Perang Lawan Geng Motor

Newsroom Blog
  • Sengitnya persaingan politik antara dua kandidat presiden Amerika Serikat tak urung menghasilkan banyak momen-momen absurd yang bisa membuat penontonnya, baik warga Amerika Serikat maupun audiens internasional, geleng-geleng kepala.

    Presiden AS Barack Obama ingin melanjutkan ke masa jabatan yang kedua, sementara pesaingnya dari Partai Republik Mitt Romney, menilai Obama telah gagal dalam membereskan masalah ekonomi dan menjanjikan perbaikan ekonomi yang lebih signifikan jika dia terpilih. Obama, meski populer, tak terjamin akan terpilih. Semua bisa berubah di saat-saat terakhir.

    Saking berlebihannya peliputan media terhadap proses yang berlangsung setiap empat tahun sekali ini, seorang gadis kecil bernama Abigael Evans, 4, asal Colorado menangis karena bosan mendengar atau menonton berita tentang "Bronco Bama dan Mitt Romney".  

    Election-weary toddler sobs her way to internet fame



    Lalu, apa lima momen paling absurd dalam kampanye pemilihan presiden AS?

    1. 47%
    Wartawan David Selengkapnya »dari Lima Momen Paling Absurd Dalam Kampanye Pemilihan Presiden AS
  • Oleh Tarlen Handayani dan Adim

    Orang cenderung membuang barang yang rusak atau tidak berguna lagi. Tapi buat Evan Driyananda dan Attina Nuraini, barang-barang tersebut bisa jadi media komunikasi yang menembus banyak dimensi.

    Dua seniman yang sudah saling mengenal sejak SMA ini memilih jalur berkesenian yang terbilang jarang di Indonesia. Mereka memilih untuk mengubah dan menata ulang berbagai sampah non-organik yang mereka dapatkan. “Istilahnya itu found object atau benda temuan,” kata Evan yang juga merupakan vokalis utama di Morries Chambers Band.

    Dua seniman di balik Recycle Experience adalah Attina Nuraini (kiri) dan Evan Driyananda. [ADIM]

    Keduanya memulai proyek yang mereka sebut Recycle Experience, disingkat REEXP, sejak masih berkuliah di Pendidikan Seni Rupa Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung.

    Salah satu karya mereka adalah Teen Toys yang masih dipamerkan dalam ajang Outdoor Sculpture Exhibition “Alam Patung” di Bale Pare, Kota Baru Parahyangan, Kabupaten Bandung Barat, hingga 21 November mendatang.

    Suasana studio Recycle Experience yang dipenuhi karya robot dari benda-benda yang sudah tidak terpakai. [ADIM]

    “Ini adalah karya pertama kami untuk di luar ruangan. Ukurannya

    Selengkapnya »dari Robot Ramah Lingkungan
  • Sekalipun tidak ada maksud serius dan kesungguhan di balik kata “ciyus”, “cungguh” dan “miapah” yang sedang populer saat ini, tidak ada salahnya kita mencoba membahas mereka dengan serius.

    Tapi sebelumnya, saya akan memberi ringkasan terlebih dahulu terutama bagi mereka yang tidak mengetahui tren bahasa gaul terkini. Belakangan ini, terutama di media sosial, sedang marak penggunaan/pengucapan kata yang berupaya terdengar imut dan lucu — seperti diucapkan balita yang masih cadel.

    Sebagai contoh, “sungguh” diucapkan/dituliskan jadi “cungguh”. “Serius” jadi “ciyus”. Dan “demi apa” menjadi “miapah”.

    Agak sulit untuk merumuskan aturan dari gejala bahasa ini (yang kerap dikategorikan ke dalam bahasa alay edisi terbaru). Tidak ada prinsip mutlak, meski ada pola yang terlacak. Layaknya balita cadel, huruf S akan dilafalkan menjadi C (“sungguh jadi “cungguh”). Lalu R akan diganti jadi L atau Y (“rahasia” menjadi “lahacia”).

    Lalu ada huruf-huruf yang direduksi. Terima kasih? Maacih. Masak sih?

    Selengkapnya »dari Tentang Miapah dan Hal-hal Ciyus Lainnya
  • Kemeja lusuh berwarna biru itu membalut tubuhnya yang penuh keriput. Matanya sayu, terhalangi oleh sebuah kacamata tua yang tebal. Di antara jemarinya terselip sebatang rokok kretek yang belum terbakar. Ia berjalan dengan langkah lemah, namun sesekali berlari mengejar kendaraan di sekitar.

