Tarlen Handayani dan Hugo
Tugu Bandung Lautan Api bukan satu-satunya penanda peristiwa Bandung Lautan Api tahun 1946. Selain tugu itu, ada 10 penanda di sekitar pusat kota sebagai jejak warisan budaya.
Penanda, yang disebut juga stilasi, punya tinggi 1,5 meter dan berbentuk prisma segitiga. Ketiga sisinya memuat informasi yang berbeda.
Sisi yang pertama mencantumkan logo lembaga Bandung Heritage sebagai pemrakarsa disertai American Express sebagai penyandang dana. Sisi lainnya memuat lirik lagu “Halo-halo Bandung” dengan logo Pemerintah Kota Bandung dan Djarum Foundation di bawahnya. Sisi ketiga memuat peta lokasi dan sedikit keterangan soal tempat tersebut.
Ada pemanis di bagian atasnya: setangkai bunga Patrakomala dari besi, yang merupakan lambang Kota Bandung. Meski sudah dipasang sejak 1997, stilasi karya pematung Sunaryo ini tidak banyak yang mengetahui. Mungkin karena keterbatasan informasi, atau memang kecilnya minat warga.
Satu penanda di Jalan Simpang bahkan hampir tertutup oleh
Postingan Blog oleh Tarlen Handayani
Selengkapnya »dari Yang Sendiri Usai Bandung Dilahap Api
Tarlen Handayani dan Adim
Ahad 24 Maret 1946 menjadi saat-saat terakhir bagi Raden Ema Goerjama berkumpul dengan keluarga. Mereka berpisah dan tidak pernah berkumpul lagi gara-gara Bandung Lautan Api.
Lelaki kelahiran 13 April 1925 itu masih bisa mengingat Bandung yang terbelah dua. Sisi utara ditempati tentara sekutu, Nederlands Indies Civil Administration (NICA), penduduk sipil asing, dan sebagian orang Cina. Sementara itu bagian selatan ditempati penduduk pribumi dan TRI (Tentara Republik Indonesia).
“Pembatasnya rel kereta api,” kata Goerjama yang bekerja di Posts Telegraafend Telefoon Dienst atau Jawatan Pos, Telegraf, dan Telepon (PTT).
Karena merasa tugasnya melucuti senjata dan memulangkan tentara Jepang terganggu, pasukan Inggris memaksa Tentara Republik Indonesia dan pemerintahan sipil Kota Bandung untuk mundur ke sebelah selatan.
Ultimatum pertama tidak digubris. Lantas serdadu Inggris mengeluarkan ultimatum keduanya, pasukan besenjata Indonesia harus keluar dari kota.Tarlen Handayani dan Iman Hidayat
Selengkapnya »dari Kisah dari Kolong Langit yang Merah
Lama sudah beta tidak berjumpa dengan kau.
Sekarang telah menjadi lautan api.
Mari Bung, rebut kembali
Sebagai sebuah peristiwa bersejarah, Bandung Lautan Api tidak banyak ditulis di buku-buku. Padahal, pembakaran kota Bandung yang berlangsung pada 24 Maret 1946 itu telah memicu Konferensi Meja Bundar yang berujung pada pengakuan kedaulatan Republik Indonesia.
Salah satu buku yang mengulas pentingnya Bandung Lautan Api berjudul “Saya Pilih Mengungsi: Pengorbanan Rakyat Bandung untuk Kedaulatan”. Buku setebal 164 halaman terbit pada Maret 2002, dan mendapat kata pengantar dari saksi sekaligus pelaku BLA, Jenderal AH Nasution.
Buku yang ditulis oleh Ratnayu Sitaresmi, Aan Abdurachman, Rustadi Widodo Kinartojo, Ummy Latifah Widodo, dan penyelia Soewarno Darsoprajitno ini berisi kesaksian para tokoh pelaku dan saksi peristiwa. Seperti apa sebenarnya peristiwa yang memerahkan langit Bandung itu? Simak ringkasannya:
Akisah, Komandan Divisi III (cikal bakal KodamTarlen Handayani dan Adim
Selengkapnya »dari Kisah Asmara di Tengah Bandung Lautan Api
Setiap tanggal 24 Maret datang, ingatan Didi David Affandy selalu terlempar ke masa dia kecil. Lelaki berusia 76 tahun itu ingat betul saat dia masih berusia 9 tahun, dia harus ikut merasakan pahitnya meninggalkan Bandung bersama ribuan pengungsi lainnya.
Pada tanggal 24 Maret 67 tahun yang lalu, Bandung nyaris jadi abu.
Waktu itu, Didi sedang bermain kelereng bersama teman-temannya, sembari ngabuburit menunggu waktu berbuka. Tetapi sekejap waktu berbuka tiba, permainan harus disudahi. Sang ayah, Didi Sukardi, menyuruh seluruh keluarga bersiap mengungsi — sesuai permintaan Komandan Divisi III Tentara Republik Indonesia Kol. Abdul Haris Nasution.
