Rencana pemerintah memberlakukan cukai terhadap pulsa telepon seluler cukup mengejutkan sekaligus menggemaskan. Apalagi alasan tambahan tarif itu cenderung dibuat-buat. Yakni, demi mengendalikan konsumsi pulsa lantaran aktivitas berkomunikasi melakui ponsel berbahaya bagi kesehatan.
Seperti didalihkan Kepala Badan Kebijakan Fiskal Departemen Keuangan, Bambang Brodjonegoro dalam pertemuan dengan Komisi Keuangan DPR, Selasa (11/12), penggunaan ponsel lebih dari 10 tahun akan menggandakan risiko kanker otak. Selain itu, menurutnya telepon seluler juga bisa menimbulkan tumor, leukimia, dan lain-lain penyakit seram.
Dengan asumsi yang seolah-olah mulia itu, pemerintah ingin mengenakan cukai terhadap pulsa agar konsumsi lebih terkendali dan masyarakat sehat. Pagi-pagi, walaupun belum diajukan secara resmi, DPR sudah menyatakan sepakat. Itu terlihat dari pernyataan Ketua Komisi Keuangan dari Fraksi PDI Perjuangan Izederik Emir Moeis.
Padahal kalau mau jujur, maksud pemerintah cukup jelas, yaitu
Berburu Harta Luthfi
- Berkas Hampir Rampung, Luthfi Hasan Segera DiadiliTempo - 49 menit yang lalu
- Orangtua Darin Kenalkan Luthfi Hasan Sebagai SuamiTempo - 2 jam 50 menit lalu
- Sekretaris pribadi Luthfi Hasan bungkam usai diperiksa KPKMerdeka.com - 5 jam yang lalu
- Ahmad Zaky: Saya tidur saat KPK mau bawa mobil Luthfi HasanMerdeka.com - 5 jam yang lalu
- Diperiksa KPK, Sekretaris Luthfi Hasan Membisu Tempo - 6 jam yang lalu
- Ditanya Istri Fushtun, Luthfi Hasan Angkat BahuTempo - 8 jam yang lalu
- Luthfi Hasan Diduga Punya Tanah 2 Hektare di BogorTempo - Sel, 21 Mei 2013
- Ditanya Soal Darin Mumtazah, Luthfi Hasan Hanya SenyumLiputan 6 - Sel, 21 Mei 2013
- Lagi, KPK Sita Rumah Luthfi Hasan di Kebagusan Tempo - Sel, 21 Mei 2013
- Apa Kaitan Pushtun, Luthfi Hasan dan Darin MumtazahLiputan 6 - Sel, 21 Mei 2013
- Luthfi Hasan Ishaaq nikahi gadis kelas 3 SMK?Merdeka.com - Sel, 21 Mei 2013
- Darin Mumtazah Menghilang Sejak Kasus Luthfi Hasan MencuatLiputan 6 - Sel, 21 Mei 2013
- Luthfi Hasan Pernah Menginap di Rumah Darin Mumtazah 2 HariLiputan 6 - Sel, 21 Mei 2013
- Mantan Anggota DPD Dicecar KPK Soal Tanah Luthfi HasanLiputan 6 - Sel, 21 Mei 2013
- Luthfi Hasan Senyum Kecut Ditanya Istri PushtunLiputan 6 - Sel, 21 Mei 2013
- Suswono akui Luthfi Hasan Ishaaq fasilitasi pertemuan MedanMerdeka.com - Jum, 17 Mei 2013
- Terus dicecar jurnalis, Luthfi Hasan Ishaaq kesalMerdeka.com - Jum, 17 Mei 2013
- Gubernur Sumut kenal Fathanah dari Luthfi Hasan IshaaqMerdeka.com - Kam, 16 Mei 2013
- KPK Sita Mobil Luthfi Hasan IshaaqAntara - Rab, 15 Mei 2013
- Jadi tersangka suap, Luthfi Hasan masih terima gaji dari DPRMerdeka.com - Rab, 15 Mei 2013
Bencana memang bukan perkara main-main. Namun sebuah organisasi nirlaba Plus Arts asal Jepang tahu betul bagaimana cara bermain dengan bencana — tanpa menjadikannya main-main.
Selengkapnya »dari Bermain Dengan Bencana
Plus Arts membuat pembelajaran tentang bencana, yang biasanya membuat kita merinding, menjadi pelajaran menyenangkan dengan sentuhan seni dan desain. Mereka, misalnya, membuat panduan menghadapi bencana dalam berbagai produk sehari-hari seperti sapu tangan, brosur, kalender, dan lain-lain, dengan grafis yang lucu dan memikat.
