Perang Lawan Geng Motor

Newsroom Blog
  • Banjir di Pondok Labu. Foto: Antara.


    Bencana banjir yang menimpa daerah Pondok Labu di Jakarta Selatan tentu harus ditangani segera. Korban yang mengalami kesulitan harus mendapatkan simpati dan bantuan kita.

    Tapi ada bahaya lebih besar yang sedang mengancam kehidupan orang Jakarta. Permukaan sebagian wilayah ibu kota sedang turun dengan kecepatan hingga 18 cm/tahun  di beberapa kawasan tertentu. Kecepatan ini makin tinggi, dan wilayah yang mengalami penurunan makin luas.

    Ini hasil studi konsultan Deltares yang dipaparkan di kantor Rujak Center for Urban Studies pada 16 September 2011.

    Buktinya bisa dilihat di Jakarta Utara. Banyak jembatan yang kini menyentuh air, bukan karena permukaan air yang naik melainkan jembatan yang turun. Juga ada pintu air yang tidak lagi bisa dibuka, karena telah turun sedemikian sehingga permukaan laut lebih tinggi daripada permukaan air saluran di sisi lainnya.

    Sebagian Kampung Luar Batang di sebelah barat Pelabuhan Sunda Kelapa telah dipagari tembok setinggi 3 meter karena permukaan air laut

    Selengkapnya »dari Bukan Hanya Banjir, Tapi Sedang Tenggelam
  • Tekukur makan mie instan. Foto dari buku “Burung Ibu Kota; Panduan Mengamati dan Memotret Burung-burung Jakarta”.
    Jumlah spesies burung di Jakarta yang dapat dikenali bertambah dari 108 pada survei 1996-1997 menjadi 135 (2008-2011). Menggembirakan. Tapi sebenarnya ini masih jauh dari hasil survei tahun 1946 yang berjumlah 256.

    Itu sebagian informasi yang saya peroleh dari buku kecil menarik berjudul “Burung Ibu Kota; Panduan Mengamati dan Memotret Burung-burung Jakarta” yang digagas Ady Kristanto dan B. Kusuma, dua ahli burung yang juga jago memotret.

    Buku kecil (kertas ukuran A6) ini memuat foto-foto lebih dari 50 spesies burung. Semuanya hasil pemotretan langsung oleh Ady Kristanto, Boas Emmanuel, Dedy Istanto, Khaleb Yordan, dan Willy Ekariyono. Suatu hasil kerja yang menakjubkan, mengingat bahwa untuk menjumpai burung-burung itu saja susah, apalagi memotretnya.

    Yang mencengangkan, sebagian foto-foto itu berhasil memotret burung-burung tersebut dalam keadaan yang tidak biasa. Misalnya, burung Tekukur yang sedang menyantap mi instan (h. 149). Foto ini punya nilai keilmuan yang tinggi, karena

    Selengkapnya »dari Burung Ibu Kota Bertambah?
  • Selama tahun 2002-2010 terjadi penurunan pemakaian pada seluruh mode transportasi di Jakarta selain mobil pribadi dan motor. Itulah temuan sebuah studi oleh JICA yang dipublikasikan tahun 2010. Pemakaian mobil meningkat dari 11,6 persen ke 13,5 persen sedangkan motor dari 21,28 persen ke 48,7.

    Bagaimana dengan sepeda? Anda mungkin berpikir bahwa penggunaan sepeda meningkat, seiring meluasnya hobi bersepeda. Tetapi bila dikelompokkan bersama jalan kaki, penggunaan mereka turun dari 23,7 persen ke 22,6.

    Yang paling menyedihkan (menakutkan, bahkan!) adalah turunnya penggunaan bus dari 38,3 persen ke 12,9. Ini tanda bencana dalam waktu dekat, meskipun masih lebih tinggi daripada di Bali yang katanya cuma 3 persen.

    Inilah sebabnya kita – lagi-lagi – harus memerhatikan persoalan rasa takut yang timbul dari pemerkosaan di angkot. Sebab selain soal kriminal, ini juga soal tata kota yang sangat serius. Rasa takut dapat menyebabkan penggunaan bus terus menurun.

    Bagi saya solusi transportasi Jakarta

    Selengkapnya »dari Supaya Pengguna Bus Umum Tetap Ada
  • Kasus pemerkosaan dalam angkot, yang amat mengerikan, masih belum hilang dari ingatan. Rasa takut yang ditimbulkan membuat khawatir tentang masa depan ruang publik Jakarta – serupa dengan ketakutan yang ditimbulkan terorisme.

