Oleh Tarlen Handayani dan Adim
Anda ingat Den Bagus? Atau mungkin Charlie Chaplin? Mereka berdua adalah karakter dunia seni pertunjukan pantomim. Meski Den Bagus dan Charlie Chaplin lahir di negara berbeda, mereka sama-sama mengandalkan kemampuan olah tubuh dan mimik pesan dalam menyampaikan pesan. Seperti bermain teater tapi tanpa dialog.
Mari berkenalan dengan Wanggi Hoediyatno Boediardjo, salah seorang aktor pantomim di Bandung. Wanggi Hoed, demikian ia biasa dipanggil, sudah bergelut dengan pantomim selama tujuh tahun. Ia mempelajari pantomim secara otodidak. Selain membuka-buka internet dan menonton You Tube, dia juga membaca referensi dari buku. Salah satunya dari buku “The Art of Pantomime” karya Charles Aubert yang ditulis pada tahun 1970.
Wanggi, pria kelahiran Palimanan, Cirebon tanggal 24 Mei 1988 ini cenderung memilih ruang-ruang publik sebagai panggung pertunjukannya. Alasannya? “Biar pantomim itu terasa di masyarakat,” ujarnya.
Alumnus Sekolah Tinggi Seni Indonesia ini
Penghargaan buat SBY
- Presiden Dijadwalkan Lakukan Kunjungan Kenegaraan ke SwediaAntara - 1 jam 30 menit lalu
- Pemerintahan Yudhoyono Tak Bertujuan Menerima PenghargaanAntara - 13 jam yang lalu
- Komnas HAM: Toleransi Beragama Indonesia MemburukTempo - Jum, 24 Mei 2013
- Anisa Wahid: Masa SBY, Intoleran Lebih Leluasa Tempo - Jum, 24 Mei 2013
- Adnan Buyung: Dipo Alam Lancang!Tempo - Jum, 24 Mei 2013
- Penegakan HAM Buruk, Politikus Salahkan PemerintahTempo - Kam, 23 Mei 2013
- Imam AS akan Berkunjung ke AuschwitzAntara - Rab, 22 Mei 2013
- Award untuk SBY bertolak belakang dengan laporan Deplu ASMerdeka.com - Sel, 21 Mei 2013
- Walubi: Perlakukan Islam Sama dengan Umat LainAntara - Jum, 17 Mei 2013
- Rusia Mau Belajar Hukum Islam dari Indonesia Tempo - Sel, 14 Mei 2013
- 'Harusnya SBY malu terima penghargaan perdamaian internasional'Merdeka.com - Rab, 8 Mei 2013
- Penyerangan Warga Ahmadiyah, Begini Kata MendagriTempo - Sel, 7 Mei 2013
- Kedubes AS Tolak Surat Protes ke SBY, Rohaniawan KecewaLiputan 6 - Sen, 6 Mei 2013
- Korban intoleransi beragama surati Obama soal award untuk SBYMerdeka.com - Sen, 6 Mei 2013
- Ulil: Pemerintah Tidak Tegas Urus AhmadiyahTempo - Sen, 6 Mei 2013
- Istri Gus Dur Minta Segel Masjid Ahmadiyah DibukaTempo - Min, 5 Mei 2013
- Istri Gus Dur: Solusi Ahmadiyah, cabut SKB 3 menteriMerdeka.com - Min, 5 Mei 2013
- Nyaleg, Edo Kondologit Tertular Spirit JokowiTempo - Min, 21 Apr 2013
- Pembangkang Vietnam Dilarang Bertemu Seorang Pejabat ASAntara - Sel, 16 Apr 2013
- Penghargaan Toleransi Beragama untuk SBY Keliru?Tempo - Jum, 12 Apr 2013
Sejak Rabu (20/2), kami meminta pembaca Yahoo! Indonesia yang berdomisili di Jawa Barat untuk menentukan pilihan mereka akan gubernur yang baru. Pemilihan kepala daerah provinsi Jawa Barat akan berlangsung pada Minggu, 24 Februari ini. Lima kandidat bertarung dalam pemilihan tersebut, dan ada tiga figur selebritas.
