Kabut Asap

Newsroom Blog
  • Perbedaan gaji antara pegawai lokal dan asing ternyata tidak hanya terjadi di maskapai penerbangan Garuda Indonesia (yang para pilotnya sampai menggelar mogok kerja demi memprotes perbedaan gaji ini). Seorang insinyur kimia yang bekerja di perusahaan kontraktor minyak dan gas bumi pun mengeluhkan hal yang sama kepada saya.

    Dan bukan hanya dia yang mengeluh. Dalam obrolan santai belum lama ini, seorang presiden direktur perusahaan pertambangan multinasional juga menyampaikan hal serupa. “Posisi saya kayaknya hebat, paling puncak di perusahaan. Tapi ternyata gaji saya kalah sama staf yang ekspatriat,” katanya. 
     
    Bukan rahasia lagi, selama ini para insinyur asing mendapat bayaran yang lebih tinggi dari insinyur lokal. Sejak lima tahun lalu, Persatuan Insinyur Indonesia (PII) pernah mempertanyakan hal ini kepada pemerintah. PII mencatat, perbedaan gaji antara insinyur lokal dengan insinyur asing bisa mencapai 10 kali lipat.

    Bahkan untuk proyek pemerintah pun, perbedaan itu dilegalkan.

    Selengkapnya »dari Cemburu Gaji Asing
  • Beberapa waktu lalu Wakil Walikota Solo, FX Rudyatmo, menunjukkan kepada saya sepotong tepian Sungai Bengawan Solo yang baru dibebaskan menjadi ruang terbuka. Total ada lebih dari 1500 meter panjang tepian ini yang kembali dikembalikan ke guna sejatinya.

    Di sana akan dibangun taman, hutan kota, berbagai sarana rekreasi dan olahraga, serta tanggul untuk menahan air sungai jika meluap melebihi normal. Sekarang pekerjaan sedang berlangsung.

    Ada dua hal penting dari proyek pengembalian bantaran sungai sebagai ruang publik ini. Pertama, ruang terbuka itu bersifat khayalak (publik), milik bersama yang terbuka. Kedua, karena proyek ini, Sungai Bengawan Solo hadir kembali dalam kehidupan sehari-hari warga.

    Tepian air adalah cikal-bakal lokasi semua kota. Solo sudah ada sebelum para raja membentuk dinasti mereka, berkat jasa Bengawan Solo sebagai sumber air dan prasarana perhubungan. Fungsi yang terakhir ini sudah tiada secara konkret, tetapi tetap penting sebagai penghubung antara warga Solo

    Selengkapnya »dari Makna Baru Bengawan Solo
  • 17 Agustus tahun ini ini jatuh pada bulan puasa, sama seperti 17 Agustus 1945. Bedanya 17 Agustus 1945 itu hari Jumat, sedang 17 Agustus 2011 adalah hari Rabu.

    Tiba-tiba muncul harapan: barangkali di dalam bulan ini dua semangat itu—puasa dan kemerdekaan—akan menyatu ke dalam merah darah kita untuk memerangi korupsi. 

    Bagi saya, hasrat pertama nasionalisme di masa sekarang haruslah tentang memberantas korupsi. Sebabnya sederhana dan lurus-langsung: korupsi mengancam semangat dasar berbangsa dan bernegara, serta desire d’etre ensemble atau hasrat untuk bersama.

    Korupsi bukan soal kecil atau besar. Ia juga bukan pencurian biasa, melainkan pencurian kekayaan bersama yang dikumpulkan dengan susah payah melalui pajak dan pendapatan dari kekayaan alam kita.  Pajak adalah ekspresi dari hasrat untuk bersama itu, karena ia mewakili solidaritas untuk memberi secara berbeda-beda, tetapi mengharapkan balasan berupa barang dan pelayanan umum yang merata.

    Korupsi itu mencuri dari khazanah yang suci –

    Selengkapnya »dari Kota Merdeka
  • Pekerja rumah tangga kami, asal Cilacap, mengatakan ia merasa tenteram sesudah pindah ke tempat tinggal kami di pusat kota sekarang, karena ada suara kereta api di dekatnya. Katanya, ada rasa “mau ke mana-mana gampang.”

    Bagi mereka yang tumbuh besar di Pulau Jawa, kereta api adalah sebuah kenangan manis dan pahit sekaligus. Kereta api, bagi banyak masyarakat desa dan kota kecil di Jawa, adalah sarana keterhubungan mendasar dan sangat penting.

