Newsroom Blog
  • Geliat Pilkada DKI Jakarta di Daerah Lain

    Pergi jauh ke Waingapu, Pulau Sumba, Nusa Tenggara Timur, membuat saya berpikir dapat menghindar dari gemerlap Pilkada DKI Jakarta. Yang terjadi di tempat berjarak 1500 kilometer dari Jakarta itu justru sebaliknya.

    Kisah pemilihan gubernur Jakarta putaran kedua rupanya telah menjadi semacam drama yang banyak ditonton dan dibicarakan, bukan hanya oleh warga Jakarta, tetapi juga oleh warga berbagai daerah di Indonesia. Di Waingapu, hampir setiap orang yang saya temui, 22 September lalu, membicarakan kisah kemenangan (menurut versi hitung cepat) Jokowi-Ahok melawan Foke-Nara.

    Mereka bukan hanya mengetahui hasil akhir, tetapi juga mengikuti keseluruhan prosesnya. Termasuk debat publik yang disuguhkan di layar televisi. Pastor Jack Umbu Warata, misalnya, begitu piawai menirukan “Haiya, Ahok!”, sapaan Nara kepada Ahok di dalam salah satu kesempatan debat publik.

    Joko Widodo bisa dikatakan sebagai tokoh utamanya. Jokowi, dengan karakter yang sederhana

    Selengkapnya »dari Geliat Pemilihan Gubernur Jakarta di Daerah Lain
  • Hasil hitung cepat tiga lembaga menempatkan Joko Widodo unggul dari Fauzi Bowo dalam pemilihan gubernur Jakarta. Bila perhitungan KPUD (yang akan diumumkan 28-29 September) punya hasil serupa, maka Jakarta akan memiliki seorang gubernur baru: Joko Widodo.

    Jokowi menang karena orang terbukti menyukai hal yang ada padanya, yang kontras terhadap Fauzi Bowo. Pertama, watak dan teknik komunikasinya yang membuat orang merasa nyaman berdialog. Ini disertai hal penting lainnya: kesediaan mendengar. Harapannya, dengan itu ia akan mampu menggalang partisipasi dalam berbagai tingkat.

    Ia akan mampu meraih dukungan warga untuk kebijakannya nanti, juga mendapatkan keterlibatan konkret warga dalam memperbaiki Jakarta, serta mendulang gagasan serta inovasi yang sangat diperlukan untuk membuat terobosan.

    Jokowi sejauh ini tampil sebagai “one of us”, bukan orang asing yang terpisah dari warga. Sosiolog Thamrin Amal Tomagola mengatakan, Jokowi memiliki karisma “kejelataan”. Seorang sarjana asing mengatakan,

    Selengkapnya »dari Masalah Jakarta Menunggu Gubernur Baru Joko Widodo
  • Di kota-kota besar seperti Jakarta, pohon adalah perangkat dandan. Pohon-pohon ditanam di pinggir jalan untuk mempercantik kota — setidaknya untuk mengurangi wajah kumal jalan yang kerap kali dipenuhi asap kendaraan. Sekalipun berada di taman, pohon-pohon kerap kali dipaksa untuk tampil cantik, misalnya pada renovasi Taman Kodok, Menteng, yang menyulap pepohonan rindang menjadi pohon-pohon palem yang langsing.

    Maka, ruang kota Jakarta yang memberikan izin bagi pepohonan untuk tumbuh bebas, tanpa banyak diusik oleh kebutuhan manusia, sangatlah langka. Taman Hutan Kota Penjaringan, yang terletak di sisi jalan tol menuju bandara Soekarno-Hatta, adalah satu dari yang sedikit itu.

    Jika ditarik garis tegak lurus, taman ini memiliki garis terpanjang mencapai dari 1,8 kilometer dan garis terlebar sekitar 150 meter. Luasnya mencakup 13,6 hektare; hampir empat kali lipat dari Taman Menteng, delapan kali lipat Taman Suropati, atau delapan belas kali lipat Taman Ayodya.

    Walaupun cukup luas, jalan

    Selengkapnya »dari Seluas Hutan, Sesepi Kuburan: Taman Hutan Kota Penjaringan
  • Tanggal 20 September 2012 adalah hari yang paling menentukan bagi warga Jakarta saat ini. Satu hari memilih, lima tahun menggantungkan nasib.

