Damaskus (AFP/ANTARA) - Utusan perdamaian Suriah, Lakhdar Brahimi, memanggil kedua belah pihak untuk melakukan gencatan senjata terhadap konflik saat liburan Muslim pekan ini, setelah pembicaraan dengan Presiden Suriah, Bashar al-Assad, saat ledakan mengguncang Damaskus.
Permohonan tersebut muncul saat ribuan orang berdemonstrasi terhadap rezim Suriah di pemakaman kepala intelijen tinggi polisi Lebanon di Beirut, yang meninggal dalam sebuah pengebomam mobil dan oposisi menyalahkan negara tetangganya atas kejadian tersebut.
Di ibu kota Suriah, sebuah bom meledak di luar sebuah kantor polisi, di permukima umat Kristen, Kota Tua, yang menewaskan 13 orang, lapor kantor berita SANA, menyalahkan para pemberontak.
Ini merupakan serangan pertama semacam itu terhadap permukiman umat Kristen sejak pemberontakan terhadap rezim Assad terjadi pada 19 bulan yang lalu.
“Ledakan tersebut sangat kuat sehingga rumah saya, sejauh satu kilometer, berguncang,” ujar salah seorang penduduk kepada AFP.
Banyak warga Kristen Suriah, yang berjumlah lima persen dari populasi penduduk yang sebagian besar merupakan umat Muslim Sunni, mengkhawatirkan pemberontakan tersebut akan memicu sebuah reaksi buruk dari kelompok Islamis terhadap komunitas mereka.
Pengeboman tersebut dilakukan saat utusan Liga Arab-PBB, Brahimi, mengimbau gencatan senjata “secara sepihak” dengan rezim dan pemberontak saat Idul Adha, atau Hari Raya Kurban, yang mulai pada Jumat.
“Saya meminta semua orang untuk mengambil keputusan secara sepihak untuk menakhiri pertikaian dalam kesempatan Idul Adha, dan bahwa gencatan senjata ini harus dihormati mulai hari ini atau besok,” ujarnya.
“Ini merupakan imbauan bagi warga Suriah, di jalan, di desa, yang bertempur dalam tentara reguler dan lawan-lawannya, untuk mereka mengambil keputusan sepihak dalam menghentikan pertikaian tersebut.”
Meskipun dia menekankan bahwa gencatan senjata mengimbau inisiatif personal, kepala PBB Ban Ki-moon dan kepala Liga Arab, Nabil al-Arabi juga mendukung inisiatif tersebut.
Brahimi mengatakan bahwa dia menghubungi para pemimpin politik oposisi di dalam dan di luar Suriah serta kelompok-kelompok bersenjata di negara. “Kami menemukan mereka menjadi sangat menguntungkan” untuk gencatan senjata ini, ujarnya.
“Kami akan kembali ke Suriah setelah Idul Adha dan jika keadaan tenang selama perayaan, kami akan terus mengupayakan” penyelesaian konflik tersebut, tambahnya.
Assad, saat bertemu dengan Brahimi, mengatakan bahwa dia “terbuka untuk berbagai upaya yang tulus dalam menemukan sebuah solusi politik terhadap krisis dengan menghargai kedaulatan Suriah dan menolak intervensi asing,” lapor SANA. (dh/ml)

