Jelajahi Yahoo! Bersama Teman-Teman Anda

Jelajahi berita, video, dan banyak lagi berdasarkan apa yang dibaca dan ditonton teman-teman Anda. Publikasikan aktivitas Anda sendiri dan dapatkan kendali penuh.

Pertama-tama,

AKTIVITAS TEMAN DI YAHOO!

    Newsroom Blog

    Melihat Biaya Tersembunyi Dalam Membeli Pesawat

    Dalam rencana Presiden Susilo Bambang Yudhoyono membeli pesawat kepresidenan, Sekretariat Negara sudah mengajukan jawaban.

    Alasan yang mereka ajukan adalah dengan membeli pesawat kepresidenan, meski seharga Rp 814 miliar, negara akan menghemat lebih banyak jika dibandingkan dengan menyewa pesawat seperti yang sudah dilakukan selama ini. Tepatnya lebih murah $ 32,136 juta (Rp 289,63 miliar) daripada biaya sewa pesawat kepresidenan selama lima tahun.

    Kami menanyakan pada pembaca Yahoo! Indonesia apakah argumen bahwa membeli lebih menghemat daripada menyewa bisa menjadi pemakluman yang dapat diterima. Banyak yang menyatakan pembelian pesawat kepresidenan tetap tidak bisa masuk di akal. Alasannya, jika membeli dianggap lebih hemat, apakah Sekretariat Negara sudah menghitung biaya perawatan yang akan muncul berbarengan dengan semakin tua usia pesawat?

    Salah satu pembaca, Wong Ndeso di Jakarta menulis, "Bukannya kalau membeli selalu dihitung modal beserta bunganya, ditambah dengan biaya operasionalnya, ditambah dengan biaya perawatan termasuk perawatan berbasis kalender yang harus dilakukan walaupun pesawat tidak dipakai? Sedangkan benefitnya adalah pemakaian pesawat yang paling hanya beberapa kali saja dalam sebulan ditambah pendapatan senilai harga jual pesawat jika kelak tidak dipakai lagi."

    Selain itu, ia juga menambahkan, "Jika menyewa dari Garuda yang merupakan BUMN bukankah berarti memberi tambahan pemasukan kepada Garuda yang merupakan BUMN yang berarti kembali kepada negara?"

    Komentar dari Wong Ndeso ini terpilih menjadi komentar favorit karena mendapat 25 suara dari pembaca dan 23 balasan.

    Pembaca lain, REDzone dari Jakarta juga mengkritisi hitung-hitungan untung rugi yang diajukan oleh Sekretariat Negara. "Dengan menyewa, negara tidak direpotkan dengan maintenance pesawat, gaji pilot, gaji pelayan. Presiden cuma tinggal duduk dengan nyaman di kursi di mana uang sewa akan kembali ke negara (jika yang disewa adalah pesawat maskapai dalam negeri). Dengan membeli, negara akan direpotkan dengan persoalan maintenance, gaji pilot dan crew pesawat, sewa hanggar parkir pesawat."

    Javku menyoroti kerugian yang muncul dari membeli pesawat daripada menyewa, terutama bagi BUMN yang selama ini menyewakan pesawat. "Menyewa pesawatnya ke BUMN, artinya duitnya keluar dari kantong kiri ke kantong kanan. Jadi kalau menyewa sebenarnya nggak ada kerugian, karena ujungnya itu duit balik lagi buat keuntungan BUMN yg disewa pesawatnya. Justru dengan beli kita kehilangan devisa dengan bayar ke perusahaan luar."

    Selain biaya perawatan pesawat, Javku juga melihat akan muncul biaya pesawat saat idle, "karena pesawat kepresidenan ini pastinya bakal banyak menganggur di hanggar, jadi secara cost tidak efisien karena tidak digunakan secara komersial." Ia lebih melihat pesawat kepresidenan sebagai urusan gengsi semata.

    Pembaca Juspa di Jakarta melihat pesawat ini akan lebih sering membuat Presiden jalan-jalan ke luar negeri dan ini, menurut dia, tidak akan bermanfaat banyak bagi masyarakat Indonesia. "Selama ini diplomasi selalu gagal kok," katanya soal perjalanan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ke luar negeri.