    Baru-baru ini kita mendengar bahwa PT Kereta Api Indonesia akan memperlakukan stasiun-stasiun mereka sebagai benda cagar budaya, pusaka, peninggalan bersejarah. Tentu ada motivasi ekonomi di balik rencana itu. Antara lain, meningkatkan pendapatan perusahaan dengan mendayagunakan lahan dan bangunan milik perusahaan.

    Sejak dulu, di seluruh dunia, perusahaan layanan umum semacam kereta api dan pelabuhan memiliki banyak lahan. Ini model pembangunan zaman kolonial di akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20. Lahan itu bukan hanya digunakan untuk membangun

    Selengkapnya »dari Kereta Api dan Masa Depan Kota
  • Konsumsi energi yang terus naik sekitar 7 persen per tahun di Indonesia belum dibarengi dengan pasokan yang cukup. Selain itu, ketergantungan terhadap energi yang berasal dari fosil seperti minyak dan gas bumi serta batu bara, tetap tinggi.

    Hingga pertengahan Maret 2011 saja, konsumsi BBM bersubsidi sudah melampaui kuota yang ditetapkan. Konsumsi premium mencapai 65,02 ribu kiloliter per hari (atau 2,3% di atas kuota). Sementara itu, konsumsi solar 36,55 ribu kiloliter per hari atau 1,95% di atas kuota.

    Hal itu masih ditambah lagi dengan kenyataan bahwa Indonesia masih terhitung boros dalam pemakaian energi. Konsumsi energi di Indonesia sebagian besar digunakan untuk kegiatan nonproduktif yang hanya sedikit bernilai ekonomis seperti sektor rumah tangga dan transportasi keluarga. Jika menopang industri manufaktur pun, yang boros dan menghasilkan komoditas murah.

    Sebaliknya, negara-negara maju menggunakan energi secara efisien untuk kegiatan produksi yang menghasilkan komoditas mahal. Atau,

    Selengkapnya »dari Tergantung Fosil
  • Sebuah frase Inggris berbunyi, "you are what you eat." Frase ini memang awalnya datang dari kalangan ahli gizi, yang mengingatkan bahwa makanan seseorang memengaruhi kondisi kesehatannya. Tetapi seiring waktu, pengertiannya pun berkembang: konsumsi seseorang menentukan siapa dia.

    Di Amerika Serikat, contohnya, orang-orang yang memakan ayam goreng dan burger cepat saji (junk food) kemungkinan besar adalah orang miskin perkotaan. Berbeda dengan Indonesia, yang justru menganggap junk food sebagai makanan kelas menengah ke atas.

    Tetapi selain makanan, terdapat banyak hal lain yang menentukan siapa Anda. Misalnya gaya pakaian, merek mobil, merek telefon seluler, jenis gadget yang dipakai, hingga ke tempat tinggal.

    Untuk urusan tempat tinggal ada cerita sendiri. Sebuah kompleks perumahan di pinggir Surabaya, memasang patung singa berdiri ala Merlion di Singapura, dengan skala 1:3 namun tanpa air muncrat dari mulutnya. Ini membuat saya bertanya-tanya, apakah memang konsumen kelas menengah

    Selengkapnya »dari Konsumsi dan Gaya Hidup
  • Awal Juli ini ada kabar menggembirakan. Sejumlah tim mahasiswa Indonesia menguasai lomba mobil irit Shell Eco Marathon 2011 di Sirkuit Sepang, Malaysia untuk kategori urban concept. Peserta Indonesia mendominasi dengan 4 peserta menduduki empat ranking utama, yaitu Sapu Angin 4 ITS, Cikal Nusantara dari ITB, Sapu Angin2 ITS dan Semart2 dari Universitas Gajah Mada.

    Hasil itu menunjukkan bahwa Indonesia tak kekurangan sumber daya manusia bertalenta untuk menghasilkan mobil hemat energi. Kini, tinggal ada kebijakan yang serius untuk terus mengembangkan langkah-langkah penghematan energi.

    Gerakan itu menjadi penting karena konsumsi energi Indonesia terus meningkat. Bukan hanya karena kebutuhan yang terus naik, tetapi juga karena hal-hal yang semestinya bisa dihindarkan seperti kemacetan yang luar biasa di kota-kota besar. Kemacetan yang tinggi tak pelak terkait dengan pertambahan kendaraan bermotor yang pesat, tanpa diimbangi penambahan panjang jalan yang seimbang.

