Kenaikan BBM

Newsroom Blog
  • Di tengah pasar malam yang ramai, Nurul Izzah, anak sulung dari pemimpin Oposisi Malaysia, Anwar Ibrahim, membagi-bagikan brosur dan kartu buat mereka yang tengah berbelanja. Beberapa media asing sudah menunggu untuk mewawancara, tapi dia tak mau. "Tunggu saya selesai bagikan ini dulu," katanya.

    Selain wartawan, tak banyak yang mendatangi Nurul untuk berbicara. Seringnya malah Nurul yang harus menghentikan orang untuk berbicara dengannya.


    Seorang perempuan etnis Tionghoa langsung maju mengenalkan dirinya dengan suara keras. Dia bilang, dia datang langsung dari Swiss, pulang ke Malaysia hanya demi 'undi' atau ikut pemilu. "Saya baru datang sore ini. Saya dapat info Nurul Izzah akan datang ke pasar ini, saya langsung ke sini untuk memberi semangat," kata Veronica Liew Hui Mei.

    Konsultan investasi ini bolak-balik mengatakan penerbangannya butuh 23 jam, dan dia sama sekali belum bertemu keluarganya. Bahkan mungkin ia baru akan bertemu keluarganya hari Senin nanti usai pemilu. Pada hari

    Selengkapnya »dari Pemilih Gelap vs Pemilih Ekspatriat
  • Sirajudin Hasbi

    Hari Pendidikan Nasional 2 Mei diambil dari hari lahir Ki Hadjar Dewantara, tokoh pendidikan yang namanya masyhur dalam lembaran sejarah bangsa. Berikut ini cerita singkat mengenai menteri pendidikan pertama republik ini, yang punya sumbangsih begitu besar:

    Perjalanan hidup
    Sebagai bangsawan yang besar di lingkungan keraton Yogyakarta, Raden Mas Soewardi Soerjaningrat (nama asli Ki Hadjar) memperoleh pendidikan yang layak. Setelah menamatkan sekolah dasar di Europeesche Lagere Scholen (ELS, sekolah rendah berbahasa Belanda selama tujuh tahun), dia kemudian melanjutkan sekolah ke Stovia. Sayang, sekolahnya tidak selesai lantaran sakit.

    Ki Hadjar Dewantara kemudian bekerja sebagai jurnalis. Dia terkenal andal menyajikan tulisan komunikatif, dengan pesan yang mampu membangkitkan semangat antikolonialisme bagi pembaca. Ada beberapa harian yang tercatat pernah menjadi tempat Ki Hadjar Dewantara menerbitkan tulisannya, yakni Sedyotomo, Midden Java, De Express, Oetoesan Hindia,

    Selengkapnya »dari Ki Hadjar Dewantara dan Perkembangan Pendidikan di Nusantara
  • Oleh Yoga Adiwinarto

    PT Jakarta Monorail dan Adhi Karya kembali mencetuskan ide pembangunan proyek monorel. Bila terlaksana, rencana ini akan membuka koridor monorel yang bersinggungan dengan beberapa segmen koridor busway.

    Koridor Transjakarta yang bersinggungan itu antara lain Koridor 1 (70 ribu penumpang/hari), Koridor 6 (30 ribu penumpang/hari), Koridor 5 (30 ribu/hari), dan Koridor 9 (40 ribu/hari). Mengingat tarif monorel (Rp9000) jauh lebih tinggi dari busway (Rp3500), memang kecil kemungkinan monorel akan “mengambil jatah” penumpang busway.

    Tetapi tarif Rp9000 itu pulalah yang membuat proyek monorel sulit diandalkan.

    Dengan tarif Rp9000, seperti yang diusulkan, seorang pengguna monorel rata-rata akan menghabiskan hampir Rp400 ribu per bulan untuk bepergian dari dan ke tempat kerja. Ini hampir sama dengan biaya bensin mobil per bulan, atau empat kali lipat biaya bensin pengendara motor.

    Dari sini bisa terlihat, monorel tidak diperuntukkan bagi pengguna kendaraan umum, busway ataupun

    Selengkapnya »dari Perlukah Proyek Monorel Dilanjutkan?
  • Sejak akhir Januari, ada pemandangan aneh di jalur busway sepanjang Kuningan dan Setiabudi, Jakarta. Di antara bus-bus besar Transjakarta, ada sesekali melintas bus kecil Kopaja AC berwarna perak (meski terkadang warna itu sudah tertutupi iklan di badan bus).

