Cegah Defisit Bengkak: Ekonom: Perbaiki Manajemen Likuiditas APBN

  • Edan, 32 Partai Dukung Pencalonan Pakde Karwo  

    Edan, 32 Partai Dukung Pencalonan Pakde Karwo  

    Tempo
    Edan, 32 Partai Dukung Pencalonan Pakde Karwo  

    TEMPO.CO,  Surabaya-Calon gubernur incumbent Soekarwo benar-benar menyikat habis semua partai politik. Tercatat sebanyak 32 partai politik dirangkulnya untuk mendukung pasangan Soekarwo-Saifullah Yusuf (Karsa) Jilid II 2013-2014.

  • Pengamat: Kementerian Pertanian Harus Limpahkan Riph FTZ

    Antara

    Batam (ANTARA) - Kementerian Pertanian harus melimpahkan kewenangan perizinan rekomendasi impor produk hortikultura untuk Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Batam, Bintan, dan Karimun ke Dewan FTZ, kata seorang pengamat. "FTZ tidak terkena kuota nasional. Menteri Pertanian tidak berhak mengatur daerah non-pabean," kata pengamat kawasan perdagangan bebas Harry Azhar Azis di Batam, Minggu. Dewan FTZ bersama Badan Pengusahaan Batam berupaya meminta pengalihan kewenangan penerbitan RIPH

  • Produksi Susu Lokal Menurun

    Produksi Susu Lokal Menurun

    Tempo
    Produksi Susu Lokal Menurun

    TEMPO.CO, Jakarta -Ketua Dewan Persusuan Nasional, Teguh Boediyana mengatakan tahun 2013 ini persentase susu segar untuk memasok kebutuhan nasional diyakini menurun dibandingkan tahun 2012. Prooduksi susu segar di tahaun 2103 diperkirakan turun sekitar 10 -15 persen.

 

INILAH.COM, Jakarta - Pemerintah harus segera memperbaiki manajemen likuiditas APBN, agar defisit anggaran tidak terjadi akibat anggaran digerogoti subsidi dan belanja pegawai. 

Berdasarkan data Kementerian Keuangan, per semester I 2012 penerimaan negara Rp592,6 triliun. Sementara realisasi belanja negara pada periode tersebut Rp629,4 triliun. Dengan demikian pemerintah mengalami defisit anggaran sebesar Rp36,1 triliun. Sedangkan defisit anggaran hingga akhir tahun 2012 diperkirakan mencapai Rp190,8 triliun atau 2,3% dari PDB.

Ekonom Drajad Wibowo menilai, meningkatnya defisit akan mendorong pemerintah untuk semakin gencar menerbitkan surat utang negara dengan imbal hasil yang mahal. 

"Defisit menunjukkan manajemen likuiditas APBN Kemenkeu harus diperbaiki. Mismatch bulanan antara penerimaan versus belanja APBN harus diperkecil. Jika tidak, nanti negara harus banyak terbitkan T-bills (surat utang negara) dengan bunga atau yield yang mahal, guna menutupi bolongnya likuiditas," paparnya kepada INILAH.COM di Jakarta, Sabtu (7/7/2012). 

Defisit tersebut terutama disumbang dari realisasi belanja pegawai sebesar Rp104,1 triliun dan belanja subsidi sebesar Rp134,7 triliun, per semester I 2012. 

Menurutnya, pemerintah harus memangkas pos-pos belanja APBN yang kerap 'dipermainkan' (mark up), dan membatalkan pos-pos yang kira-kira tidak mendesak. "Tapi solusi ini hanya dilakukan, jika penerimaan negara benar-benar melemah karena krisis euro," tuturnya. 

Rencananya, pemerintah akan menutup defisit tersebut dengan menggunakan pembiayaan anggaran, yang berasal dari pembiayaan dalam negeri Rp199,9 triliun dan pembiayaan luar negeri Rp9,1 triliun (netto). Namun menurut Drajad langkah tersebut malah bisa berdampak negatif bagi anggaran dalam jangka panjang. 

"Kalau dari pinjaman, apalagi bonds (surat utang), ya bakal kemahalan karena investor sekarang meminta bunga, kupon atau yield (imbal hasil) lebih tinggi sebagai akibat krisis eurozone," tuturnya. [ast]

 

 

PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.

POLL

Apakah Anda percaya pengerjaan proyek MRT yang sudah resmi dimulai akan berjalan tepat waktu sesuai rencana?

Memuat...
Opsi Pilihan Jajak Pendapat