    Pak Majuta, umur 70 tahun, bekerja sebagai seorang juru parkir di kawasan Pasar Baru, Jakarta Pusat. Lelaki yang berasal dari Bogor ini mengadu nasib di ibu kota sejak tahun ’60-an untuk menghidupi keluarganya.

    Mungkin benar kata orang bahwa sekejam-kejamnya ibu tiri, masih lebih kejam ibu kota. Sebagai juru pakir, Pak Majuta mendapatkan penghasilan Rp35 ribu hingga Rp50 ribu setiap hari. Namun tidak semua uang itu bisa dibawa pulang, karena Pak Majuta masih harus memberikan jatah kepada polisi yang berpatroli di kawasan tersebut.

    Biasanya jatah yang harus disetor per hari adalah 3-4 bungkus rokok atau beberapa cangkir kopi. "Jadinya kadang saya dapat Rp15 ribu atau Rp20 ribu. Lumayanlah bisa saya

    Selengkapnya »dari Sudahkah Kita Bersyukur?
  • Oleh Tarlen Handayani dan Adim

    Kalau ada sekumpulan orang yang kerjanya hanya bermain dan bersenang-senang, mungkin cuma komunitas inilah yang benar-benar melakukannya. Empat kali dalam sepekan, sekitar 50 orang para pegiatnya yang rata-rata masih berusia sekolah, berkumpul untuk bermain di sebuah tempat bernama Pakarangan Ulin di Kecamatan Cimenyan, Kabupaten Bandung.

    Ya, ini adalah Komunitas HONG, sebuah komunitas bermain yang mencoba melestarikan permainan tradisional Indonesia, khususnya kaulinan (permainan) yang dikenal di Tatar Sunda. “Sekarang jumlah yang sudah kami kumpulkan sudah ada 890 jenis,” kata pendiri Komunitas Hong, M. Zaini Alif.

    HONG berdiri pada 2003 lalu karena kesenangan Jae, panggilan akrab Zaini, akan permainan tradisional. Lelaki kelahiran Subang 37 tahun lalu ini kerap rindu akan masa kecilnya. Ia rindu masa ketika ia dan kawan-kawannya yang tinggal jauh dari kota terpaksa membuat mainan sendiri dari bahan-bahan sederhana yang ada si sekitar. Sebab tak ada toko

    Selengkapnya »dari Komunitas Bermain dari Cimenyan
  • Oleh Tarlen Handayani dan Adim

    Berikut sedikit permainan yang diperkenalkan di Komunitas HONG.

    Congklak

    Permainan yang satu ini memiliki banyak nama. Lain daerah, lain pula sebutannya. Sebagian besar masyarakat Indonesia mengenalnya dengan nama congklak.
               
    Peneliti mainan sekaligus pendiri Komunitas Hong, M. Zaini Alif mengungkapkan permainan itu dikenal dengan congkak di Sumatera. Sedangkan di Lampung disebut dentuman lamban. Beda lagi di daerah Jawa dikenal dengan nama congklak, dakon, dhakon, atau dhakonan.

    Buat mereka yang tinggal di Sulawesi, permainan ini disebut mokaotan, aggacalang, atau mogarata. “Kalau di kawasan Eropa Timur disebut mancala. Sebutan di India itu pallankuzhi,” terang Zaini.

    Menurut dia, permainan yang menggunakan 16 lubang ini biasanya dilakukan oleh perempuan. Masing-masing pemain duduk berhadapan untuk mengisi 8 lubang yang mereka miliki. Setiap lubang kecuali yang ada di sebelah kiri masing-masing pemain diisi dengan tujuh buah biji atau kerang.

    Selengkapnya »dari Mengenal ‘Kaulinan’ Tradisional
  • Oleh Tarlen Handayani dan Adim

    Sampai saat ini, mungkin baru M. Zaini Alif yang melakukan penelitian soal permainan tradisional secara mendalam. Penelitian tersebut dilakukannya untuk menyelesaikan pendidikan mulai tingkat sarjana di Institut Teknologi Nasional dan pascasarjana di Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Teknologi Bandung (ITB).

    “Sekarang lagi buat penelitian spiritualitas dalam permainan tradisional untuk pendidikan doktoral saya di ITB,” kata Jae, sapaan akrabnya.

    Pria kelahiran Subang, 9 Mei 1975 ini memang sudah tertarik dengan mainan sejak masih kecil. Tidak jarang dia dan kawan-kawannya membuat sendiri mainannya. Mulai dari rorodaan yang menyerupai mobil hingga kerkeran — sejenis kipas angin dari batok kelapa dengan baling-baling bambunya.



