Newsroom Blog
  • Hujan mulai kerap menyiram Jakarta.

    Seperti biasa, sebagian besar warga Jakarta mulai khawatir akan banjir. Bukan hanya mereka yang mendiami kawasan rawan banjir, tapi juga warga lain yang, misalnya, sehari-hari melewati kawasan rawan banjir. Pelayanan angkutan umum akan berkurang, listrik mungkin akan dipadamkan.

    Pada awal bulan November, Gubernur Joko Widodo mengatakan bahwa saluran dan kanal air akan diperbaiki dan dikeruk guna mencegah banjir. Tetapi, dia menambahkan, hal itu tidak akan cukup.

    Air harus juga diserap sebanyak mungkin ke dalam tanah. Di hulu, air harus dicegat, dengan ditampung dalam reservoir, atau diserap oleh lebih banyak lahan berhutan. Di dalam Jakarta penyerapan air dapat dioptimalkan dengan sumur resapan dan biopori secara masif.

    Pendekatan Jokowi itu tampaknya sesuai dengan penelitian sejarah yang mendalam.
     
    Restu Gunawan, dalam buku “Gagalnya Sistem Kanal; Pengendalian Banjir Jakarta dari Masa ke Masa (1883-1985)” menyimpulkan bahwa sistem kanal telah gagal.

    Selengkapnya »dari Sistem Kanal Saja Tidak Cukup
  • “Ini jantung ibu kota, di mana hatinya?” - Jakarta Hati
    Ketika lingkaran karut-marut kota Jakarta membawa warganya berputar-putar dalam absurditas kehidupan, film “Jakarta Hati” mencoba menarik segaris arti lewat kejadian-kejadian kecil, yang mungkin terjadi di Jakarta sebelah mana pun.

    Dalam bunga rampai enam film pendek berlatarkan kota Jakarta ini, Salman Aristo, sutradara yang juga pernah membuat film antologi “Jakarta Maghrib”, mengemas beragam konflik sehari-hari. Dari politik, cinta, keluarga, ekonomi, dan sosial. Uniknya, cerita-cerita tersebut dituntaskan tanpa betul-betul tuntas.

    Foto: TempoBeberapa kali akhir cerita dibiarkan menggantung, seperti pada cerita “Masih Ada”, yang mengisahkan seorang anggota DPR yang terketuk hatinya setelah melihat berbagai realitas sosial di jalan. Pada saat yang sama, ia hendak mengambil hasil bagi-bagi korupsi. Di akhir cerita, kita tidak tahu apakah pergelutannya berakhir sebagai sikap atau rasa sesaat.

    Cerita “Dalam Gelap”, yang bisa dibilang sebagai Selengkapnya »dari Jakarta Hati: Enam Cerita Satu Arti
  • Pada Rabu 7 November 2012 saya mengikuti diskusi tentang peninjauan kembali Rencana Detail Tata Ruang (Kecamatan) Jakarta yang diselenggarakan di Institut Français Indonesie (IFI) oleh Rujak Center for Urban Studies (RCUS). Pertemuan ini didorong oleh pernyataan Wakil Gubernur Jakarta Basuki Cahaya Purnama, bahwa ia ingin RDTR disempurnakan lagi dengan mengikutsertakan seluas-luasnya partisipasi masyarakat.

    Yang terasa dari pertemuan itu: betapa besar antusiasme masyarakat dan keinginan untuk turut serta membangun kota Jakarta, antara lain dengan keikutsertaan dalam perencanaan tata ruang ini. Hal yang sama terasa di berbagai media sosial, dan mungkin juga di media lainnya.

    Inilah jasa bulan pertama Gubernur dan Wakil Gubernur: mereka membuka apa-apa yang sebelumnya sama sekali tidak sungguh-sungguh melibatkan masyarakat. Selain RDTR, beberapa hal lain dibukanya juga untuk diskusi, antara lain MRT, enam ruas jalan tol dalam kota, penataan kampung dan tepi Ciliwung, ruang terbuka hijau,

    Selengkapnya »dari Partisipasi Perlu Pemecahan Sandi
  • MRT adalah mass rapid transit. RDTRK adalah Rencana Detail Tata Ruang Kecamatan.

    Kedua hal itu berhubungan melalui satu hal yang sangat penting: struktur pendapatan untuk mengoperasikan MRT Jakarta bila jadi dibangun.

    Di Hongkong dan Jepang, biaya membangun dan mengoperasikan MRT masing-masing didukung oleh bisnis properti yang dikembangkan di sekitar stasiun. Ini berkontribusi dalam menentukan tarif agar cukup rendah dan terjangkau. Operator MRT mendapat konsesi untuk mengembangkan dan mengelola bisnis properti di lahan sekitar stasiun.

