Jakarta (ANTARA) - Cadangan devisa Indonesia per 31 Oktober 2012 mencapai 110,30 miliar dolar AS atau naik 0,13 miliar dolar dibanding posisi akhir September 2012 sebesar 110,17 miliar dolar.
Laporan Perkembangan Besaran Moneter Bank Indonesia (BI) yang diterima di Jakarta, Kamis, menyebutkan penghitungan posisi cadangan devisa itu menggunakan konsep "International Reserve and Foreign Currency Liquidity (IRFCL)" atas dasar harga berlaku dengan "format official reserve asset (ORA)".
Cadangan devisa merupakan posisi bersih aktiva luar negeri pemerintah dan bank-bank devisa, yang harus dipelihara untuk keperluan transaksi internasional. Devisa diperlukan untuk membiayai impor dan membayar utang luar negeri.
Pengelolaan itu dilakukan dengan melalui berbagai jenis transaksi devisa yaitu menjual, membeli, dan atau menempatkan devisa, emas dan surat-surat berharga secara tunai atau berjangka termasuk pemberian pinjaman.
Angka cadangan devisa yang dilaporkan tersebut hanya menggunakan konsep IRFCL yang merupakan standar pelaporan secara internasional. Dalam konsep IRFCL, hanya aset yang tergolong likuid yang diperhitungkan sebagai komponen cadangan dan penilaiannya menggunakan kurs yang berlaku saat tanggal pelaporan.
Laporan Perkembangan Besaran Moneter BI itu juga menyebutkan posisi uang primer per 31 Oktober 2012 sebesar Rp648,11 triliun naik dibanding posisi 28 September 2012 sebesar Rp638,87 triliun.
Jumlah tersebut antara lain terdiri atas uang kertas dan uang logam yang diedarkan sebesar Rp392,12 triliun dibanding akhir September 2012 sebesar Rp384,84 triliun. Selain itu saldo giro bank pada BI sebesar Rp222,13 triliun dibanding akhir September 2012 sebesar Rp219,87 triliun.(rr)