    Tidak saja masuk jalur busway, Kopaja AC itu juga berhenti di halte dan menaikkan/menurunkan penumpang. Alamak! Kok boleh?

    Semua ini bermula dari pengamatan dan survei lembaga kajian transportasi dan pembangunan ITDP pada tahun 2011. Hasil survei kami waktu itu menunjukkan hasil yang cukup menggelitik. Yakni, frekuensi bus Transjakarta hanya sepertiga bus umum lainnya. Sebagai contoh, dalam satu jam, ada 40 bus Transjakarta yang lewat di Jl Sudirman. Sedangkan Kopaja dan Metromini (yang lewat di jalur lambat bersama kendaraan lainnya) ada 120 bus.

    Artinya, rata-rata bus Transjakarta tiba di halte setiap 90 detik. Padahal bus Kopaja dan Metromini setiap 30 detik saja!

    Lebih mencengangkan lagi, jumlah penumpang yang diangkut oleh

    Selengkapnya »dari Kopaja Masuk Jalur Busway, Buat Apa Sih?
  • They're dancing with the missing..
    They're dancing with the dead..
    They dance with the invisible ones..
    One day we'll dance on their grave..
    They dance alone..

    - Sting-

    Seberapa pentingkah angka 300 untuk anda?  Setidaknya saya masih mengingat, uang dengan nominal itu pernah menjadi bekal saku saat dulu duduk di bangku SD. Cukup untuk membeli sarapan bubur dan makan “sego megono” saat jam istirahat.

    Hal lain dari angka “300” yang saya ingat adalah sebuah film dari adaptasi novel grafis Frank Miller yang konon mengangkat kisah peperangan 300 tentara Sparta melawan Persia.

    Angka 300 juga bisa menjadi kumpulan hari dalam hitungan waktu 10 bulan, jika satu bulan terdiri dari 30 hari.

    Bagaimana jika 300 kali itu adalah mewakili minggu?

    Artinya sudah kurang lebih enam tahun jika demikan. Bagaimana jika dalam waktu yang tidak bisa dikatakan sebentar itu ada yang terus berdiri di depan Istana Presiden?

    Ini bukan rekayasa apalagi ingin mencari sensasi atau rekor Muri.

    Enam tahun itu mereka berdiri di

    Selengkapnya »dari Memperingati 300 Minggu Aksi Kamisan
  • Perang antara kota Jakarta dan kemacetan sudah berlangsung lama. Berbagai senjata sudah dipersiapkan, beberapa ada yang sudah meluncur dan beberapa masih dikaji terus. Proyek busway, misalnya, sudah terwujud sejak 2004. Tetapi MRT dan monorel masih dalam rencana.

    Ada satu moda transportasi yang murah, praktis, modern, dan ramah lingkungan, yang cocok menjadi senjata melawan kemacetan selanjutnya. Perkenalkan: sewa sepeda alias bike share. Setelah sukses di Cina dan Eropa, sewa sepeda segera menyebar cepat ke kota-kota besar dunia khususnya di Amerika Serikat. Sejak 2010, sistem ini sudah diterapkan di Washington DC, New York, Denver, dan lain-lain.

    Sistem bikeshare di Zhuzhou, Cina.

    Sistem sewa sepeda paling dahsyat adanya di Hangzhou, Cina. Di kota itu, ada lebih dari 50 ribu sepeda yang tersebar hampir di seluruh kota — dan siap digunakan oleh siapa saja penduduk yang telah mendaftar jadi anggota.

    Sewa sepeda, atau ada juga yang menyebutnya public bike, merupakan sistem sewa sepeda murah yang memiliki jaringan stasiun

    Selengkapnya »dari Melupakan Kemacetan Dengan Sewa Sepeda

  • Pada tanggal 5 Mei 2013, Malaysia akan mengadakan pemilu atau dalam bahasa setempat, “Pilihan Raya Umum ke-13”.

    Dalam rangka menyongsong hari penting tersebut, pada Minggu 14 April beberapa warga Malaysia mendatangi Lucky Garden Roundabout di Bangsar, Kuala Lumpur. Di bundaran itu, mereka menanam ribuan “bunga” kecil berwarna-warni sebagai simbol gerakan perubahan Malaysia.

    Gerakan itu diberi nama “Malaysian Spring”. Tujuannya, menyebarkan pesan perubahan dan mengajak rakyat ikut berperanserta dalam proses perubahan. Rakyat bisa membuat “bunga” mereka sendiri dengan mudah, lalu menanamnya di lingkungan sekitar mereka, dan kemudian mengirimkan foto bunga yang telah ditanam ke website Malaysian Spring. Semboyan gerakan ini: Plant for hope, plant for change, plant for Malaysia.

