TEMPO.CO, Jakarta -PT Bank Bukopin Tbk menurunkan rasio pembayaran dividen untuk tahun buku 2011. Penurunan rasio dividen itu disebabkan oleh meningkatnya laba bersih perusahaan pada tahun lalu sebesar Rp 738 miliar.
"Kami membagikan dividen 30 persen dari total laba bersih tahun lalu sekitar Rp 738 miliar," ujar Direktur Utama Bukopin, Glen Glenardi, usai Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan Bukopin di kantornya, Kamis, 24 Mei 2012.
Berarti, sekitar Rp 221,4 miliar dividen akan dibagikan pada tahun ini. Menurut Glen, jumlah itu setara dengan nilai nominal Rp 27 per saham. Pembagian dividen ini akan dibagikan maksimal 4 Juli mendatang.
Pembagian dividen itu, menurutnya, akan dibagi setelah pembagian management stock option plan (MSOP) dilakukan. Saat ini sekitar 90 persen MSOP telah dibagikan. Namun masih tersisa 10 persen atau sekitar 25 juta lembar saham lagi yang belum dibagikan untuk MSOP. "Kalau dari keseluruhan saham, persentase MSOP ini kecil sekali," ujarnya.
Glen mengatakan rasio dividen menurun dibandingkan rasio dividen pada tahun buku 2010 yang mencapai 35 persen dari laba bersih sebesar Rp 493 miliar. Selain karena peningkatan laba bersih, penurunan rasio dividen juga karena keinginan pemegang saham yang mayoritas merupakan kelompok koperasi.
Penurunan dividen ini, menurut dia, masih dianggap positif. Karena pembagian dividen digunakan untuk mendukung pengembangan usaha koperasi. Namun perusahaan menginginkan ke depannya rasio pembayaran dividen dapat berkurang. "Kami inginnya rasio dividen 15-20 persen dari laba bersih," ujarnya.
Sisa dari laba bersih 2011 sekitar Rp 516,6 miliar, kata Glen, seluruhnya akan digunakan untuk modal kerja. Bukopin berencana melakukan ekspansi tahun ini. Namun Glen tidak menyebutkan ke mana saja ekspansi yang akan dilakukan perusahaan.
Dia menjelaskan, hingga akhir tahun ini perusahaan akan bertumbuh seiring dengan pertumbuhan industri perbankan nasional. Meski ingin melakukan ekspansi, menurutnya, perbankan saat ini juga mesti bersiap-siap apabila kondisi ekonomi dunia semakin memburuk. Apalagi saat ini Yunani dikabarkan bakal keluar dari zona Euro. "Kami bakal tumbuh dengan rata-rata 20 hingga 25 persen," katanya.
SUTJI DECILYA