    Hal ini teramat penting karena stasiun MRT pasti merupakan tempat banyak sekali orang berkumpul atau berlalu-lalang. Dalam konsep Transit-Oriented Development (TOD) kawasan sekitar stasiun seharusnya juga menjadi suatu kawasan "permukiman" dan/atau campuran, sehingga efisien, karena mobilitas para penghuni dan pekerja di kawasan itu terdukung dengan baik, dan sebaliknya MRT menjadi memiliki penumpang yang jumlahnya memadai.

    Jakarta mungkin memerlukan suatu

    Selengkapnya »dari Menentukan Tarif MRT
  • Pagi cerah selalu gerah bagi tubuh Dani, sekalipun ia sudah mandi. Sebagai pegawai perusahaan yang berkantor di Jakarta Pusat dan penghuni rumah kontrakan di Margonda Depok, ia pergi-pulang bekerja dengan kereta komuter jalur Jakarta-Bogor. Tak perlu diragukan lagi pada jam pergi-pulang kerja, padatnya dahsyat bukan main. Dani sudah terbiasa.
     
    Namun, beberapa bulan belakangan, Dani mulai mengeluh. Selain karena harga tiket kereta yang naik Rp 2 ribu, ia harus menyisihkan pengeluaran tambahan karena sejak Lebaran, kereta komuter Jakarta-Bogor belum juga berhenti di Gambir. Entah kapan kembali normal.

    Awalnya, manajemen kereta komuter mengatakan kereta tak berhenti di Gambir selama 14-23 Agustus 2012. Lalu diperpanjang sampai 31 Agustus 2012. Lalu diperpanjang lagi sampai akhir September 2012. Sekarang sudah November 2012, dan kereta masih belum berhenti di Gambir. Ia harus turun di Gondangdia, lalu melanjutkan perjalanan dengan ojek.

    Dani pun berpikir untuk membeli sepeda motor. Dalam

    Selengkapnya »dari Transportasi Publik Bukan Pilihan
  • Ada masa di mana menyimpan data bergiga-giga adalah suatu keniscayaan. Bayangkan, pada masa data komputer Anda hanya bisa disimpan dalam disket dengan ukuran maksimal 200MB. Bisa Anda hitung, berapa banyak disket yang Anda butuhkan untuk menyimpan 1GB file dalam komputer anda. Sementara saat ini, Anda bisa menyimpan data 1 TB dalam flash disk mungil saja.

    Penggunaan disket ini populer di era 1980an sampai 1990an saat Personal Computer (PC) membutuhkan penggunaan software tambahan, pengalihan data dan menyimpannya sebagai cadangan. Berkembangnya sitem operasi seperti Window dan software seperti Adobe Photoshop, membuat disket menjadi benda yang sangat dibutuhkan bagi para pengguna komputer.

    Ada tiga macam ukuran disket yang dapat Anda olah: ukuran 8 inch, 5 1/4 inch dan 3 1/2 inch. Biasanya ukuran 3 1/2 inch ini yang masih banyak di temui. Pada tahun 1996 seperti pernah dikutip Bussiness Week, diperkirakan ada sekitar 5 juta disket yang digunakan.

    Dan di akhir tahun 1990an, penggunaan

    Selengkapnya »dari Disket Bekas Dibuang Sayang
  • Taman di dalam sebuah kota seyogyanya bermacam-macam tingkatannya. 

    Dan kenyataannya memang demikian. Di Jakarta, misalnya, ada Lapangan Monumen Nasional yang bersifat publik. Taman ini terbuka bagi siapa saja yang datang dari mana saja. Tidak ada yang akan terganggu kalau ia hiruk-pikuk, kecuali barangkali Presiden dan keluarga kalau mereka sedang menginap di Istana. Tapi selain mereka, tidak ada "penghuni" di sekitar Lapangan Monas.

    Lalu ada taman yang untuk bagian kota yang terbatas, misalnya Taman Menteng.  Letak taman ini menunjukkan hierarki tersebut. Taman diapit oleh dua jalan besar tapi lokal, dan di belakangnya ada sedikit hunian.

