TEMPO.CO, Jakarta - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono bercerita mengenai film Crocodile Dundee dan Australia yang menggambarkan situasi negara ini. SBY menyampaikan hal tersebut dalam acara makan siang bersama di Darwin, Selasa 3 Juli 2012. "Banyak orang Indonesia penggemar film Australia yang dibintangi Hugh Jackman dan Nicole Kidman, serta film Crocodile Dundee yang dibintangi Paul Hogan,” kata Presiden.
SBY menyatakan, dua film ini menunjukkan keindahan alam dan fauna di Australia. Film ini juga menunjukkan semangat orang-orang Australia Utara yang memiliki semangat juang,
kebebasan, dan optimisme. Hal ini, menurut SBY, adalah roh yang dibutuhkan untuk memajukan dalam kerja sama antara Australia dan Indonesia.
Crocodile Dundee adalah sebuah film Amerika Serikat dan Australia yang dirilis pada 1986. Film yang disutradarai oleh Peter Faiman ini diyakini telah mendongkrak jumlah wisatawan dari Amerika ke Australia pada 1987.
Film Australia juga menggambarkan situasi di Australia. Film ini menceritakan keluarga pemilik 2.000 ternak sapi yang harus menggiring ribuan ternaknya dari Faraway Downs ke Darwin yang letaknya ratusan kilometer. Keluarga ini harus berjuang untuk menjual ternak tersebut ke tentara Inggris yang kekurangan logistik dalam perang dunia ketiga sebelum terjadi invasi tentara Jepang.
Selain akrabnya dengan dua film tersebut, SBY menyatakan, Australia Utara memiliki kedekatan interaksi sosial dan geografi dengan Indonesia Timur. Peningkatan interaksi juga nampak pada semakin banyaknya masyarakat Australia yang tinggal di Bali dan Lombok. Demikian juga, masyarakat Indonesia menjadi komunitas yang cukup besar sebagai pendatang di wilayah utara Australia.
Australia sendiri, menurut SBY, pada 2011 menempati urutan ke-14 investor terbesar di Indonesia. Dengan peningkatan kerja sama ekonomi, diharapkan Australia dapat menjadi 10 negara investor terbesar. Demikian juga, dengan perusahaan-perusahan Indonesia di Australia.
Australia dan Indonesia, menurut SBY, merupakan dua negara yang secara signifikan memberikan kontribusi pada pertumbuhan ekonomi global. Kombinasi Produk Domestik Bruto yang lebih dari US$ 2 miliar menempatkan keduanya pada posisi ekonomi terbesar ke-18 di dunia dan menjadi anggota G-20.
SBY menyatakan, ekonomi di Indonesia tetap positif di tengah situasi suram ekonomi dunia. Dalam waktu lima tahun terakhir, dinamika masyarakat dan bisnis Indonesia-Australia telah mendorong perdagangan dan investari hingga 11,3 persen, contohnya pada 2011 mencapai US$ 10,76 triliun.
Pembangunan dan kerja sama ekonomi dua negara untuk mewujudkan pertumbuhan ekonomi kuat jangka panjang, menurut SBY, juga didukung dengan kombinasi faktor internal dan eksternal. Secara internal, masyarakat dua negara memiliki peningkatan usia produktif. Selain itu masyarakat juga semakin cepat untuk mengadopsi teknologi dan inovasi.
»Secara eksternal, Indonesia dan Australia dapat mengantisipasi pertumbuhan ekonomi regional dan dunia, seperti penguatan ekonomi Amerika Serikat dan pemulihan zona Eropa,” kata SBY.
FRANSISCO ROSARIANS



Yahoo! OMG