    Tumpulnya diplomasi Indonesia dalam pertemuan-pertemuan antarnegara juga menjadi perhatian Jinjer di Jakarta. "Diplomasi juga hasilnya tidak menguntungkan RI, malah merugikan. Buat apa? Sama saja mempermudah pihak asing mengeruk kekayaan negara."

    Roel di Jakarta menyodorkan sudut pandang lain. "Seharusnya tolak ukurnya bukanlah Indonesia harus punya pesawat kepresidenan tapi sebenarnya seberapa sering Presiden akan mengadakan kunjungan ke luar negeri? Kalau keluar negerinya Presiden beserta menteri-menteri dan kolega-koleganya hanya untuk show of force bahwa kami dari Indonesia sudah pakai pesawat sendiri, ini tidak ada manfaatnya buat rakyat Indonesia karena merupakan pemborosan."

    Prioritas, menurut Roel, lebih harus diletakkan pemerintah pada upaya membangun pabrik untuk mengolah bahan mentah menjadi bahan jadi beserta produk turunannya dan bisa dipasarkan ke luar negeri. "Nah kalau seperti ini barulah namanya Presiden beserta menteri-menterinya bekerja untuk rakyat. Menghutang barang mati artinya sama dengan menghutang barang yang tdk menghasilkan uang."

    Meski begitu, tampaknya gengsi menjadi pertimbangan bagi mereka yang pro dengan rencana pembelian pesawat kepresidenan. Raffi Jimly di Bandung, misalnya. "Presiden sebagai simbol Negara, Indonesia yang kaya raya, fasilitas presidennya juga harus baik. Ini menyangkut harga diri bangsa lho. Nggak malu apa tiap kepala negara kita kunjungan kerja ke luar negeri sewa pesawat melulu yang pastinya standar keamanan dan fasilitasnya jauh berbeda dengan pesawat khusus kepresidenan? Setidaknya bisa sedikit memberikan kepercayaan buat negara asing bahwa negara kita kuat dari segi ekonomi."

    Mieke Ls di Jakarta juga menyatakan, "Siapa yang akan jadi presiden berikutnya akan menjadi gampang untuk bernegosiasi dengan negara manapun karena negara kita tidak bisa disepelekan."

    Ada beberapa pembaca yang juga menggunakan kata 'kebanggaan' dalam komentarnya mendukung pembelian pesawat. ArdhieCOM di Palembang mengatakan, "Kalau saya, bangga punya negara yang bisa beli pesawat, yang penting prosesnya transparan dan kalau pun ada ketimpangan kita serahkan saja ke pihak berwenang."

    Atau kata Kong di Jakarta, "Perlu kita ketahui Indonesia adalah negara besar dan di kemudian hari akan semakin besar pula pengaruhnya di dunia ini. Oleh karena itu dituntut seorang kepala negara yang memiliki mobilitas sangat tinggi dan efisiensi waktu pula, kalau hanya mengandalkan pesawat sewaan dapat dipastikan akan banyak membuang-buang waktu dalam perjalanan dinas tanpa bisa berbuat apa-apa."

    Sementara Sammy di Jakarta bertanya, "Apakah harus selalu traveling? Apakah harus punya pesawat agar dihargai? Apakah sudah mengefektifkan gaya manajemen? Apakah dengan adanya pesawat tidak akan lebih sering traveling, terutama keluarga presiden?"

    Pertanyaan yang paling penting di situ adalah, kenapa pesawat harus menjadi alasan untuk punya kebanggaan? Bukankah seharusnya kita bangga pada hal-hal yang mendasar dari sebuah negara, seperti kesejahteraan ekonomi yang merata, adilnya penegakan hukum, serta rendahnya angka korupsi? Kenapa kebanggaan itu harus kita beli dan bukannya kita ciptakan?

    Beberapa pembaca lain menyarankan agar perdebatan tidak terjebak dengan opsi membeli atau menyewa, tapi malah membuat sendiri.