    Suami Mia Rosmiati ini sempat kaget saat mengajukan usulan penelitian soal mainan tradisional. Pembimbingnya meminta dia mengubah objek penelitiannya karena dianggap tidak memiliki referensi atau naskah acuan.

    Anak ketiga dari

    Selengkapnya »dari Jae Si Peneliti Mainan
  • Dalam rangka menyiapkan dana untuk pendidikan, instrumen keuangan mana yang lebih cocok: reksa dana atau asuransi? Boleh jadi ada yang menjawab reksa dana — yang mampu memberi tingkat pengembalian (return) yang lebih tinggi.

    Tetapi apakah cukup sampai situ pertimbangannya? Mungkinkah reksa dana dan asuransi dibandingkan?

    Membandingkan reksa dan asuransi dari segi return tentu tidak memadai. Sebab ada informasi lain yang disembunyikan, yakni faktor risiko yang menyertai.

    Perlu diingat, reksa dana dan asuransi adalah dua jenis instrumen keuangan yang berbeda. Asuransi merupakan salah satu bentuk pengendalian risiko yang dilakukan dengan cara mengalihkan atau  transfer risiko dari nasabah kepada perusahaan asuransi.

    Sementara pada reksa dana, sebagai instrumen investasi, risiko ditanggung oleh pemilik dana walaupun mengamanatkan uangnya kepada manajer investasi. Karena itulah, membandingkan dua instrumen ini menjadi kurang bijak — seperti banyak nasihat investasi yang kita dengar.

    Hal penting

    Selengkapnya »dari Pilih Mana: Reksa Dana Atau Asuransi


  • Pada kota Jakarta yang tak pernah tuntas dituliskan, buku-buku berikut berutang cerita. Para penulisnya merekam Jakarta dengan cara dan sudut pandangnya masing-masing. Ada yang mencoba mengalami, ada yang mencoba memahami. Ada yang mencoba serius, ada juga yang mencoba jenaka. Rugi bagi kita, khususnya warga Jakarta, apabila tidak menagih isinya.

    1. 100 ‘Tokoh’ yang Mewarnai Jakarta (2008) – Benny & Mice
    Untuk penikmat guyon, buku “100 Tokoh yang Mewarnai Jakarta” tak boleh dilewatkan. Muhammad Misrad (Mice) dan Benny Rachmadi tahu betul bagaimana menghibur dengan kritis dan cerdas.

    Lewat buku ini, keduanya menghadirkan potret tokoh-tokoh penting di Jakarta lewat kartun. Namun, tokoh-tokoh tersebut bukanlah para artis beken ataupun politikus penting, melainkan orang-orang yang kita temui sehari-hari di Jakarta — dari mas-mas Mangga Dua, hingga penukar uang receh di Kota Tua.

    Tanpa mereka, Jakarta akan kehilangan identitas. Dengan gambar dan teks yang teramat jenaka, buku ini dijamin

    Selengkapnya »dari Jakarta Dalam Buku
  • Instalasi berbahan bambu itu tampak begitu kontras dengan sungai kecil di bawahnya. Cat kuning mentereng menyelimuti seluruh instalasi, menyisihkan warna keruh sungai. Benda-benda yang berada padanya — ayunan kecil, kotak-kotak sampah, pot-pot tanaman, kursi, dan balon warna-warni — seolah menertawakan sampah-sampah yang menumpuk di sepanjang sungai.

    Lalu di sekitarnya, puluhan anak ramai berkerumun.

    “Nama kamu siapa,” tanya Talisa, seorang mahasiswa, kepada seorang anak yang menghampirinya. Muka letihnya seketika hilang berganti senyum riang.

    “Aryo Bimo.”

    “Aryo kalau buang sampah di mana?”

    “Di tempat sampah!”

    Mudah saja bagi Aryo untuk menjawab pertanyaan tersebut. Tetapi ia tidak sekadar menjawab, sebagaimana pelajaran di kelas. Ia memegang sekantong sampah di tangannya. Sampah itu adalah tiket menuju instalasi.



    Sesampainya di depan instalasi, Aryo mempunyai pilihan: membuang sampah ke kotak sampah yang tersedia atau membuang sampah ke sungai. Tanpa pikir panjang, ia memilih yang pertama

    Selengkapnya »dari Merawat Sungai dengan Ayunan

Penomoran Halaman

(343 Artikel)