Selengkapnya »dari Gubernur Jawa Barat Pilihan Pembaca
Pasangan independen Dikdik Mulyana Arief Mansur-Cecep Nana Suryana Toyib mendapat nomor urut 1, lalu Irianto MS 'Yance' Syafiuddin-Tatang Farhanul Hakim di nomor urut 2, wakil Gubernur Jawa Barat incumbent Dede Yusuf memilih maju sendiri jadi calon gubernur dengan wakil Lex Laksamana di nomor 3, sementara gubernur petahana Ahmad Heryawan dari PKS memilih menggaet artis Deddy Mizwar sebagai calon wakil gubernur. Artis lain, Rieke Diah Pitaloka memilih sosok sekjen Transparency International Indonesia Teten Masduki menjadi wakilnya.
Lalu siapa yang unggul dalam survey pembaca Yahoo! Indonesia
Ternyata pasangan nomor 5, Rieke Diah Pitaloka-Teten Masduki mendapat pilihan
Selengkapnya »dari Perebutan ‘Di Balik Frekuensi’
Sejenak di tengah film dokumenter “Di Balik Frekuensi”, lagu Naif berjudul “Televisi” mengalun riang. Ia seperti memberikan kesempatan bagi penonton untuk bernapas sebentar dari konflik. “Aku ingin muncul di televisi, buat acara sendiri,” begitu secuplik liriknya.
Namun, sambil lagu jenaka itu diperdengarkan, fakta petaka konglomerasi televisi ditayangkan. Di Indonesia, kita punya 1248 stasiun radio, 1706 media cetak, dan 76 stasiun televisi, dan ribuan media tersebut dimiliki hanya 12 pengusaha.
Dengan masing-masing konstelasi medianya, 12 orang ini punya kekuatan dalam membentuk apa yang kita dengar setiap harinya.
“Di Balik Frekuensi” karya Ucu Agustin seperti memberikan jendela wawasan kepada publik sebagai konsumen media, bahwa apa yang kita lihat dan dengar sehari-hari tidak pernah bebas dari muatan politik segelintir pihak.
Dalam durasi 144 menit 27 detik, film ini menyajikan rekaman perjuangan Luviana, asisten produser MetroTV yang mengadvokasi hak-haknya sebagai pegawai, dan
Selengkapnya »dari Mimpi Jakarta Tanpa Papan Reklame
Di Jakarta, beberapa hari lalu beredar wacana larangan izin baru reklame oleh Jokowi dan Ahok. Pajak reklame yang relatif tidak besar (hanya menyumbang sekitar 2 persen dari pemasukan pajak Jakarta) membuat mereka berpikir kembali soal peran reklame.
Jokowi dan Ahok hendak mengganti papan reklame dengan layar light-emitting diode (LED) di bus, halte busway dan gedung-gedung perkantoran.
Ada beberapa celah yang perlu diperdebatkan di balik wacana ini.
Pertama, Ahok mendasarkan pemikirannya pada argumen ekonomi, bukan pada keberpihakan ruang publik. Ahok mengatakan harus ada upaya mendongkrak pendapatan lebih tinggi melalui iklan luar ruang, dan itu bisa mudah diperoleh melalui iklan layar LED.
Ardi Yunanto, redaktur Jurnal Karbon yang juga sedang meneliti tentang media luar ruang, mengatakan bahwa argumen Ahok itu lemah bila ternyata penghasilan pajak reklame dapat ditingkatkan. Ketika itu terjadi, maka keberadaan reklame tidak menjadi masalah dari perspektif ekonomi, dan yang dibutuhkan
Tempo/Agung Pambudhy
Oleh Sirajudin Hasbi
“Hampir seratus tahun kita menanti adanya karya anak bangsa mendunia, tapi alhamdulillah hari ini semua terbukti setelah buku saya menjadi bestseller dunia,” kata novelis Andrea Hirata (“Laskar Pelangi”) dalam suatu konferensi pers seperti yang dikutip oleh salah satu media nasional terkemuka.
Sepenggal pernyataan itu sontak jadi kontroversi yang ramai diperbincangkan sepekan terakhir.