    Seperti kata Dewi di Jakarta, "PT DI itu buat apa dong? Cuma praktik bikin pesawat mainan?" Ada juga Tunggal di Jakarta yang menulis komentar, "Adalah akan lebih "bernilai nasional" kalau PT DI mendapat tugas membuat pesawat kepresidenan yang canggih, handal, efisien. Selanjutnya juga mungkin ada RI-001 dan RI-002 yang memberikan kehandalan berpergian tinggi, kalau yang satu ngadat masih ada yang satu lagi, sehingga tidak mengganggu kelancaran tugas presiden."

    PEDOMAN KOMENTAR

    Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


    Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar nuansa kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


    Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.

     

    1.422 komentar

    • putu  •  2 bulan yang lalu
      ha.... ha.... gue jd inget waktu awal kuliah dulu, gue orang kampung br pertama kali menginjakan kaki di tanah pulau jawa, gak ngerti kenapa hampir semua senior n dosen gue komentar mengenai pesawat buatan IPTN. ngomentarinya begini: ada tentara lg berperang dan bertugas menembak pesawat yg lewat. 1. ada pesawat buatan amerika lewat, tentara itu dgn usaha yg susah payah berusaha menembak pesawat tersebut dan akhirnya berhasil menembaknya. 2. ada pesawat buatan inggris lewat, tentara berusaha menembak pesawat tersebut dan akhirnya berhasil menembaknya. 3. ada pesawat buatan IPTN lewat, tentara itu ngomong gak usah ditembak ntar lg jg jatuh sendiri. Nah yg berkomentar itu bukan orang yg paham teknologi pesawat. Komentar yg lebih menyakitkan lg saat pesawat IPTN N250 dituker dgn beras ketan dr Thailand. Akibat komentar orang kebelinger inilah yg membuat Presiden RI ke 4 menghentikan bisnis strategis kedirgantaraan. kalo aja pesawat N2130 diproduksi oleh IPTN/PT DI jauh lebih hebat n canggih dr pesawat yg dibeli baru-baru ini oleh pemerintah kita. Mungkin ini budaya bangsa kita, gak ngerti apa2 tapi suka komentar kayak orang yg paling ahli. Itulah hukum sebab akibat, butuh pesawat ya beli dr negara yg buat pesawat, krn kita sudah gak produksi pesawat krn menghentikan bisnis strategis keirgantaraan. Intinya di negara kita lebih menghargai orang bodoh dr pd orang pintar. krn orang bodoh suka ngomong. Tong Kosong Nyaring Bunyinya.... wkkkkk wkkkkkk
      • Moh 2 bulan yang lalu
        yg pada komen suruh beli pswt dlm negri, cobain dulu naik pesawat IPTN nyebrang samudra. apa pada2 berani?????? memang kl org gak ngerti ya gitulah. skrg aja cuman dipake ke bandung, itu juga kalo masih ada?
      • Agoes B 2 bulan yang lalu
        lawakan lama om,..,
      • Johan 2 bulan yang lalu
        Tergantung spesifikasi nya kali...memang pesawat kecilnya di buat untuk ngisi BBM di udara....gak segitunya kali..............PT DI harus bangkit ...pesenanan banyak tuh....Kalo perlu pesawatnta di ruwat dulu biar bisa ngilang...dan bisa teleportasi....
    • matias  •  2 bulan yang lalu
      kalau mau lebih hemat lagi jangan "BElI" melainkan "BIKIN SENDIRI"....