    Namun selain itu ada yang sangat penting juga, ialah taman-taman yang dimaksudkan hanya bagi para penghuni di sekitar mereka. Di Menteng dan Kebayoran Baru, taman-taman lingkungan hunian ini banyak tersembunyi, tidak mudah diketahui oleh orang luar. Jalan masuk ke taman-taman di Menteng, misalnya, ada yang dibuat serong terhadap jalan utama,

    Selengkapnya »dari Taman Lingkungan Biarlah Tetap "Tersembunyi"
  • Oleh: Tarlen Handayani dan A. Adhisantika

    Rabu sore dua pekan lalu, Bandung dirundung mendung. Awan menggelayut kelam di atas langit Kota Kembang, menghadirkan secuil kekhawatiran bahwa hujan sebentar lagi datang.
     
    Di sebuah ruangan di Panti Sosial Bina Netra (PSBN) Wyata Guna — panti tunanetra yang didirikan tokoh Belanda, DR. Ch. A. Westhoff pada 6 Agustus 1901 — Rudini, seorang penyandang tunanetra penghuni panti, berdiri. Sesekali ia menggaruk kepalanya tanda tak sabar seperti menunggu sesuatu.
     
    Tak lama berselang, datang seseorang. Sesosok perempuan kurus berjilbab berjalan mendekat. Sebentar disapa, Rudini pun tersenyum, hatinya senang bukan kepalang, seseorang yang ditunggunya sudah datang.
     
    “Apa kabar? Jadi kita membaca puisi?” kata Rudini sambil cengengesan. Perempuan itu lantas menjawab, “Ya, buku puisi?”
     
    Sejurus percakapan itu, keduanya lalu duduk bersila di atas lantai. Dari dalam tas, sang perempuan kemudian merogoh sebuah buku. Ya, buku yang dijanjikan, kumpulan puisi Sony

    Selengkapnya »dari Pahlawan: Para Pembawa Terang
  • Melihat begitu banyaknya media yang memberitakan segala ini-itu tentang Gubernur DKI Joko Widodo, saya mulai ragu-ragu apakah Jokowi itu nama Gubernur Jakarta atau artis papan atas ibu kota.

    Misalnya artikel yang berjudul “Jokowi: Saya Mau Tidur, Mau Ikut?” di salah satu situs berita ternama ini. Di berita ini ucapan Jokowi dikutip:

    “Habis ini mau tidur. Saya kan suka tidur. Mau ikut?’ kata Jokowi sambil tertawa. Meski begitu, tetap saja beberapa wartawan menungguinya. Barangkali Jokowi akan melakukan sidak seperti biasanya, siapa tahu...”

    Ketimbang menjadi berita yang bernilai untuk konsumsi masyarakat luas, artikel tersebut lebih terdengar seperti curahan hati para wartawan. Judul artikelnya pun, entah sengaja atau tidak, terkesan genit.

    Ada contoh lain. Alkisah, dalam artikel “Sesi Foto Gubernur, Jokowi Merasa Ganteng”,  Jokowi baru saja mengikuti sesi foto dalam balutan seragam dinas. Seorang wartawan lalu memuji, dengan mengatakan Jokowi terlihat ganteng. Mendengar itu, Jokowi pun

    Selengkapnya »dari Jokowi Mau Tidur, Kesandung Tali Sepatu, dan Merasa Ganteng
  • Rencana pembangunan ruas jalan tol dalam kota. Sumber: Presentasi Jakarta Tollroad, dokumentasi RCUS.Rencana pembangunan ruas jalan tol dalam kota. Sumber: Presentasi Jakarta Tollroad, dokumentasi RCUS.

    Ada kabar simpang siur belakangan ini. Beberapa laporan media menyebutkan, Wakil Menteri Pekerjaan Umum Hermanto Dardak mengatakan Gubernur Joko Widodo telah menyetujui rencana pembangunan enam ruas jalan tol dalam kota.

    Tetapi pada kesempatan lain, Jokowi menegaskan bahwa dirinya tidak pernah mengatakan setuju terhadap rencana enam ruas tol dalam kota — melainkan masih mengkaji. Dia juga mengatakan paling tidak setuju dengan jalan tol, dan ingin tetap memprioritaskan angkutan umum, sesuai janjinya pada masa kampanye.

    Saya sangat menganjurkan warga Jakarta mendukung Jokowi untuk tegas berpihak kepada rakyat dan kepentingan jangka panjang Jakarta yang ekologis dan kompetitif sejati, sekaligus memenuhi janji kampanyenya.

    Selama 10 tahun terakhir, di kota-kota besar di dunia ada sederet panjang jalan tol yang justru dicopot karena dianggap bukan solusi kemacetan — dan justru menambah macet, polusi, serta ketergantungan terhadap mobil pribadi (dan bahan bakar fosil). Dalam jangka panjang,

    Selengkapnya »dari Dukung Jokowi Melawan 6 Ruas Jalan Tol Dalam Kota

Penomoran Halaman

(343 Artikel)