Damar Juniarto, seorang publisis, menulis sanggahan terhadap pernyataan Andrea. Dia menuliskannya dalam blog Kompasiana miliknya, dengan judul “Pengakuan International Laskar Pelangi: Antara Klaim Andrea Hirata dan Faktanya”.
Ada tiga poin utama sanggahan Damar. Pertama, kata Damar, klaim Andrea mengenai penulis Indonesia yang mendunia — setelah seratus tahun penantian — patut diperdebatkan. Sebabnya, Andrea mengesampingkan nama besar seperti Pramoedya Ananta Toer, satu-satunya sastrawan Indonesia yang hingga kini pernah menjadi nominasi peraih Nobel Sastra.
Ada pula nama lain seperti Selengkapnya »dari Andrea Sebaiknya Membalas Dengan TulisanDi tingkat konstitusional, Hak Asasi Manusia (HAM) di Indonesia sudah mengalami perbaikan selama 12 tahun. Tetapi pada kenyataan, kondisi HAM masih tidak memuaskan. Kekerasan baru cenderung dibiarkan terjadi, sementara kekerasan lama tak pernah terselesaikan (seperti kasus Munir). Tak heran ketika pejabat tinggi kantor HAM PBB Navi Pillay datang ke Indonesia, dia memberi catatan keras kepada pemerintah.
Selengkapnya »dari Lima Salah Kaprah Hak Asasi
Salah satu penyebab kemandekan penegakan HAM adalah salah kaprah yang terjadi di kalangan pejabat, petugas hukum, serta masyarakat Indonesia. Apa saja salah kaprah itu?
1. ‘HAM bertentangan dengan nasionalisme dan budaya lokal.’
Hak asasi dianggap sebagai budaya Barat yang memuja individualisme dan mengganggu kesatuan Indonesia. Padahal, rasa kritis setiap orang datang dari ketiadaan pelayan negara. Atau hilangnya faktor penopang keberadaan setiap manusia.
Daya kritis ini bisa muncul dari setiap orang yang berada di tengah komunitas dan bisa meluas hingga menjadi daya kritis bersama. HAMMaria Katarina Sumarsih: Konsistensi Perjuangan Seorang Ibu Mencari Keadilan
Oleh KontraS | Newsroom Blog – Rab, 30 Jan 2013
Selengkapnya »dari Maria Katarina Sumarsih: Konsistensi Perjuangan Seorang Ibu Mencari Keadilan
Namanya Maria Katarina Sumarsih. Ia lahir dari keluarga sederhana pada 5 Mei 1952, di Kabupaten Semarang. Ayahnya, Mitroredjo, adalah seorang petani yang berpesan kepada anak-anaknya untuk menjalani hidup sederhana serta terus mengejar ilmu pengetahuan yang tak lekang dimakan usia.
Pada 1966, Sumarsih mendaftar ke sebuah Sekolah Menengah Ekonomi Atas (SMEA) di Salatiga. Di kota itu dia berjumpa dengan seorang mahasiswa Universitas Satya Wacana bernama Arief Priyadi, yang kelak menjadi suaminya. Pada 5 Desember 1976, Sumarsih dan Arief menerima sakramen pernikahan di Gereja Santo Para Martir Jepang, Salatiga.
Selang setahun mereka pindah ke Jakarta. Pada 15 Mei 1978, putra pertama mereka lahir. Mereka menamakannya BR Norma Irawan. Dua tahun kemudian, Wawan mendapat adik perempuan: BR Irma Normaningsih.
Rutinitas Sumarsih makin padat ketika memutuskan bekerja sebagai pegawai negeri di Sekretariat Jenderal DPR RI. Dia sempat menjabat sebagai Sekretaris Fraksi Golkar di masa Orde Baru —Empat lajur jalan tol dalam kota Jakarta disatukan dan diubah fungsinya menjadi taman super panjang — membentang dari Patung Dirgantara di Pancoran hingga ke utara, ke persimpangan tol bandara. Mobil yang berseliweran di jalan tol pun hilang, digantikan manusia yang berkegiatan sosial di taman. Mereka berolahraga, bermain, bercocok tanam, dan lain-lain. Bagaimana mungkin?