      -Piss :pv-
      • Kuncoro 2 bulan yang lalu
        bikin sendiri teknologi dari mana... ?(@.@
      • Sudomo Sunarto 2 bulan yang lalu
        iptn sebenarnya sdh sanggup bikin pesawat tetapi byk kepentingan politik dgn luar negeri yg mengharuskan iptn itu dikebiri. ingat mantan presiden kita pak habibie merupakan pemegang lebih dari 40 paten dlm bidang pembuatan pesawat. di indonesia yg menjadi faktor penghambat bkn masalah teknologi tetapi masalah politik dgn negara barat yg menjadi penghalang untuk bisa maju. lagian kalo bikin sendiri gak ada komisi nya bos
      • Gde 2 bulan yang lalu
        mimpi
    • Marshal indra gunawan  •  2 bulan yang lalu
      Percuma dong rakyat uda cinta produk dalam negeri sedangkan pemerintahnya sendiri tidak mendukung. yaa, sulit memang.
      • Anjar Dr 2 bulan yang lalu
        memang sulit ples rumit sisan,
      • Fuad 2 bulan yang lalu
        presiden mau pergi keluar negeri pake CN 235? berapa kali harus isi bensin mas?, mau buat pesawat yang lebih gedean + canggihan butuh berapa lama buatnya? uang untuk beli pesawat yang sekarang aja mungkin hanya cukup untuk risetnya...
      • 08158975858 2 bulan yang lalu
        itu kan sologan SBY dan pemerintah itu hanya berlaku buat rakyat menengah kebawa taaaau
    • Johan  •  2 bulan yang lalu
      tidak asik beli,bikin sendiri donk.......!!!! itu baru bikin bangga......
    • Azim  •  2 bulan yang lalu
      menurutku sih boleh aja komentar atau saran kalo beli pesawat gak bagus dan tidak nyelesaikan masalah. tapi ada etika juga dong ngomong tentang pemimpin. komentarnya njelek2kin presiden semua. Tiap ada berita pasti kebanyakan komentar buruk + kadang ada cacian juga. kalau menurut ku sih, sebagai tetangga orang2 miskin, kita yang harus duluan bertindak menuntaskan kemiskinan di daerah kita, jangan cuma menghina pemerintah terus. Gak ada hasilnya. Kalo memang pemerintah gak bagus, silakan jadi pemerintah yang bagus. itu baru cinta Indonesia.
      • tjah_nganjuk 2 bulan yang lalu
        kalau rakyat gk menjelek2kan,gk mencaci pemerintah maka pemerintah gk merasa jika diri nya melakukan kesalahan terhadap rakyat nya.........
      • Raditya 2 bulan yang lalu
        @azim....semua udah terbukti bro,,,,pemerintah'nya bobrok semua...
        gmn orang miskin bertindak dluan,,klo duit rakyat'nya pada di colongin semua.....
      • mang De 2 bulan yang lalu
        kalo menurut saya silakan beli pesawat sepanjang perhitungannya lebih efisien daripada sewa and sewa tapi semua proyeknya harus transparan......nah soal tikus tikus berdasi harus terus dibrantas pantang mundur.........................
    • Alphonse  •  2 bulan yang lalu
      Ya semua memang ada konsekuensinya. Tapi tentunya ada rasa "bangga" kalo pake pesawat sendiri. Terserah mau kasih alasan apapun, hal itu tetap akan ada. gak ada salahnya beli pesawat. atau bangun infrastruktur juga oke. selama memang hal itu dirasa bisa mambantu "membangun negri"