“Isu-isu sosial seperti edukasi bencana, apabila ditangani dengan seni, akan menghasilkan ide-ide yang fleksibel”, ujar Nagata Hirokazu, seorang produser yang juga ketua dewan Plus Arts, dalam lokakarya “Disaster Preparedness + Creative” 6-7 Desember 2012 kemarin, di Japan Foundation Jakarta.
Ada pula berbagai permainan, seperti kartu dan ular tangga, yang bertujuan mengajarkan pengetahuan dan prosedur penanganan bencana kepada anak-anak. “SHUFFLE”, salah satu permainan kartu yang mereka buatApa kabarmu, Via?
Selengkapnya »dari Surat untuk Via
Barangkali kamu bertanya untuk apa aku menanyakan ini. Bukankah kamu bertemu denganku hampir setiap hari, begitu pikirmu pasti. Tetapi, Via, kali ini aku tidak sedang berbasa-basi. Belakangan aku merasa resah karena kamu berubah.
Kamu tentu berhak untuk itu — untuk perubahan. Seperti kota ini yang setiap harinya juga tidak pernah sama. Aku pun bukan seorang posesif yang akan menuntutmu untuk selalu sama.
Namun, Via, ketika perubahan itu membuatmu tidak lagi menjadi dirimu, aku sungguh tidak rela.
Ingatkah kamu akan perjumpaan pertama kita? Ah, pasti kamu sudah lupa.
Saat itu awal tahun 2007; kamu belum setenar sekarang. Aku sedang menuju stasiun kereta; kamu sedang berdandan. Aku bisa merasakan bahwa kamu berbeda dengan yang lain, walaupun saat itu kamu tampak berantakan. Padamu, ada kecantikan yang tidak mampu kuceritakan.
Perlahan, aku mulai mengenalmu, dan aku menikmati setiap pertemuanku denganmu. Bahkan, setiap kali hendak menjelajah Jakarta, aku sering kali mampirTerhitung sejak 3 Desember 2012, kartu Commet dinyatakan wafat — dalam usia yang belum sampai satu tahun. Dengan rasa duka yang sedalam-dalamnya, izinkan saya mewakili para pencinta komuter untuk mengenang riwayat beliau.
Selengkapnya »dari Akhir Kata untuk Commet
Kartu Commet (singkatan “commuter electronic ticket”, tiket elektronik komuter) lahir pada tanggal 1 Februari 2012. Ia meneruskan darah orangtuanya: KTB (Kartu Tanda Berlangganan) dan KLS (Kartu Langganan Sekolah), yang merupakan kartu langganan bulanan untuk pengguna tetap kereta komuter.
Pada akhirnya, nasib Commet memang mirip komet. Melejit cepat kemudian hilang dari pandangan.
Awalnya, kehadiran Commet membawa secercah harapan bagi para pencipta dan pencintanya, bahwa kartu ini dapat menjadi benih sukses sistem tiket elektronik, sebagaimana di kota-kota besar lain di dunia. New York sudah menjalankan sistem elektronik sejak 1994. Hongkong sejak September 1997. Singapura? 2001.
Tetapi di Jakarta, sampai tahun 2012 tiket masih manual. Tiket dijual di loket, laluAkses Air Bersih Masih Jadi Masalah Besar Asia
Oleh Famega Syavira Putri | Newsroom Blog – Jum, 30 Nov 2012
Selengkapnya »dari Akses Air Bersih Masih Jadi Masalah Besar Asia
Akses terhadap air bersih masih menjadi masalah bagi sebagian besar penduduk Asia, terutama bagi warga miskin. Kondisi tersebut diungkapkan oleh perwakilan UN Habitat di 14 negara Asia Pasifik dalam pertemuan Environtmental Technology Expert Group Meeting di Fukuoka, Jepang, 28 November 2012.
"Afghanistan tidak punya pengolahan air bersih sama sekali, padahal pertumbuhan ekonomi yang tinggi membutuhkan fasilitas dasar," kata Jan Turkstra, Perwakilan UN Habitat di Afghanistan. Sebagian besar masyarakat mendapatkan air tanah yang jumlahnya tidak banyak dan kian terpolusi.