    Malaysian Spring dimulai oleh seorang arsitek lanskap sahabat saya, Ng Sek San. Dia mengatakan ada dua tindakan subversif dalam kegiatan itu.

    “Yang pertama, tindakan menanam di ruang publik yang tadinya tak pernah

    Selengkapnya »dari Menanam ‘Bunga’ untuk Perubahan Malaysia
  • Tidak ada kalimat "ibu kita Kartini" dalam lirik lagu yang ditulis oleh WR. Soepratman. 

    Setelah meliput Kongres Perempuan I yang digelar di Yogyakarta pada 1928, WR. Soepratman terinspirasi untuk menulis lagu tentang Kartini. Soepratman menulis lirik yang bunyinya (dan judulnya) "Raden Ajeng Kartini....", bukan "Ibu kita Kartini...".

    Di masa Sukarno, judul dan lirik itu diubah menjadi "Ibu kita Kartini". Pengubahan judul dan lirik lagu itu tak lain dan tak bukan untuk menghilangkan elemen feodalisme dari narasi Kartini -- dan dengan itulah sebenarnya dilakukan sebentuk kekerasan terhadap kisah hidup Kartini.

    Feodalisme dan kolonialisme adalah dua simpul yang jadi lawan utama gerakan-gerakan kiri pasca Indonesia merdeka sampai kejatuhan Soekarno. Menghapuskan embel-embel Raden Ajeng pada Kartini adalah bagian dari pertarungan politik dan ideologi di masa itu (lihat bagian ketiga artikel saya).

    Yang tidak pernah diduga oleh Sukarno dan gerakan-gerakan kiri di masa itu adalah Orde Baru

    Selengkapnya »dari Kartini Sebagai "Kuntilanak Wangi"
  • Proklamasi kemerdekaan segera diikuti merebaknya semangat anti-kolonialisme. Segala yang berbau kolonial dipersoalkan dan ditentang.

    Tapi tidak dengan Kartini. Anak emas kaum etisi kolonial ini tidak dihapus namanya, tapi diambil-alih sekaligus dikukuhkan peranannya dengan lebih jelas dalam sejarah Indonesia.

    Tidak butuh waktu lama proses pengambil-alihan Kartini dari wacana kolonial ke wacana nasional. Pada Kongres Perempuan Nasional yang digelar 4 bulan setelah proklamasi, Kartini sudah "gentayangan" dalam pidato-pidato para peserta. April 1946, belum setahun umur Indonesia merdeka, perayaan Hari Kartini sudah digelar.

    Sejak itu, narasi Kartini di masa pasca-kolonial tak bisa lagi dihentikan. Ketika itu narasi tentang Kartini hampir sama dengan yang direproduksi di masa kolonial. Kartini disebut sebagai pejuang hak pendidikan perempuan dan (tentu saja) emansipasi perempuan. Nyaris tidak ada yang baru.

    Modifikasi terhadap narasi Kartini justru dilakukan oleh gerakan kiri di Indonesia.

    Selengkapnya »dari Kartini "Menjadi" Gerwani
  • Sebagai narasi, Kartini memang dibikin oleh orang-orang Belanda. Dan inilah salah satu soal (atau "sial"?) utama yang merongrong narasi Kartini. Apa bisa kita kenal Kartini jika Belanda tak membuatkan narasi tentangnya?

    Kartini sudah dikenal oleh banyak orang Belanda sebelum ajal menjemputnya pada 17 September 1904. Pembicaraan tentangnya sudah muncul sejak dia mulai menulis di beberapa surat kabar — tentu saja dalam bahasa Belanda.

    Ketika dia meninggal, beberapa surat kabar memberitakannya. Bagaimanapun, Kartini sudah menjadi figur. Setidaknya dia adalah istri seorang bupati — istri utama Raden Djojoadiningrat, tapi bukan istri yang pertama. Tapi waktu itu belum ada gelagat Kartini akan menjadi sebuah narasi yang menonjol. Beberapa surat kabar hanya menulis ala kadarnya tentang kematian Kartini.

    Saya ambil contoh berita di surat kabar Bataviaasch Nieuwsblad dan Het Niuews van den Dag voor Nederlandsch-Indie. Pada hari yang sama, 31 Desember 1904, dua surat kabar itu menurunkan daftar

    Selengkapnya »dari Kartini ‘Bikinan’ Belanda

Penomoran Halaman

(353 Artikel)