Jakarta (ANTARA) - Komitmen pemerintah untuk memperluas dan meningkatkan swasembada pangan akan menjadikan sektor pertanian sebagai roda penggerak pertumbuhan ekonomi pada 2013, kata Kepala Badan Pusat Statistik Suryamin.
"Pemerintah sudah berkomitmen untuk memperluas dan meningkatkan swasembada pangan, ini adalah peluang sektor pertanian untuk ikut andil dalam menggerakkan pertumbuhan tahun depan," kata Suryamin di Jakarta usai mengikuti `Open House` di rumah dinas Menteri PPPN/Kepala Bappenas, Jakarta, Senin.
Ia menjelaskan, untuk 2014, pemerintah memiliki target untuk mewujudkan surplus cadangan beras sebesar 10 juta ton. Hal ini tentunya akan menjadi pemicu bagi sektor pertanian untuk meningkatkan kapasitas produksinya.
"Tentunya, semua itu mempunyai nilai tambah ke pertumbuhan ekonomi kita ke depan," tuturnya.
Sebelumnya, Menteri Negara PPN/Kepala Bappenas Armida Alisjahbana mengatakan sektor pertanian menjadi salah satu pendukung optimisme pertumbuhan ekonomi pada Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2013 yang ditargetkan 6,8 persen.
"Jadi kira-kira kalau dari sektoral, kuncinya tahun depan itu pertanian, kemudian industri pengolahan, dengan asumsi yang lain bisa momentumnya seperti sekarang," kata Armida.
Menurut Armida dari sisi produksi, sektor pertanian menyumbang 3,7 persen pertumbuhan ekonomi pada triwulan kedua 2012 sebesar 6,4 persen.
Oleh karena itu, dengan program menuju surplus beras 10 juta ton di 2014, pemerintah merancang RAPBN dan Rencana Kerja Pemerintah (RKP) 2013 dengan memprioritaskan sektor pertanian, termasuk Infrastruktur mendukung pertahanan pangan seperti benih dan pupuk.
"Pemerintah berharap, pertanian sebagai sektor kunci dapat mempertahankan momentumnya seperti pada tahun 2012," ujarnya.
Pemerintah menetapkan asumsi pertumbuhan ekonomi pada RAPBN 2013 sebesar 6,8 persen atau lebih tinggi dibanding asumsi pertumbuhan ekonomi di APBN Perubahan 2012 sebesar 6,5 persen.
Selain pertumbuhan ekonomi, Pemerintah menetapkan asumsi laju inflasi 4,9 persen, suku bunga Surat Perbendaharaan Negara (SPN) 3 bulan 5 persen, nilai tukar rupiah Rp9.300 per dolar AS, harga minyak 100 dolar AS per barel dan "lifting" minyak 900.000 barel per hari.
Selain keenam asumsi ekonomi makro tadi, mulai RAPBN tahun 2013, Pemerintah juga akan menggunakan "lifting" gas, sebagai salah satu basis perhitungan penerimaan negara yang berasal dari sumber daya alam selain minyak mentah yaitu berada pada kisaran 1,36 juta barel setara minyak per hari. (tp)