Menurut Direktur UN-Habitat Asia Pasifik Chris Radford, banyak masalah mengenai air di Asia Pasifik sehingga pertemuan ini digelar untuk mencari solusi dan berbagi pengetahuan antara Jepang dan negara-negara berkembang. Pertemuan itu juga dihadiri pada ahli dari perusahaan swasta Jepang untuk membagi pengetahuan dan teknologinya mengenai pengadaan dan pemurnian air.
Di Pakistan, pengolahan limbah masih sangat buruk. "UntukMenanggapi Gagasan Arsitektur Betawi dan Mesjid Raya
Oleh Marco Kusumawijaya | Newsroom Blog – Kam, 29 Nov 2012Dua minggu yang lalu, ada dua gagasan Gubernur Jakarta Joko Widodo yang menarik perhatian. Yang pertama, mengenai keharusan semua bangunan di Jakarta memiliki ciri Betawi. Yang kedua, rencana pembangunan masjid raya di Kapuk.
Selengkapnya »dari Menanggapi Gagasan Arsitektur Betawi dan Mesjid Raya
Kedua gagasan tersebut menarik, justru karena luar biasa menyimpang dari keinginan mayoritas warga Jakarta agar Jokowi fokus pada penanganan dua masalah pokok: macet dan banjir.
Terlebih lagi, sampai saat ini belum ada keputusan yang tegas mengenai berbagai hal terkait kedua hal pokok itu. Belum ada kejelasan proyek MRT, enam ruas jalan tol, perluasan sistem busway, tanggul pengaman Teluk Jakarta, dan lain-lain.
Gagasan membuat masjid, baik raya maupun bukan, sudah lama menjadi hobi beberapa kepala daerah di kota-kota lain, misalnya Makassar dan Kendari. Siapa “berani” menolak keinginan seseorang membangun masjid? Pasti tidak ada yang berani mengatakan hal buruk terhadap upaya mengembangkan kehidupan beragama.
Pada beberapa kasus, pembangunan masjid itu dikaitkanMengurangi Kemacetan, Menghadapi Kenyataan
Oleh Marco Kusumawijaya | Newsroom Blog – Sel, 27 Nov 2012Mari menghadapi kenyataan. Untuk membangun sistem angkutan umum mumpuni, yang dapat mengurangi jumlah kendaraan pribadi di jalan-jalan di Jakarta sehingga sama seperti 20 tahun yang lalu, diperlukan waktu 10 tahun.
Selengkapnya »dari Mengurangi Kemacetan, Menghadapi Kenyataan
Padahal pada saat yang sama, sangat kecil kemungkinan pemerintah pusat akan mengeluarkan kebijakan yang dapat mengecilkan industri otomotif. Bukan karena ada konspirasi atau semacamnya, melainkan karena memang sulit menolak godaan pertumbuhan ekonomi yang ditawarkan industri otomotif sebagai jalan pintas.
Meski demikian, angkutan umum tetap harus dibangun. Makin cepat dimulai (dan makin kencang larinya), makin baik. Lalu apa yang dapat kita lakukan sambil menunggu 10 tahun itu? Kita tentu tidak mau cuma marah-marah dan menderita berbagai penyakit akibat macet, polusi dan berbagai ketegangan?
Ada beberapa cara. Yang utama adalah, mengurangi kebutuhan bepergian pada hari kerja.
Dewasa ini, teknologi informasi makin hebat. Perkembangan dunia digital sudah dan terus membantu kitaPetisi Tolak Jalan Tol Akan Disampaikan Kepada Jokowi
Oleh Marco Kusumawijaya | Newsroom Blog – Min, 25 Nov 2012Pada dasarnya tidak ada argumen mendasar bertahan mendukung jalan tol dalam kota. Penolakan datang dari berbagai pihak, antara lain melalui petisi "Batalkan Pembangunan 6 Jalan Tol" yang ditayangkan oleh penggagasnya, Firdaus Cahyadi, di change.org.
Selengkapnya »dari Petisi Tolak Jalan Tol Akan Disampaikan Kepada Jokowi
Namun, tetap belum ada keputusan tegas dan tersurat dari Gubernur Joko Widodo, meskipun berkali-kali beliau telah menyatakan tidak setuju. Nampaknya perundingan masih berlangsung.
Karena itu para pembuat dan pendukung petisi, dipimpin oleh Firdaus Cahyadi, berencana akan menyampaikan cetakan dari Petisi tersebut ke Balaikota pada hari Senin, 26 November 2012, jam 07:45. Warga Jakarta diundang untuk menunjukkan dukungan. Bisa langsung bertemu di halaman Balaikota pukul 07:45 atau berangkat bersama dari Jalan Sabang No. 16 pukul 07:30.