“Kelereng saya masih tertinggal satu kala itu,” ujar Didi mengenang.
Ayahnya membawa mereka sekeluarga pergi ke arah selatan Bandung. Dengan matanya sendiri ia melihat ayahnya sempat membakar dahulu rumah mereka, sebagaimana puluhan tetangga mereka. Sebuah perintah yang meluncur dari mulut ke mulut, atas permintaan petinggiOleh Tarlen Handayani dan Adim
Selengkapnya »dari Abah Landung Melawan Korupsi Hingga Uzur
Setiap hari, Abah Landung naik sepeda berkeliling Bandung. Di usia 80 tahun, dia tetap bersemangat membagi-bagikan stiker dan gelang karet dengan percuma.
“Awas! Bahaya Laten Korupsi”
“Siapapun Boleh Naik.. Korupsi Harus Turun!”
“Jujur, langkah awal berantas korupsi”
Begitu isi pesan dari stiker dan gelang yang dibagikan. Pada suatu siang di kawasan Gedung Sate Bandung, Abah Landung santai bercengkrama dengan sekumpulan anak-anak SMA. Kepada mereka, ia menyodorkan berlembar-lembar stiker berwarna dasar hitam serta kuning, berisi pesan antikorupsi.
“Ini saya diberi cuma-cuma oleh KPK, jadi harus dibagikan gratis kepada sebanyak-banyaknya orang,” celotehnya sambil terus membagi-bagikan stiker dan gelang. Tidak hanya anak-anak SMA, pensiunan guru itu juga memberikan stiker kepada siapa pun yang melintas di dekatnya. “Terkadang ke pedagang kaki lima juga, kalau sedang mengayuh sepeda di jalanan.”
Abah Landung, kelahiran 11 Juli 1932, memang mengabdikanOleh Tarlen Handayani
Selengkapnya »dari Mengenal Abjad Dengan Tutup Botol Bekas
Selama ini tutup botol bekas biasa berakhir di tangan pengamen jalanan sebagai “kecrekan”. Tapi sebenarnya tidak juga. Di tulisan ini, saya akan mengajak Anda memanfaatkan tutup botol bekas sebagai sarana belajar anak-anak.
Meski berbentuk sederhana dan terkesan remeh, tutup botol memiliki sejarah panjang. Syahdan pada tahun 1892, seorang insinyur asal Amerika Serikat bernama William Painter menciptakan tutup botol berjenis “mahkota” yang terbuat dari lempengan logam dan lembaran karet di bagian dalam. Karena dicetak khusus, bagian tepi tutup botol membentuk gerigi seperti mahkota (crown).
Setelah karyanya itu dipatenkan, William Painter pun memulai perusahaan pengemasan minuman dan bir bernama Crown Cork & Seal Company di Baltimore, Amerika Serikat.
Kini, lebih dari 100 tahun kemudian, entah berapa juta tutup botol memenuhi planet bumi sebagai sampah, ketika terlepas dari botolnya. Padahal dibutuhkan waktu 500 tahun untuk menghancurkan sampah logam ini secara alami.Oleh Tarlen Handayani dan Adim
Selengkapnya »dari Pantomim dan Ruang Publik
Anda ingat Den Bagus? Atau mungkin Charlie Chaplin? Mereka berdua adalah karakter dunia seni pertunjukan pantomim. Meski Den Bagus dan Charlie Chaplin lahir di negara berbeda, mereka sama-sama mengandalkan kemampuan olah tubuh dan mimik pesan dalam menyampaikan pesan. Seperti bermain teater tapi tanpa dialog.
Mari berkenalan dengan Wanggi Hoediyatno Boediardjo, salah seorang aktor pantomim di Bandung. Wanggi Hoed, demikian ia biasa dipanggil, sudah bergelut dengan pantomim selama tujuh tahun. Ia mempelajari pantomim secara otodidak. Selain membuka-buka internet dan menonton You Tube, dia juga membaca referensi dari buku. Salah satunya dari buku “The Art of Pantomime” karya Charles Aubert yang ditulis pada tahun 1970.
Wanggi, pria kelahiran Palimanan, Cirebon tanggal 24 Mei 1988 ini cenderung memilih ruang-ruang publik sebagai panggung pertunjukannya. Alasannya? “Biar pantomim itu terasa di masyarakat,” ujarnya.
Alumnus Sekolah Tinggi Seni Indonesia iniOleh Tarlen Handayani dan Adim
Selengkapnya »dari Sariban, Kakek Pembersih Kota
Sariban. Sekilas nama ini identik dengan robot jagoan era tahun 1980-an. Tetapi, Sariban yang kita bicarakan sekarang bukan robot. Dia seorang pensiunan petugas kebersihan yang peduli dengan kebersihan Kota Bandung, tempat tinggalnya sejak tahun 1963.