    Baru-baru ini kita mendengar satu lagi berita menyedihkan yang terkait. Seorang mahasiswi meloncat dari angkot karena takut diperkosa, sebab angkot itu keluar trayek dan tidak mau berhenti ketika diminta.

    Bagi Jakarta, sebuah kota yang sedang berjuang mati-matian untuk meningkatkan penggunaan angkutan umum, dua kejadian ini sungguh menyedihkan. Sedikit saja kemunduran yang timbul akibat rasa takut dan jera akan berakibat fatal. Sebab Jakarta jelas tak mungkin lagi mengandalkan transportasi pribadi.

    Tetapi dalam kehidupan perkotaan, hak terbebas dari rasa takut amat mendasar. Karena itulah fondasi dan ukuran bagi ruang-publik dan fasilitas umum. Tanpa ruang publik dan fasilitas umum, tidak ada yang namanya kota!

    Sebenarnya semua kota (tak hanya Jakarta) harus memajukan

    Selengkapnya »dari Takut di Kota Sendiri
  • Ruang musik di Kunci Cultural Studies. Foto: Marco KusumawijayaDi Yogyakarta beberapa waktu lalu saya menemukan sebuah garasi yang telah berubah fungsi menjadi ruang musik yang nyaman di kantor Kunci Cultural Studies Center di Yogyakarta. Saya jadi berkhayal, betapa indahnya seandainya tak ada mobil.

    Keberadaan mobil tidak hanya membutuhkan jalan raya, tetapi juga garasi, jalan masuk ke garasi, dan pompa bensin. Selain itu, mobil juga membutuhkan pompa bensin, bengkel, tempat cuci, tempat parkir, dll. Bayangkan bila tidak ada mobil: tempat-tempat itu bisa berubah fungsi menjadi hal lain yang lebih menyenangkan.

    Misalnya halaman gedung pusat perbelanjaan Sarinah di Jl Thamrin Jakarta Pusat, yang sekarang berupa lapangan parkir yang gersang, dapat berubah menjadi taman kota yang keren, hijau, sejuk, penuh bunga. Lokasinya pun tepat — mengingat sepanjang jalan besar itu tidak ada taman kota satu pun.

    Contoh lain: pada tahun 2005, jalan layang di Seoul, Korea, sepanjang 8,4 km telah dihancurkan. Sungai Cheonggyecheon di bawahnya dihidupkan kembali.

    Tetapi

    Selengkapnya »dari Seandainya Tak Ada Mobil
  • Yogyakarta, kota kesayangan banyak orang, pekan lalu memilih wali kota baru.

    Ada banyak orang menempuh studi dan "menjadi terdidik" di kota ini, memperoleh kemampuan untuk mengarungi kehidupan sesudah lulus baik dari SMA maupun perguruan tinggi, dan menjadi sedikit-banyak "Jawa".

    Yogya itu membikin kangen — begitulah kira-kira tersirat pada stiker "Kapan ke Jogja Lagi?" di atas.

    Di Yogya, orang mengalami tinggalan-tinggalan dan tradisi bersejarah panjang yang membaur dalam kehidupan sehari-hari. Ada candi-candi di sekeliling kota. Ada keraton, museum, galeri, pasar, juga berbagai LSM.

    Ada juga seniman-seniman bernama besar. Semuanya, tokoh atau bukan, monumen atau bukan, mudah didekati dan dicapai.

    Kota ini juga salah satu pusat kesenian kontemporer Asia yang penting. Sehari-hari Anda dapat menjumpai produktivitas tinggi seniman berbagai bidang. Di antara kokok ayam, kita juga mendengar suara band-band kontemporer. Mengimbangi ruang ruang konsumtif, ada ruang ruang penciptaan kreatif yang

    Selengkapnya »dari Yogyakarta dan Wali Kota Baru
  • Ada satu pertanyaan yang menghinggapi pikiran saya sepulang melancong dari Lampung: mengapa orang Jakarta belum sampai pergi berbondong-bondong ke sana?

    Sepanjang sejarah, penduduk Jakarta sudah terus-menerus memperluas ruang jelajah mereka mencari pantai (naar strand) dan dataran tinggi (naar boven). Awalnya mereka puas kalau sudah sampai ke Bogor atau Puncak. Lalu mereka menjelajahi Cipanas, Lembang, dan berlanjut ke Bandung – yang kini rutin jadi tujuan akhir pekan.

    Dalam hal mencari deburan ombak, orang Jakarta dulu sudah merasa mewah kalau sampai di Sampur (Zandvoort) dan Cilincing. Kemudian mereka ke Anyer dan Carita yang mendadak bertabur hotel dan vila di awal 1990-an. Suatu lompatan terjadi ketika mereka bahkan pergi ke Tanjung Lesung, yang sudah berbatasan langsung dengan Taman Nasional Ujung Kulon.

