Postingan Blog oleh Olenka Priyadarsani

  • Mengapa Harus Jalan-jalan ke Luar Negeri?

    Setiap kali artikel jalan-jalan ke luar negeri dimuat di media, hampir selalu ada pembaca yang berkomentar, “Ah, yang seperti itu di Indonesia juga banyak!” atau “Pantai-pantai di Indonesia lebih bagus dari itu!” atau “Buat apa mahal-mahal ke luar negeri, wisata Indonesia jauh lebih bagus”, dan semacamnya.

    Tentu masing-masing individu berhak menyuarakan pendapatnya, tetapi saya menjadi tergelitik untuk juga menyuarakan pendapat saya dalam hal ini.

    Ketika diundang menjadi pembicara baik langsung maupun di radio, saya selalu berpesan bahwa Indonesia itu sangat luar biasa amat indah! Tetapi, walaupun saya tinggal di negara yang sangat indah, bukan berarti saya kemudian enggan berjalan-jalan ke luar negeri.

    Selalu ada yang unik di setiap tempat
    Belitung, menurut saya, jauh lebih cantik daripada pantai-pantai di Langkawi Malaysia. Tapi toh saya tetap ke Langkawi. Saya juga tetap menikmati bermain di Pantai Cenang — dan ketika air laut surut, berjalan kaki menyeberang ke Pulau Rebak Besar.

    Selengkapnya »dari Mengapa Harus Jalan-jalan ke Luar Negeri?
  • Jatuh Cinta Dengan Kyoto

    Salah seorang teman yang pernah tinggal di Jepang berkata pada saya, “Kalau Tokyo itu seperti Jakarta, Kyoto lebih seperti Yogya.” Saya pun makin bersemangat merencanakan liburan ke Jepang, untuk merasakan dua kota dengan atmosfer berbeda itu.

    Ternyata, saya memang langsung jatuh cinta dengan Kyoto, kota yang merupakan ibu kota kekaisaran Jepang selama lebih dari seribu tahun, sebelum akhirnya berpindah ke Tokyo (yang waktu itu masih bernama Edo).

    Dari Tokyo ke Kyoto saya naik kereta Shinkansen dan langsung melihat perbedaan dua kota tersebut. Jumlah gedung tinggi di Kyoto tidak sebanyak di Tokyo. Masyarakatnya juga terlihat lebih santai — mengayuh sepeda untuk pergi ke kantor atau sekolah.

    Apalah artinya ke Kyoto tanpa berkunjung ke kuil-kuilnya. Andai punya waktu seminggu penuh pun tidak akan mampu mengunjungi semua kuil di kota ini. Apalagi hanya beberapa hari, seperti saya. Akhirnya, terpaksa saya harus memilih beberapa saja.

    Salah satu kuil yang berada di tengah kota bernama Higashi

    Selengkapnya »dari Jatuh Cinta Dengan Kyoto
  • Petualangan Dingin di Lysefjord Norwegia

    Berkunjung ke negara-negara Skandinavia tidaklah lengkap tanpa melakukan kunjungan ke fyord yang banyak berada di negara ini. Akhirnya minggu lalu, saya menikmati salah satu petualangan terdingin mengikuti tur ke salah satu fyord terindah di Norwegia.

    Fyord berarti selat atau teluk yang memanjang dengan sisi-sisi berupa tebing tinggi yang terbentuk akibat pembekuan es.
    Para wisatawan mengagumi Preikestolen dari bawah. (Olenka Priyadarsani)
    Walaupun musim dingin hampir berakhir, suhu di kota Stavanger, tempat saya berkunjung selama dua minggu, masih sangat dingin. Walaupun dari dalam terlihat matahari bersinar cerah, di luar sangat dingin.

    (Suhu terhangat selama di sini adalah 6 derajat Celsius, sementara terdingin adalah -9. Alhasil, saya harus selalu mengenakan pakaian berlapis, lengkap dengan tutup kepala, dan sarung tangan.)
    Pemandangan menjelang mulut Lysefjord. (Olenka Priyadarsani)
    Ketika akan mengikuti tur ke Lysefjord pun, matahari tampak ramah, walau langit tidak sebiru hari-hari sebelumnya. Setelah ritual mengenakan kostum musim dingin, saya berjalan menuju pelabuhan yang hanya berjarak beberapa ratus meter.

    Selengkapnya »dari Petualangan Dingin di Lysefjord Norwegia
  • Pulau Weh, Permata Di Ujung Barat Nusantara

    Pulau Weh di Provinsi Aceh menawarkan keindahan alam yang luar biasa.