Setiap hari, kakek dari empat cucu ini pergi dari rumah sebelum jam delapan pagi mengendarai sepeda kumbang yang kemudinya ditempel setir mobil. Di tengahnya terpasang bendera Merah Putih. Di bagian belakang ada dua tempat sampah plastik berisi sapu dan pencapit besi.
Untuk menahan panas matahari, suami Sukiyem ini memakai topi caping. Warnanya kuning senada dengan seragamnya. “Kerja saya jadi relawan kebersihan,” kata Sariban.
Pria kelahiran 8 Agustus 1943 di Magetan, Jawa Timur ini memang mengabdikan dirinya bagi kebersihan Kota Bandung. Dia menggunakan pencapit untuk mengambil plastik, bekas makanan, atau daun-daun kering yang dibuang sembarangan. Sariban mengumpulkan semuanya sebelum memasukkannya ke dalamDodong Kodir, Pembuat Alat Musik dari Limbah dan Sampah
Oleh Tarlen Handayani | Newsroom Blog – Jum, 16 Nov 2012Oleh Tarlen Handayani dan Aksara
Selengkapnya »dari Dodong Kodir, Pembuat Alat Musik dari Limbah dan Sampah
Setiap hari, sampah yang Anda buang ke tempat sampah diangkut petugas ke dalam truk, lalu dibawa ke tempat pembuangan akhir. Tetapi jika sampah itu Anda berikan kepada Dodong Kodir, maka dia akan menyulapnya menjadi sesuatu yang menakjubkan.
Misalnya kecapi yang terbuat dari tabung bekas mesin cuci yang dipasangi senar. Atau bekas pulpen yang bisa menghasilkan suara gemuruh angin beserta petir juga air bah. Atau potongan kayu lapuk dan kulit buaya yang mampu menjelma jadi banjo.
Dodong Kodir, 60 tahun, mulai membuat alat musik dari sampah sejak tahun 1980-an. Ceritanya agak mistis. Alkisah, Dodong sedang mutung karena pemain gamelan lain datang terlambat ke kampus Akademi Seni Tari Indonesia (kini STSI). Saat itulah sebuah gong seolah-olah berbicara. “Bisa saja kamu bicara ke orang lain. Kamu sendiri sudah bikin apa?” kata gong itu.
Pertanyaan itu membangunkan Dodong dari tidur panjang. Dia bertekad menciptakan alat musik buatan sendiri. Karya pertamanyaAda masa di mana menyimpan data bergiga-giga adalah suatu keniscayaan. Bayangkan, pada masa data komputer Anda hanya bisa disimpan dalam disket dengan ukuran maksimal 200MB. Bisa Anda hitung, berapa banyak disket yang Anda butuhkan untuk menyimpan 1GB file dalam komputer anda. Sementara saat ini, Anda bisa menyimpan data 1 TB dalam flash disk mungil saja.
Selengkapnya »dari Disket Bekas Dibuang Sayang
Penggunaan disket ini populer di era 1980an sampai 1990an saat Personal Computer (PC) membutuhkan penggunaan software tambahan, pengalihan data dan menyimpannya sebagai cadangan. Berkembangnya sitem operasi seperti Window dan software seperti Adobe Photoshop, membuat disket menjadi benda yang sangat dibutuhkan bagi para pengguna komputer.
Ada tiga macam ukuran disket yang dapat Anda olah: ukuran 8 inch, 5 1/4 inch dan 3 1/2 inch. Biasanya ukuran 3 1/2 inch ini yang masih banyak di temui. Pada tahun 1996 seperti pernah dikutip Bussiness Week, diperkirakan ada sekitar 5 juta disket yang digunakan.
Dan di akhir tahun 1990an, penggunaan
Artikel Terpopuler
Postingan Blog Pilihan
Setelah Bensin Bersubsidi Naik, Muncul Proyek Lanjutan
Newsroom Blog - Sen, 13 Mei 2013Proyek Beranak-pinak Pada KTP Elektronik
Newsroom Blog - Sen, 13 Mei 2013Artis dan Karir Politik
Newsroom Blog - Jum, 10 Mei 2013Fenomena Artis Berpolitik
Newsroom Blog - Jum, 10 Mei 2013Wajah Arsitektur Indonesia Dalam Penghargaan Aga Khan
Newsroom Blog - Jum, 10 Mei 2013Perubahan yang Tertunda di Malaysia
Newsroom Blog - Sen, 6 Mei 2013Antrian Harapan di Tempat Pemungutan Suara Pemilu Malaysia
Newsroom Blog - Min, 5 Mei 2013Kampanye 'Putri Reformasi' di Pasar Malam
Newsroom Blog - Jum, 3 Mei 2013Media yang Tak Seimbang Pada Pemilu Malaysia
Newsroom Blog - Jum, 3 Mei 2013Ujian Nasional Nan Menakutkan
Newsroom Blog - Jum, 3 Mei 2013



