Beijing (AFP/ANTARA) - China mengatakan bahwa pihaknya tidak akan menghadiri pertemuan "Friends of Syria" di Paris yang bertujuan untuk mengkoordinasikan upaya-upaya Barat dan Arab untuk menghentikan kekerasan di negara tersebut.
"(China) saat ini tidak mempertimbangkan untuk menghadiri pertemuan tersebut," kata juru bicara kementerian luar negeri China Liu Weimin kepada wartawan ketika ditanya tentang undangan Prancis untuk terlibat dalam acara yang dijadwalkan akan digelar pada Jumat tersebut.
Pertemuan di Paris itu menindaklanjuti pertemuan di Tunisia pada Februari dan di Istanbul pada April. Kedua pertemuan itu dianggap sia-sia karena gagal menghasilkan tanggapan lebih keras terhadap pemerintah Presiden Suriah Bashar al-Assad.
Amerika Serikat, Prancis, Inggris, Jerman, bersama dengan negara Arab, Qatar dan Arab Saudi, adalah pemimpin dari "Friends of Suriah".
Kelompok itu memiliki lebih dari 60 anggota, termasuk sebagian besar negara Uni Eropa dan banyak negara-negara Liga Arab.
Tapi Rusia, sekutu lama dari rezim Assad, mengatakan bahwa mereka akan menjauh dari pertemuan Paris setelah menuduh Barat berusaha untuk menyimpangkan kesepakatan akhir pekan oleh kekuatan dunia di Jenewa yang bertujuan untuk tercapainya transisi kekuasaan.
China mendukung Rusia di Jenewa yang bersikeras bahwa rakyat Suriah harus memutuskan bagaimana transisi harus dilakukan, daripada membiarkan orang lain mendikte nasib mereka, dan tidak membiarkan Assad tetap berkuasa.
Kekuatan Barat mengatakan bahwa Assad tidak harus menjadi bagian dari persatuan pemerintah baru apapun.
China tidak menghadiri dua pertemuan "Friends of Syria" sebelumnya.
Pertempuran di Suriah telah meningkat dalam beberapa pekan terakhir karena pemerintah dan pasukan oposisi telah menerima lebih banyak senjata dari pendukung asing. Pengawas mengatakan bahwa konflik telah menewaskan lebih dari 16.500 orang sejak Maret tahun lalu. (jk/ik)