    Saya kembali ke Pulau Weh setelah hampir lima tahun berselang. Keindahan pulau ini tetap tidak pudar walau kini makin ramai wisatawan berdatangan. Dari Banda Aceh, saya menumpang kapal feri cepat dari pelabuhan Ulee Lheue. Karena datang pada musim liburan, tiket harus dibeli beberapa hari sebelumnya.
    Pantai Sumur Tiga yang sepi dan damai.
    Sayangnya, ternyata punya tiket tidak menjamin saya dapat naik ke kapal karena tiket yang dijual jauh melebihi kapasitas kapal. Calon penumpang harus antre, dan bila kapal sudah penuh, bahkan yang sudah punya tiket pun harus menunggu kapal berikutnya.

    Beruntung saya berhasil masuk ke ke dalam kapal dan mendapatkan sebuah kursi, sementara suami saya terpaksa duduk di lantai. Satu jam dalam kapal yang penuh sesak dengan ombak yang besar tampaknya cukup berat bagi beberapa penumpang. Kami tiba dengan selamat di Pelabuhan Balohan, Pulau Weh.

    Memilih akomodasi di Pulau Weh tidak terlalu sulit, wisatawan biasanya memilih di

    Selengkapnya »dari Pulau Weh, Permata Di Ujung Barat Nusantara
  • Romantika Champs Elysees di Paris

    Hampir semua kota punya satu jalan yang jadi ikon. Di Paris, jalan tersebut adalah Avenue des Champs Elysees. Jalan raya sepanjang hampir 2 km ini menghubungkan Arc de Triomphe di Place Charles de Gaulle dengan Place de Concorde, yang apabila dilanjutkan lagi akan sampai ke Museum Louvre.

    Selesai mengunjungi Arc de Triomphe (lambang kemenangan Napoleon Bonaparte dalam Perang Austerlitz), saya tidak menggunakan kereta bawah untuk pergi ke Louvre. Saya ingin menyusuri Champs Elysess meski hawa dingin menggigit tulang (suhu mendekati titik beku).
    Arc de Triomphe terlihat di kejauhan.
    Avenue des Champs Elysees disebut-sebut sebagai salah satu jalan paling mahal di dunia, karena di sepanjang jalan ini berdiri butik-butik ternama. Inilah surga bagi para pebelanja. Merek-merek terkenal terpampang di semua penjuru.

    Tidak seperti di Jakarta di mana butik-butik ini berada di dalam pusat perbelanjaan mewah yang modern, di sini toko-toko tersebut menempati bangunan kuno walaupun interiornya telah direnovasi. Saya cukup puas mencuci

    Selengkapnya »dari Romantika Champs Elysees di Paris
  • Melahap Kepiting di Bawah Karang

    Tak selamanya tersasar itu buruk. Terkadang, tersesat ke sebuah tempat justru menghadirkan kepada kita sesuatu yang lebih indah. Saya sudah membuktikannya ketika tersasar ke Pantai Sadeng di Girisubo, Gunungkidul. Sebenarnya saya bertujuan ke pantai lain tetapi salah membelok. Tetapi di Pantai Sadeng saya menemukan surga hidangan kuliner laut.

    Pantai Sadeng ini berada di ujung timur deretan pantai di Gunungkidul Yogyakarta. Jaraknya pun lebih jauh dari pantai-pantai lainnya, mungkin sekitar 75-80 km dari pusat kota Yogyakarta. Jalan menuju ke pantai ini sepi, naik turun, melewati jurang-jurang. Walau melelahkan, saya cukup menikmati karena pemandangannya pun indah.
    Perahu-perahu nelayan yang bersandar.
    Tiba di gerbang Pantai Sadeng, yang pertama terlihat adalah tempat pelelangan ikan. Memang, pantai ini adalah pantai nelayan, bukan pantai wisata. Sayangnya, saat itu nelayan belum banyak yang kembali dari laut. Hanya terlihat beberapa pedagang yang menggelar ikan-ikan besar, entah apa namanya.

    Awalnya saya agak bingung,

    Selengkapnya »dari Melahap Kepiting di Bawah Karang
  • Menyusuri Pantai-pantai Balikpapan

    Ketika bulan lalu saya memiliki kesempatan berkunjung ke Balikpapan, saya langsung merencanakan menyusuri pantai-pantai yang ada di Kota Minyak ini. Maklum, kota ini memang terletak di pinggir laut.

    Walau saya tahu pantai-pantai di Balikpapan tidak akan seindah di Derawan, misalnya, tapi saya kira tetap saja layak untuk disinggahi. Sebab, setiap lokasi pasti punya nilai tersendiri.

    Keesokan sore setelah sampai, saya pun mulai menjelajah pantai. Pantai pertama bisa dikatakan pantai favorit di Balikpapan, yaitu Pantai Melawai. Pantai ini terletak tak jauh dari “jalan minyak” yaitu jalan yang di pinggirnya berdiri berbagai perusahaan minyak. Lokasinya sebelum Pelabuhan Semayang.
    Kapal tanker dan pengangkut tongkang batubara adalah pemandangan umum di lepas Pantai Melawai.
    Pantai Melawai terletak hanya sekitar 15 menit dari pusat kota. Saya pergi ke pantai ini naik angkot, transportasi umum Balikpapan. Bus-bus besar serta minivan hanya dioperasikan untuk tujuan yang lebih jauh. Ongkos angkot antara Rp2-5 ribu tergantung jarak.