    Untuk Indonesia,

    Selengkapnya »dari Subsidi dan Hemat Energi
  • Almarhum Rosihan Anwar pernah mengatakan, bahwa masalah di Pulau Jawa (dibandingan dengan Sumatera) adalah tidaknya adanya budaya kedai kupi. Yang ada tentu saja warung Tegal. Kalau Anda pernah kunjungi kedai kupi di Banda Aceh, Bukittinggi atau Tanjungpinang, Anda akan paham maksud Rosihan Anwar. Di kota-kota ini orang-orang betah berjam-jam di kedai kupi yang selalu ramai, membahas apa saja. Suatu pertanda baik bahwa perempuan kini makin bertambah jumlahnya di kedai-kedai ini.

    Nah, sekarang memang Jakarta seperti bukan Jawa. Kedai kupi, atau disebut orang tertentu "kofisyop", sekarang bertebaran di mana-mana di seluruh metropolis ini.

    Satu gejala yang makin menonjol adalah makin sering saya bertemu orang secara kebetulan di kedai-kedai ini. Pada setiap kunjungan saya berjumpa setidaknya dengan tiga sampai lima orang kenalan tanpa janjian. Tentu saja umumnya saya pergi ke kedai kupi ini memang untuk bertemu juga dengan orang yang sudah melalui janji.

    Saya duga, banyak orang lain juga

    Selengkapnya »dari Perjumpaan di Kedai





















  • Apa arti taman bagi Anda? Apakah akhir-pekan lalu Anda sempat ke taman kota, memanfaatkannya untuk segarkan jiwa dan raga sebelum memulai hari kerja lagi?

    Seorang pesepeda, bendahara B2W Jakarta Barat, Andy Fusri, minggu sore lalu menunjukkan suatu harta karun Jakarta kepada saya: Taman Tomang. Sebagian orang menyebutnya Taman Kampung Sawah. Letaknya di pojok barat-daya perempatan Tomang.

    Sepertiga taman ini berlantai keras tersusun dari konblok. Mungkin maksudnya untuk parkir kendaraan, tetapi sebagian terbesarnya digunakan untuk main bola oleh anak-anak. Dua pertiganya terdiri dari ruang terbuka hijau dengan alas rumput dan ditanami banyak pohon.

    Ada jalur beralas konblok juga untuk pejalan-kaki. Ada juga danau buatan dengan pulau di tengah-tengahnya. Kelihatannya air ini tidak mengalir. Pulau itu lebih tinggi, dan tidak dapat dicapai, karena tidak ada jembatan. Sampah banyak terdapat di air ini. Sedangkan di lapangan rumput relatif sampahnya sedikit, jadi secara umum terkesan

    Selengkapnya »dari Mencari Taman di Jakarta
  • Pertemuan para pejabat senior Cina dengan negara-negara ASEAN hari Rabu (18/7) di Nusa Dua, Bali, menghasilkan perkembangan baru bagi penyelesaian sengketa Laut Cina Selatan.

    Para pejabat senior itu menyepakati sebuah rancangan panduan bersama bagi penerapan Declaration of Conduct, yang ditandatangani pada tahun 2002. "Ini tonggak penting bagi kerjasama antara Cina dan negara-negara ASEAN," kata Liu Zhenmin, asisten menteri luar negeri Cina kepada wartawan. Rancangan panduan itu akan diserahkan kepada para menteri luar negeri untuk disetujui pada Kamis (19/7).

    Apa itu sengketa Laut Cina Selatan?
    Laut Cina Selatan telah menjadi sengketa lebih dari sepuluh tahun. Perairan ini, berikut dua kepulauan (Paracel dan Spratly) di sana, diperebutkan oleh enam negara. Mereka adalah Cina, Taiwan, Vietnam, Malaysia, Brunei Darussalam, dan Filipina.

    Cina memakai alasan sejarah untuk memperkuat klaim mereka atas Laut Cina Selatan, dengan mengatakan bahwa kedua kepulauan Paracel dan Spratly dulunya

    Selengkapnya »dari Babak Baru Sengketa Laut Cina Selatan

Penomoran Halaman

(353 Artikel)