Selengkapnya »dari Lokakarya Smart City (2): Mobilitas
Seperti itulah gagasan “Magic Belt” karya Ria Pratama Istiana. Ia mengusulkan lajur di jalan tol dipangkas hingga tinggal satu lajur bagi bus khusus untuk masing-masing arah. Bus khusus ini akan mampu mengangkut penumpang yang sebelumnya pergi naik mobil. Dengan begini, lajur yang tadinya digunakan mobil bisa dibongkar dan dijadikan taman, seperti yang terjadi di beberapa kota di dunia.
Gagasan Ria Pratama itu adalah satu dari empat ide yang terkait mobilitas yang dihasilkan dalam lokakarya Smart City = Smart Citizens + Smart Process untuk bahan pameran bulan Mei-Juli 2013 di Aedes Architectural Forum, Berlin.Change.org, Sarana Perubahan Lewat Ujung Jemari
Oleh Robin Hartanto | Newsroom Blog – Jum, 25 Jan 2013Siapa yang kamu pikirkan ketika mendengar kata “perubahan”? Sebaris tentara bersenjata? Seribu mahasiswa bersuara lantang?
Selengkapnya »dari Change.org, Sarana Perubahan Lewat Ujung Jemari
Di era digital ini, tokoh perubahan itu bisa jadi bukan lagi mereka, melainkan kamu sendiri. Tidak perlu macam-macam. Cukup berbekal jemari dan koneksi, lalu beberapa klik pada mouse sambil minum kopi, maka kamu bisa berpartisipasi melakukan perubahan, tanpa perlu susah-payah turun ke jalan.
Aktivisme lewat internet (click activism) semacam inilah yang kemudian dikembangkan Change.org, sebuah perusahaan sosial tersertifikasi yang menggunakan kekuatan bisnis untuk misi sosial — demikian yang tertulis dalam situs resminya — untuk mengubah dunia.
Portal Change.org adalah sebuah platform petisi online, yang bertujuan memberdayakan siapa saja yang ingin menciptakan segala perubahan yang ingin mereka lihat. Dari anak-anak belasan tahun hingga ibu rumah tangga; dari masalah jalan rusak di depan rumah hingga masalah penggusuran pedagang.
Para pencetus petisi dapat menulis
Obamas attend church before inaugurationU.S. President Barack Obama and his family attended church services at St. Johns ahead of his public swearing-in ceremony. Rough Cut (no reporter narration).
Pukul 10.45, Obama dan Michelle serta Joe Biden keluar dari Gedung Putih dan akan pergi menuju Capitol Hill, tempat dilaksanakannya pelantikan. Sepanjang jalan, sambutan meriah mewarnai lewatnya The Beast, limosin yang mengangkut Obama.
Selengkapnya »dari Video: Rangkaian Prosesi Pelantikan Obama
Bantu Beri Jawaban
Postingan Blog Pilihan
Setelah Bensin Bersubsidi Naik, Muncul Proyek Lanjutan
Newsroom Blog - Sen, 13 Mei 2013Proyek Beranak-pinak Pada KTP Elektronik
Newsroom Blog - Sen, 13 Mei 2013Artis dan Karir Politik
Newsroom Blog - Jum, 10 Mei 2013Fenomena Artis Berpolitik
Newsroom Blog - Jum, 10 Mei 2013Wajah Arsitektur Indonesia Dalam Penghargaan Aga Khan
Newsroom Blog - Jum, 10 Mei 2013Perubahan yang Tertunda di Malaysia
Newsroom Blog - Sen, 6 Mei 2013Antrian Harapan di Tempat Pemungutan Suara Pemilu Malaysia
Newsroom Blog - Min, 5 Mei 2013Kampanye 'Putri Reformasi' di Pasar Malam
Newsroom Blog - Jum, 3 Mei 2013Media yang Tak Seimbang Pada Pemilu Malaysia
Newsroom Blog - Jum, 3 Mei 2013Ujian Nasional Nan Menakutkan
Newsroom Blog - Jum, 3 Mei 2013