    Sebenarnya memang tidak tepat menyebut semua pelancong yang terus menerus melebarkan ruang jelajahnya itu orang Jakarta, karena ada gejala lain yang sejalan. Lebih banyak orang kini

    Selengkapnya »dari Mengapa Tidak ke Lampung?
  • Peta kereta bawah tanah Tokyo. Sumber: Biro Transportasi Tokyo Metropolitan

    Melihat gambar jaringan kereta bawah tanah Tokyo (di atas), menurut Anda apakah Jakarta akan pernah mencapai tingkat seperti itu?

    Penduduk Jabodetabek-Bandung kedua terbanyak setelah Tokyo Metropolitan. - 30 juta penduduk di Jabodetabek.
    Mungkin Jakarta tidak perlu menyerupai, atau bahkan mendekati Tokyo.Tetapi, kawasan Jakarta dan sekitarnya (Jabodetabek), yang kini harus dihitung mencakup juga Bandung dan koridor di antaranya, akan segera menjelma sebagai aglomerasi perkotaan nomor dua terbesar di dunia setelah kawasan metropolitan Tokyo (37 juta penduduk).

    Sekitar 30 juta penduduk yang sudah berada di kawasan ini adalah salah satu mesin pertumbuhan terbesar Indonesia yang harus dilayani, antara lain dengan jaringan mobilitas yang memadai.

    Sudah terlalu sering dikemukakan betapa besar kerugian material akibat macet di Jakarta. Belum lagi persoalan sosial dan budaya. Jakarta, misalnya, telah kehilangan kedudukan dominannya sebagai pusat seni rupa kontemporer Indonesia. Saya pribadi Selengkapnya »dari Jakarta dan Tokyo
  • Pada akhir pekan lalu, Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo mengumumkan bahwa suatu tim konsultan sedang bekerja merancang sebuah dinding laut raksasa (giant seawall) di Teluk Jakarta. Berbeda dengan tanggul biasa (dike/dyke) yang umumnya terbuat dari tumpukan tanah, dinding laut terbuat dari beton dan berbagai bahan sintetis lainnya.

    Karena itulah, dinding laut akan mengubah sama sekali interaksi biota di sepanjang permukaannya sendiri serta perairan sepanjang pesisir – dengan lebih cepat.

    Fauzi Bowo mengatakan, dinding itu perlu dibangun guna melindungi Jakarta dari kenaikan permukaan air laut akibat pemanasan global. Sekilas, argumen ini masuk akal. Tetapi apakah tidak ada jalan lain selain membentengi pesisir dengan dinding laut?

    Apalagi argumen selanjutnya Fauzi juga terasa kurang masuk akal. Dinding laut itu, dikatakan, akan diintegrasikan dengan kepentingan Jakarta: menghadapi kemungkinan terjangan tsunami serta menampung air dari 13 sungai Jakarta (untuk diolah menjadi air baku).

    Selengkapnya »dari Dinding Laut Jakarta Apa Perlu?
  • Demo menuntut kemanan dalam angkutan kota Jakarta di Bunderan HI, Jakarta, 18 September 2011. Foto: Marco KusumawijayaAkhir pekan lalu Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo mengeluarkan tiga pernyataan. Tetapi hanya satu yang lebih menarik perhatian orang ketimbang dua sisanya. Yakni anjuran kepada perempuan agar tidak memakai rok mini ketika berada di dalam angkutan kota.

    Pernyataan Fauzi Bowo memang tidak sekasar pernyataan Bupati Aceh Barat Ramli Mansur (“Perempuan yang tidak berpakaian sesuai syariah, seperti minta diperkosa”). Tetapi pada dasarnya baik Fauzi maupun Ramli punya kesalahan pikiran yang sama, yaitu bila laki-laki terangsang, maka itu salah perempuan.

    Karena ini memiliki konsekuensi pada kehidupan publik, maka harus dipersoalkan.

    Pernyataan Fauzi Bowo yang pertama berbunyi, pemerintah provinsi akan membahas serius kasus perkosaan di angkutan kota. Dinas Perhubungan pun akan bekerja mengambil tindakan perbaikan.

    Pernyataan kedua berbunyi, warga perlu berupaya mengamankan diri mereka sendiri senyampang pemerintah mengupayakan berbagai perbaikan. 

    Tidak ada yang salah dari kedua pernyataan di

    Selengkapnya »dari Rok Mini dan Angkot

Penomoran Halaman

(343 Artikel)