      ya... bangun dikit2 jg gpp lah dari pada gak di bangun....
      • wong 2 bulan yang lalu
        bangun korupsinya maksud loo.
      • elef 2 bulan yang lalu
        Orang kok gak bisa menghargai pemimpinnya...bacot loe busuk Andry..
      • Adit 2 bulan yang lalu
        menurut gua sih pemimpin sekarang otak nya kemewahan terus yg di pikir kan sedang kan rakyat indonesia masih banyak yg hidup susah sok mau nyaingin america ngaca dong setan sby
    • Dody  •  2 bulan yang lalu
      SBY???yassalam...,memang benar2 soo.. slow bimbang youdontknow
      kpn kita pnya pemimpin sprti Umar bin khattab, paling tdk mendekati lah
      ato sprti napoleon, hitler (positiv side) yg sngt ambisius mnjadikn negaranya digdaya pdhl mereka sndiri aj miskin
    • Mahyuddin  •  3 bulan yang lalu
      Ya, itu berbagai alasan yang mempertimbangkan kenapa harus beli pesawat untuk traveling presiden, dari untung rugi menurut kos dan pembelian. Sepintas memang tidak ada sisi lain yang mungkin dapat dijadikan pertimbangkan, barangkali kita tidak tahu pada sisi lain mungkin para petinggi negara mempertimbangkan dari sudut sekuritinya (sekuriti informasi maupun keamanan perjalanan) berapa kos yang akan ditanggung bila menggunakan pesawat sendiri atau menggunakan pesawat sewa. Dalam hal-hal tertentu, informasi perjalanan presiden jauh lebih penting dari nilai sebenar sebuah pesawat, belum lagi informasi strategi dan kontrol terhadap negara yang mungkin diadakan di dalam pesawat sewaktu terbang, jadi pesawat khusus kepresidenan memanglah harus dilengkapi dengan berbagai saluran inforasi yang memiliki sekuriti tinggi yang tidak dapat diperoleh menggunakan pesawat carteran.
    • Tri Setyo Wijanarko  •  2 bulan yang lalu
      Pada tau nggak sih kalau pesawat Garuda disewa presiden itu jadwal Garuda ancur-ancuran.. Gimana nggak, pesawat jadwalnya padet semua terutama untuk pesawat berbadan lebar (jarak jauh) yang jumlahnya cuma segelintir.. Penumpang yang sudah membeli tiket juga kena imbas delay ataupun reschedule waktu keberangkatan. kalau udah gini yang dirugiin siapa? penumpang! terus yang membayar ganti rugi ke penumpang siapa? bukan garuda, tapi sudah ditanggung pemerintah selaku penyewa pesawat.. otomatis biaya sewa juga nggak murah.. Sewa pesawat Garuda sih boleh, asal penumpang tidak dirugikan dengan delay, retime, reschedule dan sejenisnya.. itu sih concern saya..
    • Zulfan  •  3 bulan yang lalu
      Paling tidak nanti bisa muncul di buku sejarah di tingkat SD atau SMP sebagai tambahan sejarah, bahwa pada masa sby sebagai presiden Indonesia bisa membeli pesawat kepresidenan, hehehehehehe
    • Doniez Ahonk  •  2 bulan yang lalu
      Kadang kita harus berpikir terbuka.. ini bukan jaman dulu yang bermodalkan bambu runcing. terus teriak merdeka. kenyataannya kita harus memakai pesawat dari luar dan harus diterima.. tidak usah dipermasalahkan lagi dan sok pinter.
      mungkin penulis dari yahoo orang kaya yang dari dulu adalah seorang anak yang udah ketenteng naik mobil.. coba tanyakan kepada seseorang yang pernah berusaha dari O naik sepeda keliling kampung dan sekarang naik mobil kesna kesini karna kesuksesannya. .tanyakan pada mereka apakah presiden harus membeli pesawat.. saya yakin jawabannya presiden harus memiliki peswat pribadi jika mampu membelinya. ini bukan masalah kebanggaan atau semacamnya.. ini hanya masalah saatnya presiden indonesia memiliki pesawat. terimakasih buat Yahoo.
    • Solihin  •  2 bulan yang lalu
      Yang butuh tuh pesawat bukan SBY, lagian klo pesawat jadi SBY juga dah lengser, yang butuh tuh Negara..
      Jangan bilang kamu miskin, jumlah kendaraan bermotor di Indonesia ini udah lebih dri jumlah penduduk, hampir semua orang indonesia yg dewasa punya HP, tiap keluarga punya TV.. nggak kekurangan makan dst.
      Tapi klo mau dicari orang yang busung lapar dan orang jompo yang sakit2an ya pasti ada. Dan itulah yang di Expose di media (Kenapa?) itu kan manufer politik.. dimana TV berita adalah milik Aburizal dan Paloh, sedangkan pemilik TV yang non partisan adalah Pieter Gonta SCTV dan RCTI.... .
      Artinya Manufer politik seperti men deskreditkan pemerintah nggak usah terlalu didengar lah.
