertakan 15 tim.
     
    Tanpa punya latar belakang kompetisi reli, mereka tampil meyakinkan di sesi latihan kurang dari sebulan sebelum reli berlangsung.

    Shanti Radianti, yang

    Selengkapnya »dari Jika Perempuan Mendadak Jadi Pereli
  • El Shaarawy dibayangi oleh Messi di leg pertama. (Getty Images/Claudio Villa)


    Ditulis oleh: Aditya Nugroho


    Barcelona punya misi sulit membalikkan defisit dua gol atas Milan di leg kedua Liga Champions yang akan berlangsung Rabu (13/3) dinihari WIB. Meski pertandingan akan berlangsung di Stadion Camp Nou, namun menghadapi tim yang telah memiliki penangkal serangan mereka bukanlah pekerjaan mudah.

    Di leg pertama, Milan seperti memiliki semua hal yang diperlukan untuk menangkal permainan khas tiki-taka Barcelona. Mereka bermain disiplin menutup setiap jengkal ruang gerak para pemain Barca.

    Dengan kedisiplinan itu, Milan kemudian menghukum Blaugrana melalui serangan cepat yang efektif terutama memanfaatkan ruang kosong yang ditinggalkan oleh dua pemain belakang Barca, Dani Alves dan Jordi Alba. Kevin-Prince Boateng dan El Shaarawy yang cepat dan kuat adalah senjata tepat untuk menamatkan perlawanan Barcelona.

    Banyak yang memprediksi pertandingan leg kedua akan berlangsung sama. Barcelona seperti biasa akan mendominasi penguasaan bola dan mengurung Milan melalui

    Selengkapnya »dari Ulasan Jelang Pertandingan: Barcelona vs Milan
  • Performa Wasit Masih Seperti yang Dulu

    Oleh: Sirajudin Hasbi - Football Fandom

    Liga Super Indonesia (LSI) yang sudah memasuki pekan ketiga masih memiliki masalah yang sama dengan perhelatan sebelumnya. Performa wasit dalam memimpin pertandingan masih sangat mengecewakan, baik bagi tim maupun fans.

    Pertandingan pembuka LSI antara Sriwijaya FC melawan Persiba Balikpapan langsung diwarnai kontroversi. Wasit Aeng Suarlan melakukan kesalahan fatal dengan tidak memberi kartu merah kepada kiper Sriwijaya FC, Fery Rotinsulu yang menangkap bola di luar kotak penalti. Dirinya hanya memberi kartu kuning bagi Fery. Akibat kesalahan tersebut, Aeng Suarlan pun dinonaktifkan dan tidak lagi masuk dalam 16 wasit yang akan memimpin ISL musim ini.

    Namun, ketegasan komite wasit tidak lantas menyelesaikan masalah kepemimpinan wasit. Pertandingan antara Arema Cronous menghadapi Persiram Raja Ampat belum lepas dari kontroversi. Wasit Suharto asal Jakarta memberi penalti kontroversial bagi Arema di menit 28’ karena ada seorang pemain belakang

    Selengkapnya »dari Performa Wasit Masih Seperti yang Dulu
  • Alinka Hardianti (Yahoo! Indonesia/Jonathan Rian Christandar)


    Alinka Hardianti (20) adalah sosok pembalap muda Indonesia yang memiliki bakat dan potensi. Turun sirkuit sejak usia 14 tahun, Alinka yang tumbuh di keluarga pembalap, sudah mencoba beberapa jenis olahraga balap.

    Alinka lalu jatuh hati ke olahraga drifting. Olahraga yang bagi sebagian orang hanya terlihat memutar-mutar mobil sambil menghabiskan ban, namun ternyata membutuhkan pengetahuan keselamatan, teknis dan kemampuan yang baik.

    Seperti apa kisah perjalanan karier balap gadis kelahiran Jakarta 21 Juni 1992 itu? Berikut petikan wawancara Yahoo! Indonesia Olahraga dengan Alinka belum lama ini:

    Bagaimana awalnya bisa menekuni olahraga balap?


    Jadi bokap itu memang pembalap, saya tidak pernah disuruh tapi diarahkan dengan halus. Setiap akhir pekan diajak nonton balapan, belajar mobil pun dengan mobil balap. Sampai awalnya ikut slalom. Saat itu mobil masih disediakan oleh panitia. Itu awal 2005, lalu pada 2007 ikut kejurnas slalom.

    Kalau terjun ke olahraga drifting sejak kapan?


    Ikut drifting

    Selengkapnya »dari Alinka Hardianti dari Film Tokyo Drift Sampai Hampir Ditangkap Polisi

Penomoran Halaman

(154 Artikel)