    Salah satu pemandangan yang khas di Pantai Melawai (dan

    Selengkapnya »dari Menyusuri Pantai-pantai Balikpapan
  • Mereguk Kopi, Mengenang Tsunami

    Bagi orang Aceh kopi bukan sekadar minuman. Kopi bagian dari budaya. Tidak heran bila banyak sekali kedai kopi di Aceh ramai pengunjung.

    Walau sudah banyak kedai kopi modern yang menawarkan Wi-Fi gratis bagi pengunjung, kedai kopi tradisional Aceh tidak ditinggalkan pelanggan. Yang paling ramai dan terkenal di Aceh adalah kedai kopi Solong di daerah Ulee Kareeng.
    Menyaring kopi Aceh harus diangkat tinggi-tinggi.
    Ketika bekerja di Aceh pada 2006-2008, saya sangat sering nongkrong di kedai kopi Solong. Entah hanya karena iseng dengan teman-teman, mengantar tamu asing, bahkan rapat bersama para mitra kerja. Maka ketika berlibur bersama anak dan suami beberapa waktu lalu, tentu saja saya wajib berkunjung ke sini.
    .
    Solong masing seperti beberapa tahun yang lalu. Hanya saja, bagian belakang kedai ini makin besar. Asap rokok mengepul dari meja-meja yang dipenuhi pengunjung. Saya memesan sanger alias kopi susu, minuman favorit saya.

    Kopi di sini, menurut saya, luar biasa enak. Kopi Aceh tidak dapat langsung diseduh. Kopi bubuk harus direbus

    Selengkapnya »dari Mereguk Kopi, Mengenang Tsunami
  • Menjejakkan Kaki di Aceh Baru

    Mendarat di Bandara Sultan Iskandar Muda beberapa waktu lalu, semua terlihat berbeda. Tak tampak lagi bangunan porak-poranda sisa tsunami yang saya lihat ketika pertama kali datang ke Aceh tahun 2006. Tak ada lagi kesan daerah perang dan mobil-mobil PBB berseliweran di jalan. Kini jalan raya dari bandara menuju kota dihiasi pepohonan rindang menghijau.

    Dengan mobil sewaan, saya, suami dan anak langsung meluncur ke warung dekat Taman Makam Pahlawan. Maklum, sedari pagi kami baru sempat makan sepotong donat dalam pesawat. Rasa lapar kami langsung terpuaskan ketika menyantap sepiring nasi ditambah kari kambing yang panas mengepul. Juga segelas es ketimun yang selain segar, juga berfungsi menurunkan naiknya tekanan darah akibat daging kambing.
    Museum Tsunami Aceh yang baru saja dibuka.
    Sambil makan, ingatan saya melayang kembali ke tahun 2006-2008, masa-masa saya menetap dan bekerja di Aceh untuk program rehabitasi pascatsunami. Dulu saya sering makan di warung ini karena dekat dengan kantor. Dan saya ingat, banyak jendela mobil

    Selengkapnya »dari Menjejakkan Kaki di Aceh Baru
  • Berdandan Gila di Harajuku

    Harajuku adalah pusat mode di Jepang. Berbeda dengan Paris, Milan, atau New York, fashion di Harajuku lebih ekspresif dan tidak kenal batas. Bagi wisatawan seperti saya saat berkunjung ke Tokyo, menyaksikan anak-anak muda Jepang berdandan gila di Harajuku wajib dilakukan.

    Harajuku adalah sebuah area pusat perbelanjaan di Tokyo, terletak di antara dua wilayah terkenal lainnya, Shinjuku dan Shibuya. Toko-toko fashion ternama berdiri di lingkungan ini, di sekitar stasiun kereta Harajuku yang berada di jalur Yamanote.
    Suasana yang selalu ramai pada hari Minggu.
    Pusat fashion di Harajuku terutama bertaut di dua buah jalan, yaitu Takeshita dan Omotesando. Jalan Takeshita terkenal dengan toko-toko yang menjual berbagai pernik lucu, kostum bergaya gotik, hiphop, rock, dan gaya kasual. Sementara itu Omotesando dalam beberapa tahun terakhir ini berkembang menjadi pusat toko-toko desainer kelas atas, seperti Chanel, Louis Vuitton, dan Prada.

    Sejarah bermulanya Harajuku menjadi seperti sekarang dapat dilacak hingga masa setelah Perang Dunia

    Selengkapnya »dari Berdandan Gila di Harajuku

Penomoran Halaman

(47 Artikel)