      Klo pemerintah sukses, itu adalah yang diharapkan semua rakyat, tapi itu adalah malapetaka bagi partai yang nggak berkuasa karena sudah dapat dpastikan bahwa partai tersebut menjadi kesulitan dalam mendulang suara pada periode yad..
      Suksesnya KPK juga tergantung dengan dukungan semua pihak... jadi ya ayo kita dukung pemerintah dan dukung KPK .
      Klo DPR kan berbicaranya tergantung arah angin aja...............
    • Arjo Suwaryo  •  2 bulan yang lalu
      Kalau dalam konteks Leasing, memang ada perhitungan biaya antara membeli dengan leasing dengan mempresenvaluekan antara present value kalau membeli dengan presen value kalau menyewa (Leasing) Pilihan pada Present value yang lebih rendah. Rupanya pembelian pesawat ini lebih berargumen tentang politik gengsi suatu pemerintahan perasaan bangga sebagai pemimpin, tetapi lupa diperhitungkan opportunity cost yang harus ditanggung, atau opportunity return yang hilang.
      Akan tetapi semuanya sudah terjadi mekanisme persetujuan sudah diperoleh dari pihak yang berwewenang, rakyat kecil hanya bisa meratap dengan nasib keseharian yang semakin sulit. Semoga Indonesia akan menjadi lebih baik.
    • JUNI  •  2 bulan yang lalu
      beli pesawat mahal, canggih & secure untuk kepentingan kepala negara kita tidak ada salah nya, asal tujuan nya tepat & dibeli dgn harga transparan, tidak korupsi dll.. Dengan transparan nya pemerintah kita & kesejahteraan masyarakat indonesia sdh dapat otomatis mencerminkan kepribadian yg unggul & bergengsi di mata negara lain.. jika ternyata di beli dari hasil keringat rakyat hanya tuk kenikmatan sepihak maka akan mencerminkan pemerintahan yg buruk dimata masyarakat bangsa & dunia.
    • Anton Regi  •  2 bulan yang lalu
      Saya tidak melihat pembelian pesawat presiden dari untung dan ruginya tapi bahwa suatu kebanggaan, prestise sebuah negara. Lagipula bila menyewa pesawat komersial perlu waktu dan negosiasi dan bisa juga kena calo atau dikorup lagi. Yang penting pengadaan transparan jangan dikorup lagi dananya.
    • Edane  •  3 bulan yang lalu
      Yakin nih bapak - bapak pejabat ngak dapat fee dari pihak boeing... kenapa harus beli boeing pak? apa ngak ada pabrikan lain.. PT.DI cuma bisa bikin panci mungkin ya.
      betul juga pendapat yang lain yang penting gengsi dulu.. masa pemimpin negara yang penduduk miskin naik pesawat carteran terus.. biar miskin asal sombong.. hidup miskin
    • seppi  •  2 bulan yang lalu
      iya menurut ane sich semua komentar diatas benar dan baik, tapi idealis anda lah yang salah, jangan kan kepala negara, anda sendiri pun mungkin kalo bisa berpikir jernih pasti lebih memilih kemana2 pakai kendaraan sendiri daripada sewa,(kecuali pake busway), dan pilot,mantanece dan apalah q gk ngerti tu ngapain dipikirin, kan pasti disiapkan, diambilkan dari paspampres kan jg ada mreka smwa multifungsi dan bisa diandalkan...
      karena pesawat kepresidenan isinya pasti mreka2 juga yg kawal n jaga...
      low untung or rugi? gk da ruginya kaliek, apalagi PT.DI yg low dikasih kepercayaan bikin, tp low beli, toh juga gk hnya buat periode ini ja tp selama masih bisa dgunakan akan dpakai presiden selanjutnya n yang pastinya keamanan, keselamatan presiden kita siapapun itu hrus terjamin kan...!!!
      ya, transparan n produk nasional alangkah bangganya jadi bangsa besar INDONESIA...
    • sapto  •  2 bulan yang lalu
      Di Indonesia ada ribuan profesor
      Di Indonesia ada ribuan hektar tambang aneka macam
      Kenapa hanya buat 1 pesawat saja tidak di usahakan
      Bukankah jika kita bisa buat 1 pesawat saja akan Lebih menguntungkan,

      Jadi ajang promosi budaya, teknoLogi, hankam, industri?
    • Yuddy TH Achsan  •  2 bulan yang lalu
      Orang Indonesia ternyata punya kelebihan sifat khas; yakni: NYINYIR.....
    • Sulthoni  •  2 bulan yang lalu
      Ngapain capek2 mikirin masalah perbandingan antara beli atau sewa, ...... mau debat, bantah-bantahan, sampek kelahi sampek babak belur bahkan sampek pertumpahan darah toh pesawat juga udah dibeli ....... mBok biarin ajah, ..... Gitu aja kok repot !!

    Blog

    POLL

    Menurut Anda, apakah penahanan Angelina Sondakh akan berhasil mengungkap kasus korupsi anggaran Wisma Atlet?

    Memuat...
    Opsi Pilihan Jajak Pendapat