Jakarta (ANTARA) - Citibank Indonesia menargetkan pertumbuhan nasabah prioritas dalam layanan Citigold sebesar 15 persen hingga akhir tahun, seiring telah dicabutnya sanksi menjaring nasabah baru pada layanan tersebut oleh Bank Indonesia, pada Mei 2012 silam.
"Kami tidak bisa memberitahukan pertumbuhan nasabah sejak sanksi dicabut, tetapi kami menargetkan pertumbuhan nasabah Citigold sebesar 15 persen hingga akhir tahun," kata Country Business Manager, Global Consumer Group, Citi Indonesia, Joel Kornreich di Jakarta, Selasa.
Dia mengatakan, pihaknya akan terus menjaga prinsip kehati-hatian dalam menjajakan layanan Citigold. Salah satu upayanya dengan memberikan beberapa pertanyaan kepada nasabah baru yang mengajukan membuka layanan Citigold.
"Kami ajukan beberapa pertanyaan kepada nasabah, karena kami ingin tahu pengalaman atau pengetahuan mereka tentang produk ini. Jika mereka belum memiliki pengalaman, kami akan menjelaskannya, lalu memberikan beberapa rekomendasi terkait pengalokasian asetnya serta risiko-risikonya, termasuk memberikan rekomendasi produk investasi yang cocok," kata Joel.
Sebelumnya, pada 2011, Citibank Indonesia dilarang menambah nasabah baru pada layanan Citigold-nya. Hal ini sebagai imbas pembobolan dana nasabah prioritas Citibank oleh oknum Senior Manager bank tersebut, yang bernama Malinda Dee.
Hingga saat ini menurut dia, layanan nasabah prioritas Citibank masuk dalam jajaran lima besar di Indonesia dan diharapkan bisa terus meningkat masuk dalam posisi dua besar.
Sementara itu Retail Bank Head Citi Indonesia, Gary L McQuain mengatakan saat ini layanan nasabah prioritas atau wealth management Citibank, termasuk di dalamnya Citigold, berkontribusi sebesar 55 persen bagi perusahaan.(ar)