    Tak salah jika kita kemudian menduga bahwa pemilihan gubernur Jakarta 2012 putaran kedua akan berlangsung panas. Para kandidat sudah tampak melakukan pemanasan di sudut-sudut kota. Mereka menghadiri acara senam pagi hingga halal bihalal, datang ke kampung-kampung untuk menyumbang, juga menumpang tampang di iklan-iklan televisi (bukan kampanye, katanya).

    Dalam beberapa hari ke depan, panggung terakhir bagi para kandidat pun digelar. Masa kampanye putaran kedua, yang akan berlangsung pada tanggal 14-16 September, adalah kesempatan terakhir untuk dapat merebut hati para pemilih. Di momen itu, para kandidat akan memadati ruang-ruang publik di Jakarta dengan kata-kata manis, mempromosikan diri dengan seribu janji.

    Namun, jauh lebih penting dari sekadar menunjukkan kehebatan kandidat, kampanye sebetulnya adalah ruang bagi masyarakat untuk mengenal

    Selengkapnya »dari Pemilihan Gubernur Jakarta 2012: Berharap Akan Kampanye Sehat
  • Tips Absurd Jakarta adalah seri tulisan yang berisikan tips-tips umum sehari-hari di sebuah kota, yang rupanya tidak benar-benar berlaku di Jakarta. Sebenarnya tidak ada yang salah dengan anjuran-anjuran berikut, hanya saja... Jakarta keras, bung!



    Sebagai pejalan kaki, saya ingin sekali memiliki kemampuan Musa membelah laut. Sehingga ketika hendak menyeberang jalan, saya tinggal mengangkat tangan dan seketika kendaraan-kendaraan bermotor terhenti di kedua sisi. Saya pun bisa dengan santai melangkahkan kaki, tanpa perlu bersusah payah mengemis jalan ke para pengemudi kendaraan.

    Bukan tanpa alasan jika saya ingin punya kemampuan membelah jalan. Menyeberang jalan, apalagi di kota seperti Jakarta, barangkali hal tersulit yang perlu dihadapi pejalan kaki. Mereka harus berhadapan langsung dengan para pengemudi kendaraan dalam pertarungan yang berat sebelah — baik dari segi kuantitas maupun kualitas.

    Bila pengemudi kendaraan aman dalam lindungan selubung besi, pejalan kaki hanya bermodalkan

    Selengkapnya »dari Tips Absurd Jakarta: Membelah Lautan Kendaraan
  • Mengapa kota-kota di negara maju bisa rapi, tapi Jakarta (dan kota lain di Indonesia) tidak?

    Salah satu sebab penting adalah dipatuhinya peraturan-peraturan (yang perannya memang sangat besar dalam membentuk sebuah kota).

    Kota adalah tempat hidup bersama yang sangat padat dan beragam, karena itu peraturan sangat penting untuk mengatur hak-hak pribadi sekaligus melindungi kepentingan bersama. Benturan yang seenaknya antara kedua hal itulah yang membuat kota berantakan dan berbahaya.

    Video berikut ini menampilkan pendapat masyarakat tentang hal-hal di atas, dan memaparkan pengetahuan dasar yang minimal baik diketahui oleh masyarakat tentang tata kota Jakarta. Dibandingkan seluruh kota lain di Indonesia, Jakarta sebenarnya memiliki peraturan yang paling lengkap untuk bentuk dan pemanfaatnya. Tapi ini tidak dapat dibanggakan, karena memang begitu seharusnya.

    Dan, kenyataannya banyak peraturan mendasar sekalipun tidak diketahui masyarakat luas. Sering juga ditemukan bahkan birokrat tidak tahu

    Selengkapnya »dari Tata Ruang untuk Kita
  • Foto: Robin Hartanto

    Mbaru Niang, rumah kerucut suku Manggarai yang berada di desa Wae Rebo, Flores, berhasil mendapatkan penghargaan UNESCO Asia-Pacific Awards tahun 2012 yang diumumkan di Bangkok, 27 Agustus 2012.

    Mbaru Niang mendapatkan Award of Excellence, yang merupakan penghargaan tertinggi dalam bidang pelestarian warisan budaya.  Penghargaan ini diberikan kepada proyek-proyek konservasi dalam sepuluh tahun terakhir untuk bangunan yang telah berumur lebih dari lima puluh tahun.

    Rumah tradisional ini berhasil mengalahkan 42 kandidat lainnya dari 11 negara di Asia Pasifik, antara lain sistem irigasi bersejarah di India, kompleks Zhizhusi di Cina, dan Masjid Khilingrong di Pakistan.