Mengapa para pembuat petisi ini begitu berketetapan hati?
Sebenarnya pendirian mereka sama dengan apa yang sudah sering disampaikan oleh Gubernur: kota ini, dan kota besar lain di seluruh Indonesia, sangatDodong Kodir, Pembuat Alat Musik dari Limbah dan Sampah
Oleh Tarlen Handayani | Newsroom Blog – Jum, 16 Nov 2012Oleh Tarlen Handayani dan Aksara
Selengkapnya »dari Dodong Kodir, Pembuat Alat Musik dari Limbah dan Sampah
Setiap hari, sampah yang Anda buang ke tempat sampah diangkut petugas ke dalam truk, lalu dibawa ke tempat pembuangan akhir. Tetapi jika sampah itu Anda berikan kepada Dodong Kodir, maka dia akan menyulapnya menjadi sesuatu yang menakjubkan.
Misalnya kecapi yang terbuat dari tabung bekas mesin cuci yang dipasangi senar. Atau bekas pulpen yang bisa menghasilkan suara gemuruh angin beserta petir juga air bah. Atau potongan kayu lapuk dan kulit buaya yang mampu menjelma jadi banjo.
Dodong Kodir, 60 tahun, mulai membuat alat musik dari sampah sejak tahun 1980-an. Ceritanya agak mistis. Alkisah, Dodong sedang mutung karena pemain gamelan lain datang terlambat ke kampus Akademi Seni Tari Indonesia (kini STSI). Saat itulah sebuah gong seolah-olah berbicara. “Bisa saja kamu bicara ke orang lain. Kamu sendiri sudah bikin apa?” kata gong itu.
Pertanyaan itu membangunkan Dodong dari tidur panjang. Dia bertekad menciptakan alat musik buatan sendiri. Karya pertamanyaSemua Kota Besar Makin Macet, Perlu Segera Angkutan Umum
Oleh Marco Kusumawijaya | Newsroom Blog – Rab, 14 Nov 2012Makin sering kita mendengar keluhan penduduk tentang kemacetan yang kerap dan meluas di kota-kota besar besar seperti Makassar, Bandung, Medan, Surabaya, Manado, Palembang, Yogyakarta, Semarang, Bogor, dan lain-lain.
Selengkapnya »dari Semua Kota Besar Makin Macet, Perlu Segera Angkutan Umum
Saya tidak punya angka statistik untuk menegaskan keluhan di atas. (Angka tersebut mungkin sekali sudah tersedia di Kementerian Perhubungan atau pusat-pusat penelitian tertentu.) Tetapi nalar sederhana serta pengalaman Jakarta memberikan pelajaran yang cukup.
Pertumbuhan ekonomi dan kelas menengah baru dengan sendirinya meningkatkan jumlah mobil dan motor pribadi di kota-kota itu. Ditambah lagi tiada sistem angkutan umum yang menarik, maka ketergantungan pada kendaraan pribadi pun makin besar.
Para birokrat dan teknokrat yang berpikir naif selalu mengatakan, pertambahan jumlah kendaraan pribadi jauh lebih cepat daripada pertambahan luas dan ruas jalan. Karena itu, Dinas Pekerjaan Umum harus membangun lebih banyak jalan. Dan lebih cepat.
Cara berpikir beginilah yang
Postingan Blog Pilihan
Setelah Bensin Bersubsidi Naik, Muncul Proyek Lanjutan
Newsroom Blog - Sen, 13 Mei 2013Proyek Beranak-pinak Pada KTP Elektronik
Newsroom Blog - Sen, 13 Mei 2013Artis dan Karir Politik
Newsroom Blog - Jum, 10 Mei 2013Fenomena Artis Berpolitik
Newsroom Blog - Jum, 10 Mei 2013Wajah Arsitektur Indonesia Dalam Penghargaan Aga Khan
Newsroom Blog - Jum, 10 Mei 2013Perubahan yang Tertunda di Malaysia
Newsroom Blog - Sen, 6 Mei 2013Antrian Harapan di Tempat Pemungutan Suara Pemilu Malaysia
Newsroom Blog - Min, 5 Mei 2013Kampanye 'Putri Reformasi' di Pasar Malam
Newsroom Blog - Jum, 3 Mei 2013Media yang Tak Seimbang Pada Pemilu Malaysia
Newsroom Blog - Jum, 3 Mei 2013Ujian Nasional Nan Menakutkan
Newsroom Blog - Jum, 3 Mei 2013

