Newsroom Blog

Di Balik 'Teror' Peti Mati Senin Pagi

Sudahkah Anda menerima peti mati hari ini? Senin (6/6) pagi, sejumlah kantor media kedatangan paket mengejutkan. Bentuknya peti mati dengan tulisan "R.I.P" alias rest in peace.

Peti-peti yang antara lain diterima Tempo, Detik, Kompas, Jakarta Post, ANTV, itu dialamatkan ke nama tertentu yang bekerja di media tersebut. Di Tempo, yang jadi tujuan adalah Wicaksono, wakil pemimpin redaksi tempointeraktif.com. Di ANTV, yang jadi tujuan adalah Uni Lubis.

Tak hanya media, sejumlah tempat yang dekat dengan komunitas dan pemasaran juga menjadi tujuan. Misalnya Enda Nasution di markas salingsilang.com di kawasan Jalan Langsat, Jakarta Selatan. Melalui akun Twitternya, Enda berkomentar bahwa peti mati itu tak bisa dianggap sukses bila disebut teror, sebab tak ada tuntutannya.

Di Twitter, soal peti mati itu memang menjadi topik hangat. Ada yang mengaitkan dengan teror, ada juga yang menduga itu sejenis kampanye pemasaran. Yang mana yang benar?

Melalui alamat web yang ditinggalkan pengirim di peti matinya, yaitu restinpeacesoon.com, bisa ditelusuri nama pengelola website yang masih dalam konstruksi itu. Sang admin bernama Dukha Ngabdul Wasih. Melalui telepon, dia mengaku mendapat pesanan untuk mengerjakan situs itu yang direncanakan tayang pada Senin ini juga.

Dari Dukha, Yahoo! Indonesia mendapat nama "Mavens Co" sebagai pemesan, atas nama Sumardy. Dihubungi belakangan, Sumardy mengaku sebagai CEO dari Buzz&Co, perusahaan yang ia dirikan akhir tahun 2010.

Sumardy mengakui dirinyalah yang berada di balik pengiriman peti-peti mati itu. "Semuanya ada seratus peti, 90 persen dikirim ke orang (yang bergiat di bidang) marketing dan agensi periklanan," kata pria yang mengaku berusia 30 tahun itu.

Sumardy juga mengaku mengirim ke sedikit media massa--yang lalu memberitakan datangnya peti-peti mati itu. Apa motif Sumardy? Rupanya, ini terkait peluncuran buku berjudul "Rest in Peace Advertising" yang ia tulis. "Ini buku pertama saya," kata dia.

Ide dasarnya, kata Sumardy, adalah pemikiran bahwa iklan sudah mati karena tak efektif. Ia mencontohkan, untuk mempromosikan buku yang berisi pemikiran itu, ia hanya membelanjakan sekian puluh juta. "Ini hanya cukup untuk berapa spot iklan?" ujar dia.

Sumardy juga meminta maaf bila ada yang merasa terteror akibat aksinya. Ia mengaku tak berniat jahat. Di peti-peti mati, dia meletakkan alamat yang jelas. "Ada website yang bisa diakses. Kami tak menutupi apapun," kata dia, menegaskan bahwa kampanyenya itu adalah bagian dari perwujudan ide kreatif dan edukasi terhadap praktisi pemasaran dan publik secara umum.

Sumardy juga mempersilakan orang datang ke kantornya yang ada di Gedung Mayapada, Jalan Sudirman, Jakarta, dan di Senayan Trade Center lantai tiga, kompleks Senayan. "Silakan datang, ada bukunya di sini," kata dia.

Hingga Senin sekitar jam makan siang, situs restinpeacesoon.com itu masih menunjukkan pesan "dalam pengembangan".

PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.

POLL

Yakinkah Anda, wanita-wanita yang terlibat dengan Ahmad Fathanah akan dikenakan sanksi hukum?

Memuat...
Opsi Pilihan Jajak Pendapat