    Keberhasilan ini adalah lompatan yang mengejutkan, mengingat Wae Rebo belum banyak dibicarakan hingga empat tahun yang lalu. Wae Rebo bisa dibilang sebagai spesies langka. Tidak banyak tersisa rumah kerucut di Flores, yang adalah rumah adat suku Manggarai. Tetapi ia juga bukan sekedar bentuk. Penduduk setempat masih

    Selengkapnya »dari Rumah Tradisional Flores Mendapatkan Penghargaan UNESCO
  • Pidato para pemimpin negeri ini, baik oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono maupun Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa, mencoba melenakan masyarakat. Angka statistik pertumbuhan mereka jadikan andalan untuk menebar iming-iming bahwa Indonesia akan menjadi negara dengan perekonomian terkuat ke-10 di dunia. Entahlah.

    Ketika menyampaikan Nota Keuangan 2013 belum lama ini, pemerintah menargetkan pertumbuhan tahun depan mencapai 6,8 persen. Tampaknya konsumsi masih menjadi andalan, mengingat belanja pegawai masih lebih tinggi ketimbang belanja modal.

    Sekadar mengingatkan, belanja pegawai tahun depan yang naik dari Rp 212 triliun menjadi Rp 241 triliun merupakan anggaran yang dikeluarkan untuk membayar gaji pegawai negeri sipil atau aparatur negara, baik dalam bentuk uang maupun barang. Ini di luar belanja barang (maupun jasa), seperti perjalanan dinas, seminar atau belanja barang operasional dan lain-lain yang sejenis, yang mencapai Rp 159 triliun.

    Sementara belanja modal seperti

    Selengkapnya »dari Jangan Terlena Pertumbuhan Ekonomi
  • Tips Absurd Jakarta adalah seri tulisan yang berisikan tips-tips umum dalam berkeseharian di kota, yang rupanya tidak benar-benar berlaku di Jakarta—kota merangkap rimba. Tidak ada yang salah dengan anjuran-anjuran berikut, hanya saja... Jakarta keras, bung!

    Bersiasat dalam menghadapi situasi yang kompleks bukanlah perkara mudah, dibutuhkan kepekaan untuk melihat yang teratur di tengah kekacauan. Berkereta menggunakan KRL Jabodetabek adalah salah satu contohnya.

    Penumpang yang acak, dari Dahlan Iskan sampai penjaja koran; perilaku penumpang yang entah konyol atau kreatif, dari yang membawa tempat duduk sendiri hingga yang duduk di atas kereta; jadwal kereta yang tak bisa ditebak, umumnya telat dengan alasan berjuta alasan; informasi perjalanan yang seadanya, dengan mengandalkan pengeras suara berbunyi cempreng; dan masih banyak lagi kompleksitas yang akan Anda hadapi ketika melakukan perjalanan menggunakan KRL Jabodetabek.

    Tak heran, banyak tips yang beredar untuk dapat berkereta dengan

    Selengkapnya »dari Tips Absurd Jakarta: Aman dan Nyaman Naik KRL Jabodetabek
  • Dunia desain berkembang pesat, tren grafis berubah cepat, tetapi tidak di Indonesia.

    Setidaknya itulah yang tercermin dari desain logo peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia sejak tahun 2005 hingga 2012. Logo yang dikeluarkan Sekretariat Negara setiap tahun menjelang Agustus ini selalu punya kemiripan tingkat tinggi dari tahun ke tahun, sehingga kami bingung hendak menyebut desain ini monoton, membosankan, atau justru konsisten.


    Selalu mirip tiap tahun. Mulai dari jenis huruf yang dipakai, slogan "Kemerdekaan Republik Indonesia" yang melengkung di bawah angka, hingga ada bendera Merah Putih kecil di samping.

    Kalau pun ada hal yang berubah maka itu adalah jumlah si bendera kecil. Seperti yang bisa Anda lihat, pada tahun 2005 (HUT ke-60), ada satu bendera. Tiap tahun, bendera itu bertambah hingga mencapai puncaknya pada tahun 2011 (HUT ke-66), bendera kecil itu ada tujuh!

    (Tahun 2011 adalah tahun ke-7 SBY memegang jabatan sebagai presiden.)

    Nah, bila mengikuti polanya, seharusnya

    Selengkapnya »dari Logo Peringatan Kemerdekaan Indonesia yang Selalu Mirip

Penomoran Halaman

(343 Artikel)